Aspirasi bersama kumpulan pemuda Karangasem (KPK) di Gedung DPRD
Aspirasi bersama kumpulan pemuda Karangasem (KPK) di Gedung DPRD
sewa motor matic murah dibali

KARANGASEM, balipuspanews.com – Air mata keluarga pewaris Pahlawan Nasional, I Gusti Ketut Jelantik dari Puri Jaga Raga tak terbendung lagi ketika menyampaikan aspirasi bersama kumpulan pemuda Karangasem (KPK) di Gedung DPRD Karagasem pada Senin (19/08/2019).

Aspirasi yang disampaikan terkait perbaikan kerusakan tugu pahlawan Nasional asli Karangasem tersebut akibat gempa Lombok yang terjadi pada tahun 2018 lalu, dimana bagian kepala hingga tubuh patung ambruk dan yang tersisa hanyalah bagian kakinya saja.

Suasana haru yang membuat air mata beberapa keluarga puri meneteskan air mata ketika I Gusti Agung Arya Dewantara salah satu keturunan asli pahlawan Nasional Gusti Ketut Jelantik menceritrakan sedikit kisah heroik yang telah dilalui oleh leluhurnya tersebut.

Dalam ceritranya, sekitar tahun 1846, Guti Ketut Jelantik berperang melawan penjajah Belanda dibumi Panji Singaraja. Saat itu beliau bertempur sebanyak 3 kali agresi. Agresi pertama pasukan beliau kalah saat bertempur di Singaraja, kemudian beliau lari dan membuat benteng di Balepunduk. Sekitar tahun 1848, hampir seluruh kerajaan diseluruh Bali memberikan pasukannya untuk bertempur bersama Gusti Ketut Jelantik.

Dalam agresi tersebut, strategi brilian dari Gusti Ketut Jelantik yang dikenal dengan nama strategi “supit urang” (seperti capit udang) berhasil mengalahkan pasukan belanda bahkan membuat salah satu jendral pasukan Belanda tewas hingga kabarnya menggemparkan koran seluruh Eropa begitu juga dengan kesuksesan memenangkan argresi yang ke tiga kalinya.

“Meski sempat kalah, namun 2 agresi berikutnya berhasil dimenangkan bahkan salah satu gubernur jendral pasukan belanda terbunuh dengan taktik yang dikenal dengan sebutan “Supit Urang”,” kata Agung Arya Dewantara.

Cerita Arya Dewantara kemudian dilanjutkan oleh Gusti Agung Gede Jelantik yang menceritrakan tetang kematian Pahlawan Gusti Ketut Jelantik, semua orang harus tau bahwa beliu tidak gugur dimedan perang, dengan kemampuan spiritual yang dimilikinya musuh – musuhnya menjadi kelabakan untuk mengalahkan beliau.

Belanda melakukan segala cara dan upaya untuk bisa mengalahkan Gusti Ketut Jelantik namun karena spritualnya beliau tidak pernah bisa dikalahkan hingga pada akhirnya beliau kalah itupun karena diperdaya sodaranya sendiri dengan mengiklaskan dirinya untuk berpulang kenirwana dengan melepaskan segara spiritual yang selama berperang menyertainya.

“Beliau tidak meninggal dimedan perang, melainkan karena diperdaya oleh saudaranya sendiri sehingga beliau mau melepaskan semua spiritualnya dan iklas untuk kembali kesang pencipta,” tutur Agung Gede Jelantik.

Disamping itu, dalam penyampaian aspirasi tersebut dari keturunan Pahlawan Gusti Ketut Jelantik juga hadir Gusti Agung Wayan Jelantik generasi keturunan ketiga, Gusti Agung Nengah Karang keturun keempat dan Gusti Agung Alit Ardana keturunan generasi ke lima. (rls/bpn/tim)