Menurut data Badan Pusat Statistik/BPS (2018), Indonesia saat ini mulai menghadapi bonus demografi, yang diperkirakan berlangsung hingga tahun 2036
Menurut data Badan Pusat Statistik/BPS (2018), Indonesia saat ini mulai menghadapi bonus demografi, yang diperkirakan berlangsung hingga tahun 2036
sewa motor matic murah dibali
OPINI ANDA,  balipuspanews. com – Menurut data Badan Pusat Statistik/BPS (2018), Indonesia saat ini mulai menghadapi bonus demografi, yang diperkirakan berlangsung hingga tahun 2036. Bonus demografi berarti jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak daripada penduduk berusia tidak produktif. Kondisi ini ibarat pedang bermata dua, bisa menjadi anugerah atau menjadi bencana. Gerakan revolusi mental yang digaungkan pemerintah mesti berlanjutsambut dengan gerakan revolusi yang masif, terutama insan-insan pendidik.
Faktanya, bonus demografi belum sepenuhnya menjadi anugerah. Angka pengangguran yang cukup tinggi pada tahun 2017 (sebesar 7,04 juta orang), meningkat 10.000 orang dari tahun sebelumnya (data BPS, 2018) bisa menjadi tolok ukur betapa kita harus serius berbenah. Mart Chaban, salah satu Direktur perusahaan raksasa Microsoft, mengatakan kuatnya perkembangan teknologi mengubah perilaku pasar dan konsumen, sehingga turut memaksa perubahan kualifikasi SDM dunia kerja memiliki skills 5K (kritis dalam berpikir, kolaborasi, kreatifitas, komunikasi, dan komputasi teknologi).
Para akademisi percaya, bahwa skills dimiliki dengan menggali bakat sejak dini melalui pelatihan-pelatihan edukatif, terstruktur, dan tindak lanjut bersinergi sesuai kebutuhan dunia nyata (dunia kerja) tanpa mengesampingkan teori-teori yang menjadi pijakan. Membentuk SDM dengan skills 5K tidak bisa dimulai dari tingkat pendidikan menengah atau tinggi saja, namun mesti dimulai dari sekolah dasar (SD).  Pendekatan pembelajaran berbasis STEM (science, technology, engineering, and mathematic) dianggap mampu menjawab tantangan berat pendidikan saat ini sehingga menjadi “mesin penggerak inovatif utama”.
Guru SD zaman now memiliki peran istimewa, selain menerapkan STEM dalam pembelajaran, juga menjadi agen-agen perubahan yang menularkan STEM pada guru-guru yang lain, hingga STEM betul-betul menjadi budaya edukatif. Torlakson (2014) mendefinisikan STEM sebagai pembelajaran berbasis science (konsep-konsep/hukum tentang alam/gejala alam), technology (sistem/alat untuk memudahkan dalam mengatur masyarakat/organisasi/sesuatu), engineering (prosedur/langkah-langkah tertentu dalam menyelesaikan masalah), serta mathematic (ilmu yang menghubungkan besaran, angka, dan ruang yang membutuhkan argumen logis). Implikasi pendekatan STEM adalah adanya penerapan teknologi dengan prosedur-prosedur/langkah-langkah tertentu untuk mempermudah pekerjaan/menyelesaikan suatu masalah dengan perhitungan-perhitungan tertentu.
Mari kita tengok proses pembelajaran di SD negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, China, Korea Selatan, dan lainnya. Siswa diajarkan menerapkan pengetahuan tentang bangun datar dan bangun ruang untuk mendesain sebuah gedung sederhana (semacam kit); materi pemanfaatan sumber daya alam dilakukan dengan membuat yoghurt, kue, dan macam-macam olahan/fermentasi lainnya; pembuatan pesawat terbang sederhana; membuat rangkaian elektronik sederhana dengan menggunakan baterai berbagai ukuran; melakukan wawancara secara langsung kepada narasumber (tidak hanya teori); melakukan simulasi pemilihan umum/ketua kelas; beternak dan bercocok tanam hingga dapat dipanen; mitigasi bencana; dan bermacam-macam praktik lainnya.
Pada SD di Indonesia, beberapa pembelajaran sesuai kurikulum 2013 sudah diimplementasikan oleh guru menggunakan pendekatan saintifik dan kolaboratif, namun mayoritas belum menampilkan sisi kebermanfaatan terhadap kehidupan sehari-hari. Pembelajaran masih minim dengan kegiatan berteknologi kekinian yang betul-betul berguna bagi siswa dalam kehidpan nyata.
Sebagian kecil guru telah menerapkan STEM dalam pembelajaran, namun tidak berkelanjutan, dan pragmatis hanya saat-saat penilaian tertentu (lomba guru berprestasi dan sejenisnya). Akibatnya pembelajaran STEM hanya sesaat menggairahkan siswa, sisanya kembali lagi dengan pembelajaran “kekunoan”. Ada beberapa faktor yang menyebabkan STEM masih amat jarang diterapkan di SD, di antaranya: 1) pendekatan STEM relatif baru bergaung di kalangan guru SD Indonesia sehingga belum banyak guru yang memahami betul konsep dan aplikasi STEM; 2) STEM membutuhkan waktu lebih banyak daripada pembelajaran konvensional; 3) sarana pembelajaran berupa media/alat peraga belum memadai; 4) belum memadainya reward atas inovasi-inovasi guru; serta 5) sasaran pelatihan baru menyentuh sebagian kecil guru.
Pada satu sisi, faktor-faktor tersebut bisa menghambat, namun di sisi lain guru kian dituntut makin kreatif, terutama merangkul partisipasi orang tua siswa. Dengan mempersiapkan sarana/peralatan belajar mandiri dari rumah, orang tua juga otomatis terlibat dalam pembelajaran. Kedua, Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam (SDA). Pemanfaatan SDA merupakan materi penting yang diajarkan di SD, sehingga guru betul-betul membelajarkan siswa memanfaatkan SDA (seperti membuat tape, nasi goreng, sate, makanan khas, atau kerajinan), mulai dari proses pengolahan hingga pemasaran. Bisa dibuat semacam market day sehingga menumbuhkan jiwa wirausaha siswa. Bisa juga mengajak siswa membuat benda magnetis sederhana dan mengidentifikasi hal-hal baru yang tidak ada di buku. Jika pembelajaran STEM diterapkan berkelanjutan, tentu terjadi perubahan cara berpikir guru dan siswa, bahwa setiap materi pembelajaran hendaklah harus ditunjukkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan dipastikan bahwa materi yang dipelajari memang berguna untuk kehidupan siswa secara nyata.
Pembelajaran STEM menuntut siswa melakukan prosedur-prosedur tertentu yang membutuhkan kedisiplinan, sehingga STEM membuat siswa yakin bahwa disiplin serta taat aturan adalah kunci dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. Kedisiplinan siswa hanya dapat terbentuk oleh guru yang disiplin, kreatif, serta dengan dukungan penuh orang tua siswa.
Berdasarkan situs resmi Kemdikbud, pada tahun 2019 pemerintah mengalokasikan anggaran besar  untuk pembangunan SDM, termasuk pada bidang pendidikan. Mudah-mudahan dalam pelaksanaannya guru-guru mendapatkan pengetahuan baru tentang STEM, ada tindak lanjut dan revitalisasi sarana pendukung, serta reward untuk para guru revolusioner. Urgensi tinggi disematkan mengingat di luar negeri, pendekatan STEM telah populer sejak 10 tahun lalu.
Indonesia baru memulai dan tentu diperlukan upaya amat serius dari semua stakeholder pendidikan agar bangsa ini bisa menjadi bangsa maju. Mengingat Indonesia memiliki bonus demografi, peluang menjadi bangsa maju sangat terbuka, dengan catatan para guru SD, insan pendidik, pelaku pendidikan, dan orang tua/masyarakat bersama-sama berperan sebagai agen-agen perubahan. Para guru terutama guru SD mendapat porsi paling besar mengisi lompatan tersebut. Yakin, jika STEM telah membudaya di SD, bonus demografi adalah anugerah untuk bangsa ini.
Penulis Guru SDN 3 Mengwi
ASN di Pemkab Badung,
I P. G. Sutharyana Tubuh Wibawa, S.Pd

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here