karyawan dan nasabah kopeasi temui ketua
NEGARA,balipudpanews.com-Nasabah Koprasi Simpan Pinjam (KSP) Pariartha Sejahterai protes. Pasalnya tabungan mereka yang mencapai ratusan juta pengembalianya tidak jelas.
Beberapa nassbah mengatakan ang yang ditabungkan di koperasi yang beralamat di Jalan Cendrawasih, Lingkungan Satria, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana tersebut, hingga kini belum ada kejelasan kapan dikembalikan koperasi.
Padahak pembayaran pencairan tabungan tersebut sudah lewat jatuh tempo. Meraka seharusnya sudah bisa menarik tabungan tahunan tersebut tahun 2019. Namun hingga kini belum ada pencairan dari koperasi.
“Jatuh tempo tabungan kami sudah lewat tapi belum ada pencairan,” ujar salah seorang nasabah KSP Pariartha Sejahtera, I Kadek Surya Cita  warga Banjar Jati, Desa Baluk, Kecamatan Negara yang memiliki tabungan  Rp 700 ribu.
Menurutnya seharusnya jatuh tempo penarikan tabungan harian tersebut pada Agustus 2019 dan  sangat dibutuhkannya untuk membiayai semester akhir kuliahnya, “Saya nabung karena niat untuk keperluan kuliah, kebetulan kenal dengan karyawan yang mungut,” ungkapnya.
Yang lebih miris lagi adalah salah seorang nasaba lansia. Ni Nyoman Wendi(75), asal Lingkungan Awen Mertasari, Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara. Hingga kini tabungannya Rp 2,32 juta belum bisa dicairkan.
“Saya tiap hari menabung dari hasil jualan di warung, seharusnya sudah bisa ditarik 2019, Maunya pakai tambahan dagangan” ungkapnya.
Sedangkan beberapa nasabah meragukan surat pernyataan dari Pengurus KSP Pariartha Sejahtera. Selain pernyataan ditandatangani hanya oleh Ketua Koperasi, I Gusti Putu Sugita, sedangkan sekretaris dan bendahara maupun anggota pengurus koperasi justru tidak ikut tanda tangan.
Disisi lain karyawan (kolektor) kini terpaksa mencari pinjaman pribadi di bank hingga puluhan juta rupiah untuk mencicil pengembalian dana nasabah. Namun hingga kini belum ada kejelasan kepastian waktu pembayaran dari koperasi.
Ketua Koperasi, I Gusti Putu Sugita saat didarangi karyawan dan nasabah Senin (20/1) menyampaikan tabungan nasabah belum bisa sepenuhnya dikembalikan lantaran pembayaran pinjaman nasabah macet, jumlah tabungan sampai  Juli 2019 Rp 126.755.000 dan jumlah tagihan macet Rp 202.306.000.
Menurutnya persolan keungan koperasi yang dipimpinya sudah terjadi sejak akhir 2018 namun pemungutan tabungan dihentikan pada tahun 2019, dan koperasi sudah tidak RAT sejak 2017.
Terkait tuntutan salah seorang karyawan soal kepastian pengembalian dana nasabah dan tanggungjawab ketua koperasi terhadap pinjaman pribadi di Bank yang digunakan mencicil tabungan nasabah, Sugita tidak memberikan kepastian waktu pembayaran.
Karena belum ada kepastian lalu diminta  membuat pernyataan untuk bertemu kembali dengan karyawan Selasa (21/1) (nm/bpb/tim)