Kondisi sawah kekeringan kekurangan air di subak Manistutu, Jembrana.
Kondisi sawah kekeringan kekurangan air di subak Manistutu, Jembrana.

NEGARA, balipuspanews.com- Musim kemaru yang terjadi belakangan membuat petani padi di Subak Manistutu Barat, Melaya terancam gagal panen. Sebab, padi mreka yang sedang membutuhkan air menjelang berbuah mengalami kekringan.

Kekeringan di subak manistutu barat itu mulai terjadi sejak dua bulan lalu. Karena debit air terus menurun padi mereka yang berumur 55 sampai 60 hari semakin luas yang kekeringan.

Hingga saat ini sekitar 55 hektar dari 60 hektar luas sawah di subak itu dusah mongering. Bahkan sebagian padi petani sudah mati dan tanhanya yang kekeringan pecah-pecah. Akibatnya petani terancam gagal panen dan mengalami kerugian besar.

“Karena debit air menurun saluran irigasipun mengering. Ini terjadi sejak dua bulan lalu dan sawah yang kekeringan semakin luas,” ujar Nyoman Teles. Sekretaris subak Mabistutu Barat Jumat (12/7).

Kekeringan yang melanda subak Manistutu Barat itu mengundang keprihatinan Dandim 1611 Jembrana Letkol Kav. Djefry Marsono Hanok. Dandim yang langsung meninjau kondisi kekeringan di subak Manistutu Barat mengaku sudah mengusulkan 12 sumur bor kekementrian pertanian sebagai bentuk peran serta TNI dalam menjaga ketahan dan swasembada pangan.

“Kami mewakili Jembrana mengajukan 12 unit sumur bor, mudah-mudahan ini bisa didukung kementrian pertanian sehingga rencana dalam waktu 1 tahun menanam padi dua kali itu bisa terwujud dan kekeringan bisa diatasi,” ungkapnya.

Sementara itu, kadis Pertanian dan Pangan Pemkab Jembrana I Wayan Sutama mengatakan saat ini di Jembrana potensi tanaman hampir 12.600 hektar Sampai Juni ada 6.200 hektar lahan pertanian yang masih berisi tanaman padi dan dari luas itu 147 hektar terancam kekeringan.

“Ada memang yang kekeringan akibat kemarau seperti di subak Manistutu Barat ini, awalnya cukup air ternyata tidak bisa diantisipasi selama dua bulan akhirnya seperti ini,” ungkapnya. (nm/bpn/tim)