Bupati Made Gianyar, saat meresmikan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) III di Desa Serai, Kecamatan Kintamani, Bangli,
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Bangli, balipuspanews.com – Setelah merampungkan program hotmix masuk desa yang diperkirakan tuntas dikerjakan pada tahun 2019 mendatang, Bupati Made Gianyar mengatakan target berikutnya adalah memperluas cakupan layanan dan menyeragamkan harga air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bangli.

Hal ini disampaikan Bupati Made Gianyar, saat meresmikan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) III di Desa Serai, Kecamatan Kintamani, Bangli, Minggu (24/12).

Lebih lanjut Bupati Made Gianyar menjelaskan, adanya perbedaan harga air ini diakibatkan adanya perbedaan kondisi geografis. Karena operasional dan perawatan jaringan antara daerah dataran dengan daerah yang ada dipegunungan tentu sangat berbeda. “Jadi perbedaan harga ini lebih karena kondisi geografis”jelasnya.

Disampaikan juga, selain faktor infrastruktur jalan, ketiadaan air bersih juga menjadi salah satu penyebab kemiskinan. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi masyarakat yang tinggal dipedalaman dengan kondisi infrastruktur yang buruk dan keterbatasan sumber air, bisa dipastikan daerah seperti ini pasti tingkat kemiskinanya tinggi.

Oleh karenanya, Bupati Made Gianyar mengatakan, Pemkab Bangli mulai tahun 2011 sangat fokus untuk membangun Bangli dari desa melalui program inovasi unggulan seperti Alokasi Dana Desa (ADD) yang besar kedesa, Gerbangdessigot, Gerbang Gita Santi dan hotmix masuk desa yang hingga tahun 2017 ini, jalan yang menghubungkan desa dan banjar-banjar di Bangli hampir 80 % sudah terhotmix.

Sehingga sampai dengan tahun 2019 mendatang, APBD Bangli masih difokuskan untuk menyelesaikan program infrastruktur jalan hotmix. “Kita minta masyarakat bisa sedikit bersabar, karena hingga APBD 2019 kita masih fokus untuk menuntaskan infrastruktur jalan hotmix. Selanjutnya pada APBD 2020 kita akan tiru program Presiden Jokowi yang bisa menyeragamkan harga BBM. Namun bedanya, di Bangli kita akan seragamkan harga air dan tingkatkan layanan PDAM”jelasnya.

Sementara itu Perbekel Desa Serai Wayan Kantun mengatakan, meskipun saat ini belum seratus persen bisa memenuhi kebutuhan masyarakat atau baru bisa melayani 90 sambungan rumah tangga, namun kehadiran program Pamsimas sangat dirasakan manfaatnya. Karena untuk memenuhi kebutuhan air, sebelumnya masyarakat hanya mengandalkan air hujan atau membeli dengan truk tangki.

“Sebelum ada program Pamsimas, masyarakat cukup kesulitan mencari air. Karena sebelumnya hanya mengandalkan air hujan atau membeli dengan truk tangki. Dengan program ini masyarakat sangat terbantu, meskipun belum seratus persen terlayani”jelasnya.

Sambung dia, untuk program Pamsimas, pihaknya menjalin kerjasama dengan PDAM Bangli. Karena untuk mengakses program ini salah satu persyaratan desa harus memiliki sumber air. Sedangkan di Desa Serai tidak ada sumber air yang memadai. Oleh karenanya kita menjalin kerjasama dengan PDAM Bangli dan melakukan tapping ke jaringan PDAM untuk mendapatkan air yang kemudian disalurkan ke bak penampungan untuk selanjutnya disalurkan kembali ke saluran rumah tangga.

Jelas dia, karena taping di PDAM ini memakai satu meteran air dengan volume pipa 1 dim, maka air yang diambil dihitung dengan pemakaian niaga, meskipun pemanfaatan air ini semua untuk kebutuhan rumah tangga. Sehingga pihaknya harus membayar Rp13.500/M3 air kepada PDAM.

Sedangkan untuk menutup operasional pemeliharaan bak penampungan dan jaringan pipa, pihaknya menjual air kepada masyarakat Rp 18.000/M3. “Untuk mengurangi beban masyarakat dalam mengakses air bersih, kita berharap kedepan Pemkab Bangli bisa mengeluarkan kebijakan untuk memberikan harga rumah tangga untuk penggunaan air PDAM di Pamsimas Desa Serai”harapnya.

Tinggalkan Komentar...