sewa motor matic murah dibali

SINGARAJA, balipuspanews.com — Nengah Rumiada (43) terpaksa harus digelandang tim Street Lion Polsek Singaraja, lantaran melakukan aksi premanisme. Pria asal Karangasem ini berutang, namun enggan membayar. Parahnya, sang penagih utang justru diancam menggunakan parang. Akibatnya, Rumiada pun kini harus merasakan gerahnya tidur di balik jeruji besi.

Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Anak Agung Wiranata Kusuma saat ditemui Jumat (18/1) mengatakan, kejadian pengancaman dengan senjata tajam ini terjadi pada Rabu (17/1), sekitar pukul 18.00 wita. Saat itu korban yang diketahui bernama Gede Budiartama (26) mendatangi kediaman pelaku di BTN Lestari F2, Nomor 6, Kelurahan Banyuning, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, untuk menangih utang.

Pelaku disebut-sebut telah menunggak cicilan sebanyak tiga kali dengan nilai total pinjaman sebesar Rp 200 juta, di salah satu bank swasta di Buleleng, tempat korban Budiartama bekerja.

Kedatangan korban ini pun mulanya disambut hangat oleh istri pelaku, Kamawati (42). Namun rupanya tindakan sang istri membuat pelaku Rumiada naik darah. Didorongnya sang istri hingga terjatuh, tepat di depan sang penagih utang. Mengetahui tindakan ini, korban Budiartama pun kontan menegur pelaku Rumiada. Rupanya teguran itu berujung petaka. Rumiada merasa tersinggung, lalu masuk ke dalam rumah, dan mengambil sebilah parang, untuk selanjutnya diarahkan ke leher korban Budiartama.

Beruntung pelaku tidak mengahabisi nyawa korban Budiartama. Ia justru meminta kepada korban untuk segera mencari istrinya yang kabur akibat dipukuli. Kesempatan ini pun lantas dimanfaatkan oleh korban Budiartama untuk melapor ke Mapolsek Kota Singaraja.

“Bank sudah pernah mengirim orang pertama untuk menagih utang, namun pelaku marah-marah bahkan sempat dilempar batu oleh pelaku. Kedua juga sama, seperti marah-marah. Dan ini adalah kiriman orang ke tiga dari pihak bank. Dan ternyata pelaku marah-marah, bahkan istrinya sendiri dia dorong sampai terjatuh. Sementara si penagih diancam dengan parang, yang dihunus ke leher,” jelas Kompol Wiranata.

Polisi yang menerima laporan ini pun bergegas mendatangi TKP. Pelaku Rumiada diamankan tanpa melakukan perlawanan, bersama barang bukti sebuah pedang sepanjang 60 sentimeter.

“Kami sudah berkomitemn untuk aksi premanisme akan kami proses lebih lanjut. Ini juga perintah dari Kapolda,” ujarnya.

Sementara pelaku Rumiada dihadapan awak media mengaku menyesal telah melakukan pengancaman dengan menggunakan senjata tajam. Dengan kepala tertunduk, ia menyampaikan permohonan maaf kepada korban Budiartama.

 

“Mohon maaf sebelumbya pada pimpinan bank dan korban. Saat kejadian saya dalam keadaan bingung, sehingga khilaf,” ujar pria yang bekerja sebagai wirausaha ini.

Akibat perbuatannya, pelaku Rumiada pun dijerat dengan pasal 335 ayat 1 Jo undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam. Dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here