sewa motor matic murah dibali

Denpasar, balipuspanews. com – Nalar Mahasiswa dan Pemuda (NARMADA) menggelar diskusi dengan tema, Siapkah Kita Menghadapi Revolusi Industri 4.0?. Diskusi tersbut dipandu oleh Tedy C. Putra, S.T. Yang menjadi fasilitator dalam diskusi tersebut adalah Dr. I Wayan Jondra (Dosen Politeknik Negeri Bali) dan Efraim Mbomba Reda (Penulis dan Aktivis PMKRI Cab. Denpasar).

Diskusi tersebut berlangsung di Apple Point, Jl. A. Yani 188 Denpasar pada pukul 20.00 – 22.00 WITA.

Yang hadir dalam diskusi ini adalah puluhan mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Bali serta para pemuda yang berminat untuk mendiskusikan hal ini. 

Dalam diskusi tersebut I Wayan Jondra menyampaikan bahwa sebagai generasi milenial harus ada optimisme untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Namun, optimisme yang dimaksud bukan berarti terlena dengan keadaan yang ada dan tidak berbuat suatu hal untuk mempersiapkan diri menghadapi revolusi industri 4.0. I Wayan Jondra menghimbau agar generasi milenial harus memiliki literasi digital serta mengasah skill atau potensi diri untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

“Generasi milenial harus optimis dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Kemampuan anak muda Indonesia sama dengan anak muda di negara lain. Yang paling penting adalah generasi milenial harus punya literasi digital yang memadai. Lebih dari pada itu, teruslah mengasah potensi yang dimiliki.”, ungkap I Wayan Jondra.

Banyak hal sebetulnya dipermudah dengan dalam era generasi ke empat ini. Dunia menjadi tanpa batas dan semua orang bersaing secara bebas. Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dilawan, individu harus masuk di dalamnya jika tidak ingin bertahan dalam era disrupsi ini.

Efraim Mbomba Reda menyatakan bahwa Indonesia mesti belajar lebih keras, 10 kali lipat dari negara – negara di Eropa, Amerika maupun Singapura agar bisa menghadapi revolusi industri 4.0 dengan baik. Menurutnya, akan ada banyak lapangan pekerjaan yang akan ditutup karena pemanfaatan terhadap kecanggihan teknologi.

Salah satu contoh sederhana adalah berubahnya pusat perbelanjaan konvensional ke belanja online yang menempatkan internet sebagai marketplace baru. Itu artinya tidak ada lagi lowongan pekerjaan sebagai karyawan – karyawan di tokoh – tokoh konvensional dalam beberapa tahun ke depan, apalagi Indonesia akan menghadapi juga bonus demografi.

“Indonesia harus belajar lebih keras. 10 kali lipat dari negara – negara di Eropa, Amerika dan Singapura. Dengan revolusi industri 4.0 akan ada banyak lapangan pekerjaan yang akan ditutup. Contohnya pusat perbelanjaan konvensional sudah berubah ke perbelanjaan online. Indonesia juga pada tahun 2020 akan menghadapi bonus demografi. Ini tentunya akan menjadi tantangan yang sangat berat.”, Jelas, mahasiswa Universitas Warmadewa tersebut.

Literasi digital harus ditingkatkan, namun sebelum sampai pada tahap literasi digital, kemampuan literasi harusnya sudah baik. Namun hasil survei UNESCO menempatkan minat baca Indonesia pada urutan ke 60 dari 61 negara. Ini tentunya sangat menyedihkan, karena sebelum sampai pada tahap literasi digital akan baik jika setiap individu memiliki cukup pengetahuan dan pengetahuan tersebut diperoleh dari membaca.

Diskusi tersebut berlangsung interaktif dan pada akhir diskusi Dr. I Wayan Jondra mengajak khusunya generasi milenial untuk percaya diri dan segera bertindak untuk menjadi pelaku – pelaku yang akan memenangkan kompetisi di berbagai lini dalam era revolusi industri 4.0. Revolusi industri tidak hanya untuk dibicarakan tetapi untuk diterjemahkan pada ranah praksis lewat tindakan.

Efraim Mbomba Reda menyampaikan agar generasi muda rajin membaca buku untuk mendapatkan banyak pengetahuan serta melek digital.

Dengan cara ini dapat memenangkan zaman. Mengutip Jack Ma, Efraim menyampaikan bahwa pada tahun 70 – an jika suatu negara tidak punya listrik maka negara tersebut akan mati, namun sekarang jika negara tidak punya internet maka negara tersebut akan mati.

I Wayan Darmayasa, salah satu penginisiasi pembentukan forum ini menyampaikan bahwa NARMADA dilahirkan karena keinginan beberapa rekan mahasiswa untuk mengelaborasi pikiran kritis  yang meletup-letup, dan menjadikan ruang dialektika mahasiswa. Dengan harapan lewat kelompok diskusi ini lahir kemampuan analisa yang tajam dan berargumentasi dengan baik.

“Narmada dibentuk karena keinginan dari beberapa rekan mahasiswa yang ingin agar ada ruang dialektika untuk para mahasiswa dan pemuda. Dengan harapan dari forum ini akan lahir analisis – analisis yang tajam dan kemampuan berargumentasi serta mampu memecahkan persoalan.”, Tutur Aktivis KMHDI tersebut.

Diskusi ini akan diselenggarakan setiap minggu pada hari Kamis. Ini merupakan diskusi kali ke dua, sebelumnya sudah diselesaikan diskusi dengan tema ‘Apa Kabar Reklamasi Teluk Benoa?’. Minggu depannya akan ada diskusi dengan tema HAM. Forum ini terbuka bagi setiap mahasiswa dan pemuda yang haus akan pengetahuan. (rls/bpn/tim)

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here