Spirit Tumpek Wariga Implementasi Ajaran Agama Hindu Wujudkan Bali Clean and Green

Kadek Satria akademisi Universitas Hindu Indonesia
Kadek Satria akademisi Universitas Hindu Indonesia

DENPASAR, balipuspanews.com- Hari ini, Sabtu (22//8/2020), umat Hindu Bali merayakan Tumpek Wariga, hari pemujaan kepada Dewa Sangkara, dewanya tumbuh – tumbuhan.

Di Bali, Tumpek yang hadir 25 hari menjelang Galungan itu dikenal dengan berbagai sebutan seperti Tumpek Uduh, Tumpek Pengarah hingga Tumpek Pengatag.

Tumpek Wariga datang setiap enam bulan sekali sesui kalender Hindu, saat Saniscara Kliwon Wuku Wariga. Tumpek Wariga bagi orang Bali juga disebut hari tumbuhan.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan
sebagai wujud kecintaan dan kepedulian terhadap alam secara umum dan tumbuhan secara khusus adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan agar tetap hijau atau sering didengungkan dengan Bali Clean and Green.

Upaya tersebut sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Bali yaitu Nangun Sat Kerthi Loka Bali salah satu bagian diantaranya adalah wana kertih dengan menjaga alam dan tumbuhan beserta isinya yang selama ini sudah memberikan manfaat terhadap manusia.

Akademisi Universitas Hindu Indonesia, I Kadek Satria mengatakan kepada balipuspanews.com Sabtu (22/8/2020) menyebutkan, Tumpek Uduh adalah rerahinan awal untuk menuju kemenangan Dharma Raya Galungan 25 hari yang akan datang (slae galungan).

Tumbuh-tumuhan diharapkan dapat bekerja maksimal dengan memberikan kontribusi buah yang banyak sehingga pada hari Raya Galungan buah dapat dipetik.

Dengan bahasa pengharapan dalam bentuk sesapaan : “ Kaki-kaki, titiang mapengarah, malih selae rahina Galungan, mabuah nyen apang nged, nged, nged”. Buah-buahan adalah salah satu bahan upakara mewakili pala.gantung.

Selain itu, Tumpek Uduh juga dapat diartikan sebagai tonggak peringatan manusia hidup dari tumbuh-tumbuhan dengan memberikan manfaat yang sangat baik.

Dosen Fakultas Pendidikan Agama dan Kebudayaan ini mengutip dari Lontar Sundarigama dinyatakan sebagai berikut :
Wariga Saniscara Keliwon ngaran puja kertinira Sang Hyang Sangkara, apan sira umerdiaken sarwa ning tumuwuh, kayu-kayu kunang, widi widania peras, tulung, sesayut, tepung bubur mwang tumpeng agung, iwaknia guling dadi, patikwenang, saha raka, penyeneg tetebus, kalingania anguduh ikang tanem tuwuh, asetana sekar awoh agodong, dadiya urip ikang sarwa janma.

Artinya : Pada hari Sabtu Keliwon Wariga disebut Tunpek Panguduh, pemujaan terhadap Sang Hyang Sangkara, beliaulah yang menghidupkan segala jenis tumbuh-tumbuhan seperti berbagai jenis kayu-kayuan, upacara-upakaranya terdiri dari : Peras, Tulung. Sesayut, Bubur tepung dan Tumpeng agung memakai daging guling dilengkapi dengan jajan dan buah-buahan, penyeneng tetebus, dipakai sarana untuk menyuruh semua jenis tumbuh-tumbuhan agar dapat berdaun, berbunga dan berbuah yang lebat untuk membantu kehidupan semua manusia.

“ Jika kita melihat berbagai hal yang berkembang saat ini, seperti misalnya pembabatan hutan, dan sebagainya, membuat kita lebih berbangga dengan ajaran leluhur kita bahwa apa yang kita diajarkan kepada kita sangat mampu untuk menjaga alam, memelihara segala isinya sehingga keharmonisan itu bisa terwujud,” jelasnya.

Ajaran leluhur, sambung Satria, mengarahkan manusia untuk mengingat, menjaga, melestarikan segala yang ada ini untuk kehidupan selanjutnya. Para leluhur berpikir untuk anak cucunya sendiri sebagai bagiannya yang menikmati keharmonisan itu sampai sekarang ini.

Apakah kita sudah berpikir untuk anak dan cucu kita nanti?

Mungkin pertanyaan ini perlu direnungkan bersama. Bali Clean and Green merupakan salah satu usaha untuk mengingatkan agar manusia sadar akan lingkungan, sadar akan diri bahwa manusia mesti mempersiapkan sesuatu yang baik untuk anak cucu nanti.

Segala keindahan ini adalah salah satu bentuk yang harus diwariskan. Bali Clean and Green memberikan arahan untuk tidak merusak lingkungan, tidak membiarkan kerusakan dan ketidakterurusan kepada alam ini berlanjut.

Ia berharap, melalui Tumpek Pengarah ini mari wujudkan makna Tumpek yang sesungguhnya kepada seluruh masyarakat. Dengan melakukan langkah Bali Clean and Green berarti memiliki andil dalam menjaga alam ini, sekaligus mengaplikasikan ajaran agama Hindu dengan baik.

Lebih jauh Satria mengungkapkan bahwa penting kiranya umat merenungkan berbagai kehidupan yang senantiasa bergantung kepada alam ini, dengan alam yang landuh dan lestari mampu memberikan manfaat yang lebih kepada manusia.

“ Kesehatan sebagai modal utama kehidupan kita bukan tidak mungkin disebabkan oleh alam yang Jagadhita, baik yang berasal dari hewan maupun tumbuhan,” sambung pria asal Desa Bali Aga, Pedawa, Singaraja ini.

Ia menyebut, keberadaan hewan juga berasal dari tumbuhan, sehingga tumbuhan inilah yang memerlukan kelestarian yang baik sehingga hewan dan manusia sebagai penikmatnya mampu juga memperoleh keutamaan dan kesehatan.

Disinilah ia kembali menekankan perlu memberikan dukungan serta apresiasi yang terimplementasi terhadap upaya pelestarian alam dengan mewujudkan yaitu Bali Clean and Green.

Kembali mengutip sastra dalam Bhagavadgita Adhyaya 15 sloka 7 dinyatakan sebagai berikut: mamaivamso jiva-loke jiva bhutah sanatanah (Seluruh makhluk hidup adalah partikel-partikel Tuhan Yang Maha Esa yang kekal dan memiliki kesadaran). Jika dikaitkan dengan Tumpek Uduh, maka ini sangat tampak bagaimana Hindu Bali mengaplikasikan isi dari sastra bhagawadgita diatas.

Jadi manusia tidak memiliki kapabilitas untuk menyatakan bahwa yang berhak hidup di alam ini hanya manusia, hewan, tumbuhanpun sangat berhak untuk hidup. Upaya Bali Clean and Green inilah yang perlu diberikan apresiasi bahwa upaya ini tidak ada maksud untuk meniadakan satu dari yang lainnya, namun mengintegrasi kebermanfaatan sehingga mampu menjadi salah satu sarana hidup yang memang dibutuhkan oleh masyarakat.

PENULIS : Nengah Budiarta

EDITOR : Oka Suryawan