Sekretaris Tim GTPP Covid-19 Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Suyasa, M.Pd
Sekretaris Tim GTPP Covid-19 Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Suyasa, M.Pd

BULELENG, balipuspanews.com – Ketegasan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Buleleng terhadap Surat Keterangan (Suket) aman Covid-19 yang akan diberikan ke masing-masing tempat ibadah yang akan melakukan upacara keagamaan maupun aktivitas sosial lainnya kembali ditekankan sifatnya dinamis, Sabtu (4/7/2020).

Suket tersebut nantinya akan diberikan ketika tim verifikasi dari GTPP Covid-19 Buleleng menyatakan telah menyatakan bahwa tempat ibadah tersebut tidak terdapat kasus terkonfirmasi covid 19.

Akan tetapi pihaknya menegaskan jika di wilayah tempat ibadah terdapat kasus Covid-19 ketika sudah mengantongi Suket, sudah dipastikan tempat ibadah tersebut berubah status menjadi tidak aman

Sekretaris Tim GTPP Covid-19 Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Suyasa, M.Pd mengungkapkan bahwa Suket aman Covid-19 terhadap masing masing tempat ibadah ditegaskan akan tetap dievaluasi setiap harinya.

Hal itu tersebut pihaknya lakukan mengingat tidak menutup kemungkinan di wilayah tersebut bisa terpapar.

Selain itu khususnya di Buleleng kasus penambahan pasien terkonfirmasi positif masih tetap terjadi hingga saat ini.

Sehingga pihaknya terus melakukan evaluasi berdasarkan update data perkembangan penanganan Covid-19 di Buleleng.

“Jika memang sudah tidak ada kasus Covid-19 di sekitaran wilayah tempat ibadah yang mengajukan Suket, maka Suket akan diberikan. Begitu sebaliknya, jika sebelumnya sudah menerima Suket aman Covid-19, namun nantinya terdapat kasus penularan Covid-19 maka Suketnya berubah menjadi tidak aman,” ungkapnya Gede Suyasa.

Lanjut Gede Suyasa mengatakan mengenai persyaratan untuk mendapatkan Suket aman Covid-19 pada tempat ibadah tentu tidak saja mengacu pada ada atau tidaknya kasus terkonfirmasi.

Selain itu dilihat dari ketersediaan fasilitas untuk menjalankan protokol kesehatan baik itu tempat cuci tangan, hand sanitizer, alat cek suhu tubuh, serta pengaturan jarak satu dengan yang lainnya.

Pihaknya tambah menekankan walaupun secara administratif dan faktual sarana prasarana sudah siap tetapi pelaksanaannya nanti tidak sesuai, maka statusnya dapat berubah menjadi tidak aman.

“Hal itu juga dapat terjadi ketika penanggung jawab tempat ibadah tidak menjalankan protokol kesehatan Covid-19,” pungkasnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka Suryawan

Facebook Comments