Sempat Vakum Dua Tahun, Makepung Jembrana Cup Kembali Digelar

Makepung Jembrana Cup yang berlangsung di Sirkuit Sang Hyang Cerik, Desa Tuwed Melaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Minggu (28/11/2021)
Makepung Jembrana Cup yang berlangsung di Sirkuit Sang Hyang Cerik, Desa Tuwed Melaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Minggu (28/11/2021)

JEMBRANA, balipuspanews.com-Makepung Jembrana Cup kembali di gelar setelah vakum selama dua tahun akibat pandemi Covid-19. Lomba Makepung kali ini berlangsung di Sirkuit Sang Hyang Cerik, Desa Tuwed Melaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Minggu (28/11/2021).

Selain memperebutkan piala bergilir, lomba ini juga menyertakan uang pembinaan sebesar Rp. 100 juta.

Bupati Jembrana, I Nengah Tamba mengapresiasi sekehe/kelompok mekepung karena telah mampu mempertahankan, mengajegkan atraksi budaya mekepung ini.

“Ini barang mahal, ini yang kita miliki yang selalu kita banggakan Kabupaten Jembrana,” ujarnya.

Makepung kali ini di tetap dengan menerapkan protokol yang sangat ketat.

Mulai dari sidak masker, vaksin, dan juga membuka gerai vaksin bagi penonton/pengunjung yang belum di vaksin atau vaksin masih tahap I.

Sebelum lomba ini, bupati juga sudah merapatkan dengan jajaran Forkopimda dan pejabat teknis di Kabupaten Jembrana, bagaimana cara mensiasati kegiatan lomba ini.

Baca Juga :  Sambut HUT Kemerdekaan RI, 2.074 Napi Warga Binaan Terima Remisi

Kedepan kata bupati sudah mempersiapkan arena balap mekepung yang representatif, yaitu sirkuit All in One yang akan dibangun di Pengambengan dengan sepanjang lintasan yang dapat ditonton.

“Mekepung ini adalah kebanggan kita, harus kita agungkan, kita harus jaga, kita harus bina, dan harus dilestarikan. Kalau tidak kita siapa lagi,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya merasa terenyuh atas usaha sekehe yang susah payah dan keluar biaya sendiri untuk melestarikan warisan mekepung ini.

“Saya tahu berbagai upaya mereka dari memelihara kerbau, membuat sarana mekepung, ini luar biasa dan bukan main-main, makanya kita wajib menjaga ini, dan harus dijaga sebagai atraksi budaya yang dinikmati oleh generasi penerus kita sampai bertahun-tahun ke depan. Sampai kiamatpun harus ada Mekepung ini,” tegasnya.

Baca Juga :  Ketua MPR Puji Presiden Jokowi di Sidang Tahunan

Sementara Koordinator Mekepung Kabupaten Jembrana, I Made Mara atas nama sekehe mekepung mengucapkan terima kasih kepada Bupati jembrana serta Forkopimda atas ijin dan rekomendasi kegiatan mekepung ini.

Menurutnya, selama 2 tahun vakum terjadi penurunan jumlah sekehe mekepung sampai 50%. Ini adalah ketakutan sekehe mekepung jangan sampai punah.

“Atas kecintaan bupati kepada Mekepung, kami (sekehe, red) berkarap bagaimana agar mekepung yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan leluhur Jembrana ini tidak punah dan terus ada sepanjang masa. Ini adalah kegiatan petani sebagai hiburan selepas bertani. Bagaimana petani juga bisa merasa senang dan bahagia dengan hiburan mekepung ini, “ujarnya.

Lomba mekepung ini adalah lomba bergrup/blok, dimana peserta terbagi atas Blok Ijo Gading Barat dan Blok Ijo Gading Timur.

Baca Juga :  Salah Umumkan Juara Gerak Jalan 45, Begini Klarifikasi KONI Buleleng

Nama blok tersebut diambil dari pembatas antara blok Barat dan Timur, yaitu sebuah sungai yang melintang ditengah-tengah kota Jembrana yang bernama Sungai Ijo Gading.

Sebanyak 148 pasang kerbau yang ikut dalam mekepung ini, terdiri dari 53 pasang blok ijo gading timur dan 95 pasang blok ijo gading barat.

Pasangan lomba kerbau ini dibagi dalam 3 kelompok lomba, yaitu Kelompok C, B, dan A sebanyak 45 pasang.

Dimana kelompok ini adalah kesepakatan sekehe dengan kategori kelompok A yang tertinggi, yaitu dari klasifikasi umur kerbau dan prestasi yang sudah pernah diraih oleh pasangan kerbau.

Dan juga diikutkan kelompok D, yaitu kelompok pemula/pendatang baru sebanyak 8 pasang kerbau yang tidak dilombakan.

Penulis: Anom
Editor: Oka Suryawan