Calon Perbekel terpilih desa Kekeran, Komang Wahyu Eva Diatmika.

BUSUNGBIU, balipuspanews.com — Komang Eva Wahyu Diatmika (30), tercatat sebagai calon Perbekel (cakel) terpilih paling muda hasil Pemilihan Perbekel (Pilkel) serentak 79 desa se-Kabupaten Buleleng, diselenggarakan bulan oktober 2019 lalu.

Pemuda milenial akrab disapa Eva merupakan kelahiran 26 September 1989. Ia lahir di desa Kekeran, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.

Saat ini, jebolan S1 jurusan PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan Undiksha itu, sedang melanjutkan pendidikan program S2 Pendidikan Agama Hindu di STAH Mpu Kuturan, Singaraja.

Kemenangan di Pilkel, sebut pria bertubuh tambun itu, dicapai dengan upaya yang tak mudah. Pasalnya, satu diantara dua pesaingnya di Pilkel merupakan petahana yakni Putu Suarjaya. Tak pelak, Eva pun mesti menyiapkan strategi menghadapi persaingan tersebut.

Berbekal doa restu keluarga dan masyarakat, putra pasangan rohaniawan Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa dan Isa Pandita Mpu Nabe Istri Dwija Witaraga Sanyasa Griya Taman Sari Ashrama itu, lantas memberanikan diri mendaftar sebagai calon Perbekel.

Hasilnya, persaingan ketat tiga konstentan dimenangkan oleh Eva dengan hasil raihan suara sebanyak 1.117 suara. Sedangkan dua pesaingnya, Putu Suarjaya hanya mampu meraup 111 suara dan Nyoman Maniasa sebanyak 541 suara.

Eva mengaku semula tak pernah terpikirkan mencalonkan diri sebagai Perbekel. Sejatinya, ia ingin fokus mendampingi kedua orangtuanya selaku rohaniawan. Hingga suatu ketika, terbersit dalam benaknya ingin menjadi kelian adat.

“Niat awal itu, pengen jadi kelian adat saja, belum terbersit keinginan jadi Perbekel. Alasannya, kemampuan saya di bidang upakara dan banten. Paling tidak, bisa meyadnya membantu meringankan beban warga kurang mampu di Kekeran, khususnya dalam upacara nyapu leger, metatah dan mewinten,” ungkap Eva.

Nah, sebelum tahapan Pilkel bergulir, kedua orangtuanya pun menyarankan agar Eva ikut mendaftar dan menyampaikan isi program kearifan lokal itu kepada masyarakat, seiring mulai ada isu yang berkembang bahwa warga ingin mendorongnya berkontestasi.

Eva yang tak terlalu paham soal konstelasi politik kemudian meminta saran serta masukan kepada orangtua serta sejumlah tokoh di desa Kekeran.

“Setelah ditetapkan sebagai calon perbekel, satu per satu warga datang ke rumah curhat. Ternyata mereka memang menginginkan perubahan di desa. Bahkan, adapula perangkat desa ikut mendorong agar tata kelola pemerintahan desa menjadi lebih baik,” terangnya.

Rancangan program melalui visi dan misi digarap. Kelak saat Eva menjabat Perbekel, seluruh perencanaan pembangunan dan tata kelola keuangan bakal dikemas secara transparan kepada masyarakat.

Selain itu, pemenuhan kebutuhan para lansia di desa Kekeran nantinya akan dicantumkan sebagai salah satu program prioritas.

Setelah dilantik, Eva menyadari masih minimnya pengalaman di bidang tata kelola pemerintahan. Untuk itu, ia pun kembali meminta dukungan dan pendampingan dari seluruh lembaga desa dan masyarakat agara dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik selaku Perbekel desa Kekeran masa bhakti 2019-2025.

Tirto.ID
Loading...