Sutantra: Toleransi yang Tulus menjadi Sumber Kekuatan Kehidupan Beragama

Ket foto: Diskusi Sedaring Nasional Multikultural bertema
Ket foto: Diskusi Sedaring Nasional Multikultural bertema "Penguatan Toleransi Beragama untuk Generasi Digital” pada Kamis 13/8/2020). Salah satu pembicara, Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc.PhD menekankan pentingnya tolernasi yang benar-benar tulus sebagai sumber kekuatan untuk mencapai kehidupan beragama yang rukun, damai dan bahagia.

JAKARTA, balipuspanews.com- Era  digitalisasi yang tidak mengenal batas dimensi ruang dan waktu dinilai akan memberi pengaruh kuat dan besar dalam kehidupan antar umat beragama. Sikap intoleransi sebagai dampak negatif yang akan ditimbulkan menjadi perhatian para pemuka agama.

Untuk mengantisipasi dampak buruk tersebut, kekuatan agama harus didudukan sebagai pondasi penting dan bukan justru dijadikan sebagai isu untuk memunculkan konflik di masyarakat.

Pendangan tersebut mengemuka dalam diskusi Sedaring Nasional Multikultural bertema  “Penguatan Toleransi Beragama untuk Generasi Digital” pada Kamis (13/8/2020).

Tiga pembicara lintas agama dihadirkan yaitu Guru Besar Pascasarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A. Pembicara kedua,  Guru Besar Emeritus STF Driyarkara, Prof Dr Franz Magnis-Suseno, SJ, dan pembicara  ketiga Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc.PhD,

Dalam pandangannya, Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc.PhD menyampaikan ajaran luhur yang disampaikan Maha Rsi Vyasa  yang menurut Sutantra  merupakan nabinya bagi umat Hindu. Kata Sutantra, Maha Rsi menyatakan bahwa agama adalah suatu kebenaran yang diwujudkan oleh Tuhan yang maha esa untuk pendakian moral dan spiritual untuk mencapai kehidupan yang rukun, damai harmonis, adil dan sejahtera dalam perbedaan.

Seperti pendaki gunung, dia berharap, umat beragama dapat menjalankan dharmanya menuju satu tujuan yang sama yaitu puncak gunung.

“Dari sikap pendaki gunung yang  orang berbeda dan dari jalan yang berbeda itulah yang saya sebut  sebagai toleransi yang tulus, tanpa pamrih, tanpa batas.  Ketika sampai di tujuan yaitu di puncak gunung, meraka saling berpelukan menikmati keindahan yang ada di puncak gunung. Sama-sama memekikkan kemenangan,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia meyakini toleransi yang tulus, tanpa pamrih, dan tanpa batas akan menimbulkan pada tiap umat beragama berupa kelembutan hati dan pikiran yang arif dan bijaksana.

“Satu nilai sangat penting bagi kami adalah Tri Kaya Parisuda, yang merupakan konsep dasar hidup manusia yang berpusat dari pikiran, perkataan dan perbuatan yang mana jika berjalan dengan baik maka kedamaian akan diperoleh,” sebut Sutantra.

Pada sesi tanya jawab, salah satu penanya mempersoalkan adanya politik identitas  yang saat ini kerap dimunculkan dari dampak sangat cepat dan kuat karena isu terus digaungkan di ruang digitalisasi dunia maya. Selain itu, ada juga penanya yang mempersoalkan perbedaan mencolok   sikap toleransi umat Hindu antara yang mayoritas seperti di India dengan umat Hindu minoritas seperti di Indonesia.

Menjawab itu, Sutantra mengatakan pada dasarnya ajaran Hindu menekankan pentingnya Sila, Satya dan Satya Dharma. Iapun menjabarkan umat Hindu haruslah sila atau santun dalam menegakkan kebenaran. Lalu Satya yaitu kewajiban dalam menjalankan keseimbangan antara dharma agama dan dharma negara.

“Dan ketiganya hukum karma. Hindu sangat fanatik dengam hukum karma yaitu kalau dia berbuat buruk maka akan menerima dampak dari perbuatannya yang buruk itu.  Dan, pesan penting dari Maha Rsi Vyasa, adalah berbuat baiklah dan tidak menyakiti karena itu adalah ibadah  utama,” tegasnya.

Pembicara lainnya, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A menegaskan untuk menciptakan toleransi antar umat beragama maka hal pertama yang harus dilakukan adalah jangan mempertentangkan antara agama dengan nasionalisme.

Dalam pandangan Islam, sebut mantan Menteri Agama RI ini, suatu negara yang semua elemen, komunitas dan kelompok masyarakatnya sudah dihimpun oleh sebuah wadah yang namanya negara  maka tidak perlu ada lagi istilah mayoritas dan minoritas.

“Karena semua sudah lebur dalam kesatuan bangsa. Jadi semua punya hak sama dan kewajiban sama. Jangan menganggap bahwa hak mayoritas itu lebih banyak dari minoritas. Dalam konteks kenegaraan semua sama haknya,” ucap Qurais Shihab.

Apabila ini bisa diterapkan di dalam masyarakat, ia meyakini pada titik inilah kehidupan toleransi agama akan berjalan baik.

“Karena mereka punya hak melaksanakan ajaran agamanya, punya hak dihormati, dan punya hak dapat  bantuan  dari pemerintah yang sama,” tegasnya.

Sementara itu, Romo Magnis Susesno mengatakan peraturan perundangan dan UUD 1945 yang mnenjadi dasar hukum negara Indonesia telah cukup baik mengatur tindakan intoleransi. Dalam hal ini, menurutnya negara telah memberi jaminan perlindungan baik melalui perangkat aturan hukumnya.

Oleh karena itu, yang diperlukan untuk menjaga dan menguatkan toleransi adalah dari pribadi orang Indonesia sendiri untuk menjalankan nilai-nilai agama dan negara yang sudah diatur baik dalam kitab suci dan ajaran agama yang dianutnya, maupun peratruan negara dalam bentuk peraturan perundangan.

“Jadi kita bertoleransi karena meyakini bahwa orang beragama semuanya akan diterima sepenuhnya oleh tuhan. Tidak hanya menghormati tetapi juga menghargai,” ucap Romo Magnis Suseno.

Penulis/Editor : Hardianto