Koster -Ace
sewa motor matic murah dibali

DENPASAR, balipuspanews.com – Pemerintah Provinsi Bali dibawah kepemimpinan Wayan Koster – Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Koster – Ace) memberikan penjelasan soal penggunaan aksara Bali.

Melalui Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Proyinsi Bali, A.A. Ngurah Oka Sutha Diana penggunaan aksara Bali sebagaimana diatur dalam Pergub no 80 tahun 2018 tentang perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali disebutkan Aksara Bali merupakan huruf yang digunakan untuk menuliskan segala aspek kehidupan masyarakat Bali sejak dahulu sebelum dikenal huruf Latin.

Bukti-bukti itu dapat dilihat dan semua naskah lontar, prasasti, purana, dan berbagai manuskrip lainnya yang memuat keseluruhan pengetahuan, tradisi, seni, dan budaya serta kearifan lokal dan Lelangit, Leluhur, dan Para Kawi Bali dan zaman ke zaman.

Dijelaskan aksara Bali sebagaimana digunakan dalam Kakawin Sutasoma yang memuat Sesanti Bhinneka Tunggal lka dan nama Pancasila terbukti telah menyelamatkan khasanah budaya Nusantara.

Lebih jauh ditekankan Aksara Bali merupakan Aksara yang masih hidup dan berfungsi sebagai media komunikasi, alih pengetahuan, ekspresi seni, dan dokumen-dokumen kultural secara turun temurun

Menurutnya Aksara Bali telah menyejahterakan kalangan pangawi (sastrawan), seniman, dan pengerajin melalui karya- karyanya, seperti: seni prasi, tika, dan aneka terbitan karya sastra.

“Aksara Bali bukan sekadar hunuf biasa, melainkan Aksara Suci yang dimuliakan oleh masyarakat Bali,” katanya.

Lebih jauh juga ditegaskan penggunaan aksara Bali dalam penulisan papan nama, kantor, jalan, gedung, sarana, pariwisita dan fasilitas umum lainnya

Tak terlepaskan untuk memuliakan Aksara Bali sebagaimana tersebut di atas, maka Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan
Bulan Bahasa Bali menentukan posisi Aksara Bali dalam penulisan papan nama kantor, jalan, gedung, sarana pariwisata, dan fasilitas umum lainnya di atas nama yang ditulis dengan huruf Latin.

Penentuan posisi Aksara Bali di atas huruf Latin adalah untuk memuliakan Aksara Bali.

Penggunaan Aksara Bali merupakan bentuk penguatan identitas budaya daerah sebagai bagian utuh kekayaan budaya Nasional dalam kerangka Ideologi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan BhinnekaTunggal Ika.

Dijelaskan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 236 ayat (4) memberikan kewenangan kepada Kepala Daerah menyusun Peraturan Daerah yang memuat materi muatan lokal.

“Papan nama kantor, jalan, gedung, sarana pariwisata, dan fasilitas umum lainnya yang ditulis dengan Aksara Bali tetap menggunakan Bahasa Indonesia. Pengalihaksaraan huruf Latin ke dalam Aksara Bali tetap mengikuti kaidah pelafalan Bahasa indonesia. Bahkan dalam pengaturan penggunaan Aksara Bali dalam penulisan papan nama kantor, jalan, gedung, sarana parwisata, dan fasilitas umum lainnya ditentukan dengan tulisan warna hitam dan latar belakang warna gradasi merah ke putih,” ujarnya.

Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali telah memenuhi persyaratan dan proses penetapan produk hukum daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan

Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali tidak bertentangan dengan Undang-Undang Nomar 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Karena Undang – Undang ini mengatur penggunaan Bahasa, bukan mengatur penggunaan Aksara.

Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali telah melalui proses fasilitasi, verifikasi, dan disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri RI sehingga dapat diundangkan pada tanggal 26 September 2018.

Pemberlakuan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa,
Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali merupakan kesungguhan komitmen dalam
memuliakan Aksara Bali sehingga telah mendapat sambutan positif dari seluruh lembaga pemerintah, lembaga
pendidikan, lembaga swasta, dan masyarakat luas.

“Berdasarkan penjelasan tersebut, seluruh masyarakat Bali agar melaksanakan Peraturan Gubemur Bali Nomor 80
Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali dengan baik, penuh semangat, dan penuh rasa bangga dalam rangka mewujudkan Visi: “Nangun Sat
Kerthi Loka Bali, ” ujarnya. (art/bpn/tim)