Kontingen Nusa Penida wakil KLungkung tampil memukau di PKB
Kontingen Nusa Penida wakil KLungkung tampil memukau di PKB
sewa motor matic murah dibali

SEMARAPURA,balipuspanews.com- Pagelaran Pesta Kesenian Bali salah ajang kebudayaan Bali yang melibatkan kabupaten se-Bali. Pawai kebudayaan juga diikuti undangan daerah lain seperti Papua, Nusa Tenggara serta daerah lainya termasuk negara sahabat China, Korea serta negara lainya. Sementara kontingen Kabupaten Klungkung mempersembahkan garapan kesenian sakral & menampilkan kerajinan kain tenun khas Nusa Penida rangrang dan cepuk.

PKB KE-XLI tahun 2019 yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo kemarin sore. Kabupaten Klungkung diwakili kecamatan Nusa Penida tampil depan podium kehormatan mengusung tema Nusa Ning Nusa.

Koordinator Kontingen Kabupaten Klungkung, Dewa Ayu Wedana Asih saat ditemui disela-sela pawai di Renon, Sabtu (15/6)lalu menyampaikan kontingen Klungkung menggarap kesenian yang selama ini sebagai tari sakral yang berasal dari Nusa Penida tepatnya di Dusun Pelilit. Diketahui tarian ini salah satu kesenian yang jauh berbeda dari pakem kesenian pada umumnya di Bali.

Nusaning Nusa tema yang diusung adalah sebuah penggambaran budaya adat kepulauan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung yang terdiri dari; Nusa Gede, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan. Keunikan dan keanekaragaman budayanya meliputi kesenian tari dan tabuh, kain tenun, kuliner, dan logat bahasa Balinya.

Nusaning Nusa, akan mensinergikan dan mengkemas aneka budaya kepulauan Nusa Penida meliputi Tari Baris Jangkang (100 penari) dengan iringan gamelan Bebonangan, kober umbul-umbul (100 penari), Daha-Truna (20 orang) dan barisan Dulang Mangap/Pecalang (10 orang) dengan balutan pakaian khas Nusa Penida (kain cepuk, grodog, dan keling), simbol Kabupaten Klungkung, serta diiringi gamelan Balaganjur. Keseluruhannya crew pendukung pawai berjumlah sekitar 300 seniman diformat dalan bentuk Pawai Pesta Kesenian Bali sebagai wakil Kabupaten Klungkung.

” kita memperlihatkan keunikan yang dimiliki Nusa Penida baik dari garapan tari maupun busana yang ditampilkan. Identitas daerah yang diperkenalkan secara luas menjadi kebanggan bersama mewarnai seni event PKB, ” tuturnya.

Senada dengan pembina kontingen, I Dewa Ketut Wicaksana, semangat menggelora dari penari memudahkan kita mengarahkan mereka walaupun jarak membatasi pembina. Melihat gelora antusias mereka kita (pembina, red) semangat yang sama. Ia menyebut kesenian Baris Jangkang Pelilit disajikan dalam pawai PKB terinspirasi dari sejarah tari ini. ” hasil performance sangat mengagumkan, ” ujar Dosen ISI Denpasar.

Sementara Camat Nusa Penida I Komang Wdiyasa Putra mengapresiasi performan kotingen pawai. Spektakuler, sungguh membanggakan. Hasil lelah terbayar tuntas. Ia juga berterima kasih kepada semua pihak yang membantu kontingen baik dari akomodasi, gladi hingga tampil di depan podium kehormatan. Pertama kalinya kontingen pawai diwakili secara penuh kecamatan Nusa Penida, kesempatan yang baik ini bagian promo kita dengan keunikan kesenian dan busana khas rangrang dan cepuk. Garapan Nusaning Nusa maliibatkan seniman sebagai pembina antara lain I Ketut Lanus, Ni Ketut Suwitri, I Dewa Gede Rai Sudiarta, Desak Gede Bunter dan I Dewa Gede Ardha Kencana.

Sekelumit Sejarah Tari Baris Jangkang ini disebutkan pada zaman dahulu di Kerajaan Semarapura ada seseorang abdi (parekan) yang bernama Jro Wayan Kulit yang sehari-harinya bertugas memberi makan babi.

Pada suatu saat Jro Wayan Kulit permisi untuk pulang ke Nusa Penida sekaligus memohon tempat makan babi yang berbentuk kempur yang berbahan perunggu untuk dibawa pulang ke Nusa Penida. Kenapa tempat makan babi yang berupa kempur ini dimohon, karena menurut Jro Wayan Kulit bahwa kempur ini mempunyai kekuatan magis yang sangat luar biasa.

Atas permohonan ini karena jasa dan kesetiaannya terhadap raja, akhirnya tempat makan babi yang berupa kempur itu diberikan oleh raja dan dibawa pulang oleh Jro Wayan Kulit ke Nusa Penida, tepatnya di desa asalnya yang sekarang bernama Desa Pakraman Pelilit.

Pada suatu hari terjadi penyerangan terhadap Desa Plilit oleh desa lain yang berada di sekitar Desa Pelilit. Berkat kesaktian Jro Wayan Kulit dan kekuatan kempur yang pada saat itu dibunyikan dan mencabut daun ilalang yang ditaruh di telinga Jro Wayan Kulit, akhirnya musuh pun lari jungkang jungking tidak jadi menyerang.

Terinspirasi dari kejadian itu setelah desa aman dan tentram Jro Wayan Kulit membuat tari yang dinamakan sesolahan Jangkang atau yang sekarang lebih terkenal dengan nama Tari Baris Jangkang, dimana tarian ini ditarikan setiap ada pujawali baik di Pura Desa, Pura Dalem, Pura Puseh maupun pura-pura lain yang disungsung oleh Desa Pakraman Pelilit.

Uniknya Tarian Jangkang ini juga ditarikan atau mesolah ketika ada warga desa yang membayar kaul, dan juga tarian ini ditarikan keliling desa ketika terjadi musim kemarau yang berkepanjangan di Desa Pelilit. Karena Tari Jangkang di desa pakraman ini disakralkan oleh masyarakatnya maka setiap hari suci Buda Kliwon Ugu dihaturkan sesaji dan diupacarai. (Roni/bpn/tim)