Siwaratri 2023, Bertemunya Pemujaan Siwa dan Dewi Uma Terwujud Kesuburan

I Kadek Satria
I Kadek Satria

DENPASAR, balipuspanews.com – Sehari sebelum Tilem Sasih Kapitu, umat Hindu biasa mengenal dengan Hari Suci Siwaratri. Pemujaan kepada Dewa Siwa yang paling dikenal oleh masyarakat hindu khususnya di Bali adalah perayaan Hari Siwaratri.

Siwa (dalam bahasa sanskerta memiliki arti Manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi, cinta kasih, menguntungkan, kesejahteraan), dan Ratri (yang dalam bahasa sanskerta juga berarti malam, gelap).

Pada hari jumat wuku langkir yang jatuh pada 20 januari 2023 juga adalah hari pemuliaan terhadap segala unsur penghidup yaitu Ida Bhatarai Shri. Hari dimana pemujaan ditujukan kepada Dewi kemakmuran dan dewi penganugerah kesejahteraan.

Dengan bersatunya Hari Suci Siwaratri dengan Hari Pujawali Ida Bhatari Shri, maka tentu ada pesan yang bisa diambil yaitu bertemunya Siwa dan Parwati dalam bentuk pemujaan dan Hari Suci yaitu Siwaratri.

Akademisi Universitas Hindu Indonesia Denpasar I Kadek Satria berpandangan, ketika hari pemujaan kepada Dewa Siwa bertemu dengan pemujaan kepada Dewi Uma maka unsur alam atau kesuburan bisa terwujud. Kesuburan itulah yang tentunya bisa memberikan manusia hidup baik dalam mengarungi kehidupan ini.

“Kita memahami bahwa Hari Suci Siwaratri, merupakan hari dimana kita sebagai umat akan melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa. Dewa Siwa dalam Tri Murti adalah sebagai pemralina, yaitu mengembalikan segala sesuatu yang ada di alam ini ke asal mulanya,” terangnya.

Kata dia, pesan khususnya yang dapat dipetik dari hari yang dikenal malam perenungan suci ini yaitu diharapkan umat melakukan Brata Siwaratri dengan baik untuk memperoleh anugerah kesuburan itu.

Didalam Kitab Siwa purana, dikatakan keagungan Brata Siwaratri dalam bagian jnana samhit yang mengisahkan tentang percakapan seorang Rsi dengan seorang bhakta yang sangat tekun bernama Suta.

Dalam percakapannya itu terceritakan seorang manusia yang sangat jahat yang bernama Rurudruha yang pada akhirnya atmanya mampu mencapai pembebasan dan mencapai alam Siwa.

Pada kitab lainnya yaitu kitab Skanda Purana juga mengisahkan tentang percakapan seorang murid yang bernama Lomasa, dengan gurunya yaitu para Rsi, dalam diskusi itu diceritakan seorang manusia yang bernama Canda yang sangat jahat dan kejam dalam hidupnya yang juga pada akhirnya mendapatkan penyadaran, dan mencapai alam Siwaloka.

Didalam Garuda purana juga ada yang memuat kehebatan Brata Siwarati yaitu pada percakapan Dewa Siwa dengan Dewi Parwati. Didalam percakapan beliau itu Dewi Parwati menanyakan tentang brata yang paling baik dilakukan untuk melakukan peleburan dosa, dan jawaban Dewa Siwa adalah Brata Siwaratri.

Terakhir adalah kitab Padma Purana yang mana menceritakan tentang seorang raja bernama Dilipa yang berdiskusi dengan Rsi Wasistha. Disini diceritakan dalam diskusi tersebut tentang seorang pemburu bernama Nisada yang kemudian mampu mencapai pembebasan dengan cara melakukan Brata Siwaratri.

Bagaimana sebenarnya Brata Siwaratri tersebut yang begitu hebatnya bak mengubah daratan menjadi perairan dan bagaikan membalikan angkasa luas menjadi pertiwi? untuk menjawab pertanyaan ini maka perlu melihat tri brata dalam Hari Suci Siwaratri tersebut dalam arti yang lebih riil.

Pria asal Bumi Panji ini memaparkan, di dalam lontar Wrati sesana yaitu lontar saiwa sidhanta di Bali yang memuat tentang ajaran brata-brata yang hendaknya dilakukan oleh penganut siwa.

Di dalam lontar tersebut diketengahkan tiga hal yang memuat bagaimana kemudian semua brata dalam Hari Suci Siwaratri menjadi salah satu brata yang sangat mulia dan mampu memberikan kelepasan bagi setiap orang yang melakukannya.

Brata Siwaratri seperti Jagra, Upawasa, dan Monobrata merupakan pengejawantahan dari tiga brata mulia penganut Siwa.

Artinya, lanjut Satria, bahwa Brata Siwaratri ini akan mampu memberikan manfaat kelepasan menuju Siwaloka karena brata Siwaratri ini memiliki kekuatan untuk memuliakan, membakar segala noda kejahatan yang telah dilakukan oleh manusia.

Bagian pertama disebut dengan Jagra Sattwika, yaitu bagaimana umat diharapkan untuk tidak terlalu menyukai tidur (magelem atangi).

Seperti diketahui, bahwa Jagra dalam salah satu brata dari Siwaratri merupakan upaya untuk melek semalam suntuk, tidak tidur dengan makna bahwa diharapkan sadar dengan segala sesuatu yang telah membantu kehidupan di alam ini.

“Kita harus menyadari akan kelahiran, kehidupan dan kematian serta kelahiran kembali sehingga dengan demikian kita mampu untuk melakoni dengan usaha untuk hidup (karma),” imbuhnya.

Selain itu, nasehat agar sadar sesungguhnya Jagra, yang dalam arti sempit disebut dengan tidak tidur semalam suntuk. Karena dengan inilah dianggap mampu untuk (magelem Apuja) yaitu selalu berkonsentrasi untuk memuja keagungannya.

Dan yang terakhir adalah Jnana Sattwika, yaitu tidak henti-hentinya untuk melakukan wujud rasa syukur dengan selalu memuji keberadaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Magelem Angastuti). Dengan brata ini marilah kuatkan dan tancapkan doa khusus untuk kesejahteraan badan dan kesempurnaan rohani.

Lebih jauh Satria mengutarakan, Siwaratri ini memiliki definisi sebagai malam yeng penuh dengan cinta kasih (penuh anugerah), dan menguntungkan bagi bhakta-Nya untuk mencapai kesejahteraan. Hari Suci Siwaratri juga sangat diidentikan dengan berbagai mitologi dan cerita rakyat yang memiliki nilai sosioreligiusmagis, salah satunya adalah cerita lubdaka, seorang pemburu yang kemudian mencapai Siwa Loka setelah melakukan brata Siwaratri.

Secara sederhana 2023 bisa dijumlahkan angka tersebut 2 + 0 + 2 + 3 dan hasilnya adalah 7. Dalam perhitungan sasih, Siwaratri kita lakukan pada purwanining Tilem Sasih Kapitu.

Hal ini memberikan makna bahwa hari suci Siwaratri yang ditahun ini pula dilakukan memiliki sarat makna. Bagaimana memaknai hal ini? Angka 7 sesungguhnya memiliki tiga ruang dalam alam ini. 7 ruang keatas yang disebut dengan sapta loka, 7 ruang kebawah yang disebut dengan sapta patala dan 7 ruang ditengah yaitu badan kita yang sering disebut dengan 7 cakra.

“Angka tujuh inilah memiliki koneksi yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia. Keterhubungan cakra dengan patala dan loka akan menghasilkan kesuburan atau kesejahteraan yang kemudian memberikan kebaikan pula pada rohani sehingga mampu mencapai kebaikan, walau belum mencapai kesempurnaan batin,” pungkasnya.

Penulis: Budiarta

Editor: Oka Suryawan