sewa motor matic murah dibali

TABANAN, Balipuspanews.com – Tidak bisa dipungkiri, pariwisata telah menjadi tumpuan ekonomi bagi Bali. Nyatanya pula tidak sedikit masyarakat Bali yang menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata. Demikian yang diungkapkan politikus PDIP perempuan Bali, Luh Putu Suwandewi Aeschlimann, S.Sos.,MM.

Perempuan kelahiran Denpasar tahun 1962 ini menyebutkan ketika Bali telah menjadi salah satu destinasi pariwisata terbaik di dunia, maka dibalik kucuran dolar, Bali juga memiliki beban yang besar.

“Beban besar yang saya maksudkan, adalah menjaga berbagai potensi yang mampu menjadi magnet bagi derasnya kunjungan wisatawan,” ungkapnya.

Berbicara potensi yang menjadi magnet bagi derasnya kunjungan wisatawan ke Bali, alumnus Universitas WR. Supratman ini menyebutkan tentu bersumber dari pengejawantahan konsepsi Tri Hita Karana. Konsepsi ini menurutnya sangat relevan dijadikan landasan pembangunan Bali. Sekaligus juga menjadi jiwa dan roh Bali.

Melihat bahwa konsepsi Tri Hita Karana sebagai landasan pembangunan Bali, maka semestinya pembangunan pada sektor pariwisata di Bali juga harus tertata seperti konsepsi tersebut. Artinya, dalam menjaga aset pariwisata, penataannya harus jelas.

“Jelas yang saya maksudkan adalah kawasan suci harus disucikan, kawasan fasilitas juga jelas dan sebagainya. Tidak semua tempat dibiarkan dibangun fasilitas pariwisata dengan bebas,” jelasnya.

Berbicara fasilitas pariwisata, Suwandewi dengan tegas menyebutkan bahwa keberadaan fasilitas pariwisata perlu ditijau kembali agar menjadikan pariwisata yg berkwalitas(exclusives)untuk masa depan Bali.

“Untuk beberapa dekade kedepan pembangunan fasilitas pariwisata di Bali sebaiknya di tinjau kembali untuk pengembangan pariwisata yg strategis yg berpotensi untuk jd distinasi pariwisata baru.

Pernyataannya ini dikarenakan ia melihat ada kesan Bali kebablasan menata dirinya dalam pembangunan sektor pariwisata. Sehingga untuk menghindari terjadinya kehancuran bagi masa depan Bali, seluruh komponen masyarakat Bali sementara harus introspeksi diri. Terutama bagi para pemegang kebijakan dan pelaku pariwisata.

Baginya, penghentian sementara pembangunan fasilitas dan menata pariwisata di Bali bukan berarti Bali tidak butuh investasi dan investor. Namun mengarahkan upaya mengembangkan sektor pariwisata yang bersifat mandiri dengan mengedepankan potensi dan sumber daya manusia lokal.

“Saya melihat banyak tempat di Bali yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan pariwisata. Tentunya kawasan pariwisata yang berbasis kerakyatan. Misalnya agro wisata, ekowisata dan sejenisnya.

Ia menambahkan, ketika tempat-tempat yang memiliki potensi wisata digarap dan ditata dengan spirit kelokalan, tentu akan mampu mendorong meningkatnya perekonomian rakyat. Sehingga pada akhirnya dunia pariwisata Bali benar-benar dinikmati dan menguntungkan masyarakat Bali. Selain juga akan berdampak pada kesadaran masyarakatnya untuk menjaga dan melestarikan taksu – taksu Bali. (rah/bpn/tim)

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here