Sabtu, Mei 18, 2024
BerandaBulelengSembilan Subak di Sudaji Keluhkan Pendangkalan Irigasi

Sembilan Subak di Sudaji Keluhkan Pendangkalan Irigasi

Singaraja, balipuspanews.com — Sembilan subak di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng mengeluhkan kondisi irigasi yang mengalami pendangkalan cukup parah.

Pantauan di lokasi, pendangkalan akibat ‘waled’ (tumpukan lumpur) bercampur material batu kerikil dan pasir, mengakibatkan debit air irigasi naik, merendam jalan setapak sepanjang 50 meter.

Praktis, jalan setapak merupakan jalur alternatif masyarakat di Banjar Ceblong, Desa Sudaji itupun tak bisa dilalui.

Selain itu, muncul kekhawatiran di masyarakat, pendangkalan di saluran irigasi tersier berhulu di Bendungan Penarukan (Gandameru) berpotensi merendam areal persawahan, dan sejumlah rumah, terutama saat musim penghujan.

Kepala Dusun (Kadus) Ceblong, Made Sudama tak menampik, pendangkalan saluran irigasi di Banjar Ceblong dikeluhkan masyarakat, juga sembilan subak memanfaatkan langsung saluran irigasi tersebut.

Kadus Sudama merinci, sembilan subak memanfaatkan air saluran irigasi berhulu di Bendungan Penarukan (Gandameru) diantaranya, Subak Munduk Kangin, Subak Teheb, Subak Rarangan, Subak Dukuh Nem, Subak Juwuk, Subak Getih, Subak Mayungan Gede, Subak Mayungan Pitu, dan Subak Mayungan Pungakan.

Menurutnya, tak maksimalnya fungsi saluran irigasi di daerahnya sudah berlangsung lama, dipicu adanya penumpukan batu kerikil dan pasir, pasca banjir bandang di tahun 2012 lalu. Dimana, pendangkalan terjadi di dua titik, yakni pada pintu Bendungan Penarukan dan juga saluran irigasi subak.

BACA :  Rem Blong di Jalur Tigawasa-Lovina, WNA Inggris Meninggal Dunia

Tak pelak, penumpukan material batu kerikil dan pasir berimbas pada debit air. Pun, dengan kedalaman saluran irigasi, dimana kedalaman normal 1,5 meter, kini kedalamannya tidak sampai setengah meter.

Kini, pihaknya dihadapkan pada dua kondisi buruk. Pertama, pendangkalan irigasi mengakibatkan debit air naik (meluap), hingga jalan setapak merupakan akses jalan alternatif dengan lebar 1 meter terendam air. Bahkan, jika musim hujan tiba, kondisi itu dikhawatirkan berpotensi akan merendam areal persawahan dan sejumlah rumah penduduk yang berada di sekitar saluran irigasi.

Kedua, pendangkalan berimbas pada menurunnya debit air pada saluran irigasi, terjadi setiap musim kemarau.

Melihat kenyataan itu, pihaknya sudah berulangkali melakukan pengerukan dengan mengerahkan masyarakat dan juga sejumlah anggota subak dengan sistem gotong-royong.

“Paling susah, mengangkat tumpukan batu kerikil, mengendap sedalam hampir 1 meter. Kalau surut, kami adakan gotong royong dengan peralatan seadanya. Surutnya gantian, 5 hari sekali. 5 hari surut, 5 hari saluran air dibuka kembali. Ya gitu, debit air tidak normal. Tumpukan material itu (batu kerikil dan pasir) ada di dua lokasi, pintu bendungan dan saluran irigasi sepanjang 50 meter. Sudah berulangkali dikeruk, namun sia-sia. Kalah tenaga, karena tumpukan material batu kerikil mengendap dalam sekali,” ungkap Kadus Sudama, Jumat (31/8).

BACA :  Waduh, 4 Bulan Terakhir Laporan Kejahatan Terhadap Anak di Buleleng Capai Belasan

Imbuh Kadus Sudama, kondisi itupun akhinya dilaporkan ke Dinas PUPR Buleleng.

“Surat sudah kami layangkan ke PUPR Buleleng, namun belum direspon. Kalau tidak salah, suratnya sekitar 6 bulan lalu. Kami berharap tumpukan material di pintu bendungan dan saluran irigasi dikeruk menggunakan alat berat,” katanya.

Nah, pada sisi lainnya, pendangkalan saluran irigasi rupanya berdampak pada sektor pengembangan kawasan wisata Gandemeru, lantaran saluran irigasi subak dimanfaatkan oleh pelaku wisata di Desa Sudaji untuk lokasi wisata tubing.

Gede Suharsana selaku Ketua Desa Wisata Sudaji pun berharap, Pemkab Buleleng bisa mencarikan solusi terhadap pendangkalan irigasi tersebut.

Terpisah, seijin Kadis PUPR Buleleng, Kepala Bidang Sumber Daya Air, Gede Ngurah Dharma Seputra, ST., MAP membenarkan, pihaknya telah menerima surat permohonan pengerukan saluran irigasi diajukan oleh pemerintah Desa Sudaji.

“Suratnya sudah kami terima, dan sudah ditindaklanjuti dengan pengecekan ke lokasi (saluran irigasi subak). Benar, ada waled (penumpukan lumpur), material kerikil dan pasir hingga debit air naik (meluber). Namun, mohon maaf, karena irigasi subak merupakan saluran tersier, bukan tanggung jawab kami. Kewenangan pemeliharaan, menjadi tanggung jawab subak,” kata Kabid Ngurah dihubungi melalui telepon seluler.

BACA :  Overstay dan Tidak Mampu Bayar Biaya Perpanjangan, WN Rusia Dideportasi

Pihak PUPR Buleleng, sebut Kabid Ngurah, hanya memiliki tanggung jawab pada saluran induk dan saluran sekunder, termasuk pendangkalan di pintu Bendungan Penarukan (Gandameru).

Namun, minimnya dana operasional dan pemeliharaan, pihaknya mengaku belum bisa melakukan pengerukan.

“Dana operasional kami miliki saat ini tergolong kecil, dan tidak semua saluran irigasi bisa ditangani tiap tahun. Mesti kita programkan dulu dalam skala prioritas penanganan. Selain itu, kami (PUPR Buleleng) memang tidak memiliki alat berat mini eksavator,” pungkasnya.

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -
- Advertisment -
TS Poll - Loading poll ...

Most Popular