Camat Kubutambahan Drs. Made Suyasa, M.Si.
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com — Kecamatan Kubutambahan kembali menggelar festival di tahun 2018. Pagelaran Aksi Seni Budaya Kubutambahan Berkarya (Passbukrya) digelar untuk ketiga kali bertajuk ‘Tan Hana Dharma Mangrwa’, berlangsung selama 5 hari, mulai 6 Oktober hingga 10 Oktober 2018.

Sederet kesenian mengangkat kearifan lokal kecamatan kubutambahan bakal disuguhkan dalam Passbukrya, dipusatkan di GOR Besi Mejajar, Desa Kubutambahan.

Salah satunya, Tari Rejang Renteng Massal melibatkan 260 penari dari ibu-ibu PKK Desa se-Kecamatan Kubutambahan, bakal dipentaskan pada  pembukaan Passbukrya. Selain itu, adapula pentas Tari Kecak Kolosal (inovatif) persembahan dari siswa SMA Bali Mandara.

Sebelum Passbukrya dibuka resmi, Pemerintah Kecamatan Kubutambahan mengadakan sejumlah lomba bertujuan untuk melestarikan budaya Bali, seperti lomba  Mesatua Bali tingkat Sekolah Dasar (SD), lomba Pidarta Bahasa Bali tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bahkan, juga digelar lomba Ketrampilan Tradisional tingkat SD, seperti Ngulat Kisa, Klangsah, dan Regek, diadakan di Kantor Camat Kubutambahan.

Tak hanya itu, panitia Passbukrya juga mengadakan lomba Ngelawar Kuwir. Nantinya, lomba itu akan diikuti oleh 13 desa di Kecamatan Kubutambahan, termasuk kegiatan bazaar buah lokal dan pameran produk unggulan.

 

Camat Kubutambahan Drs. Made Suyasa, M.Si, ketika ditemui mengatakan, diselenggarakannya kegiatan Passbukrya ketiga di tahun 2018, bertajuk Tan Hana Dharma Mangrwa memiliki tujuan untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan seluruh potensi seni dan budaya Kecamatan Kubutambahan berbasis kearifan lokal.

Tema Tan Hana Dharma Mangrwa, sejatinya tak lepas dari filosofi Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, dimana Kecamatan Kubutambahan, memiliki wilayah topografi ‘Nyegara Gunung’, terdiri dari 13 desa dinas dan 22 desa pakraman.

“Melalui Passbukrya dengan tema Tan Hana Dharma Mangrwa, keberagaman seni, budaya, adat, tradisi, ras, suku agama, kepercayaan di Kecamatan Kubutambahan nantinya dapat saling mengisi, saling melengkapi bergandeng tangan dalam menciptakan keutuhan dalam sebuah perbedaan,” ucap Camat Suyasa, di ruang kerjanya, Kamis (4/10) sore.

Imbuh dia, inspirasi tema Tan Hana Dharma Mangrwa, tak lepas dari keberadaan salah satu bangunan suci tertua di Desa Kubutambahan, yakni Pura Negara Kerta Loka Gambur Anglayang.

Pura Negara Kerta Loka Gambur Anglayang yang berlokasi di wilayah Pantai Kuta Banding, Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng memiliki beragam keunikan. Bahkan, masyarakat setempat sering juga menyebut Pura Negara Kerta Loka Gambur Anglayang sebagai Pura Pancasila dan Pura Multikultur. Dimana, bangunan pelinggih inilah yang mencerminkan keragaman etnik dan agama di nusantara.

 

Keberagaman etnik dan agama di nusantara dibuktikan dari bangunan pelinggih Ratu Bagus Sundawan yang mewakili unsur Suku Sunda. Lalu, ada pelinggih Ratu Bagus Melayu dari unsur ras Melayu. Pun begitu, dengan pelinggih Ratu Ayu Syahbandar dan Ratu Manik Mas simbol Cina atau Buddha, lalu pelinggih Ratu Pasek, Dewi Sri dan Ratu Gede Siwa yang mencerminkan unsur Hindu.

Keunikan lain, nampak pada bangunan pelinggih bernama Ratu Gede Dalem Mekah, sebuah bangunan pelinggih yang mewakili unsur Islam.

“Passbukrya mengusung tema Tan Hana Dharma Mangrwa, memang tak lepas dari sisi spiritual, utamanya keberadaan Pura Negara Kerta Loka Gambur Anglayang. Jadi, mengelola (menyatukan perbedaan) masyarakat di kecamatan kubutambahan tidak saja dibutuhkan kemampuan intelektual secara sekala, namun juga harus memperhatikan kekuatan niskala. Ya, melalui Passbukrya kita satukan kecamatan kubutambahan dalam pikiran, kata, dan perbuatan mendukung program pemerintah Kabupaten Buleleng,” ungkapnya.

Menurutnya, selama dua kali penyelangaraan Passbukrya terbukti mampu meningkatkan upaya berkesenian maupun berbudaya ditengah masyarakat. Tidak hanya yang sudah berjalan, namun mampu menumbuhkan kreatifitas berkesenian  kaum milenial

Nah, selain mengeksploitasi seni dan budaya, Passbukrya juga menyuguhkan hiburan dari beberapa artis lokal Bali.

Disamping itu, panitia bekerjasama dengan dinas terkait melakukan kegiatan restocking ikan sekaligus peresmian ruang terbuka hijau ramah anak di kantor camat kubutambahan.

“Besar harapan kami, Passbukrya bisa semakin baik dari tahun sebelumnya,” tandasnya.

Advertisement

Tinggalkan Komentar...