Tas Etnik Kain Tradisional Diminati Konsumen Mancanegara

Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Bisnis, balipuspanews.com – Kecintaan pada kain-kain Nusantara, diiringi perkenalannya dengan perajin di seluruh pelosok Tanah Air, meretaskan tekad kuat di benak Dyah Iswarini untuk mengangkat derajat produk budaya itu agar dihargai di negeri sendiri, sekaligus lebih dikenal di mancanegara.

“Sudah lama saya mengoleksi kain dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang dari Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa, Madura, Nusa Tenggara Timur dan sejumlah daerah lainnya,” kata wanita yang biasa dipanggil Dyah ini.

Dyah melanjutkan, kesukaannya terjun langsung ke berbagai daerah, menggali cerita dan filosofi di balik motif sebuah kain, melahirkan kesan mendalam baginya. Wanita kelahiran Semarang – Jawa Tengah ini menjadi kian mencintai kain Nusantara. Terlebih melihat proses pembuatan kain yang sering kali memakan waktu hingga berbulan-bulan lamanya.

Sayangnya, begitu tercipta selembar produk yang indah, kain itu malah cuma dimanfaatkan sebagai selimut atau sarung. Padahal proses pembuatannya tergolong rumit dan memakan waktu yang cukup lama. Kondisi ini menggugah batin Dyah, sehingga sejak tahun lalu tercetus niat untuk menciptakan produk yang menggunakan bahan dasar kain Nusantara sebagai langkah untuk meningkatkan derajatnya. Baik di mata masyarakat, maupun pencinta fashion di dalam negeri dan mancanegara. Produk yang dipilih Dyah adalah tas, yang menurutnya merupakan produk yang banyak diminati wanita berbagai kalangan.

Kain-kain koleksi Dyah kemudian digunakan sebagai bahan baku tas wanita, dengan dipadukan dengan beragam kulit satwa. Seperti kulit ular, sapi atau kambing, yang didapatkan dari Jambi. Dyah sengaja memilih warna-warna yang mencolok atau ‘full colour’, dan sering bereksperimen dengan model tabrak warna dalam memadu-padankan tas untuk mencakup lebih luas selera konsumen. Produk tas berbagai model itu diberi merk Catha Cantika, yang berasal dari bahasa Sansekerta dan bermakna adalah wanita cantik yang kreatif.

Untuk membuat produk tasnya, Dyah menjalin kerja sama dengan perajin dari Jakarta dan Bali. Berdasarkan ‘passion’ pada dunia fashion, Dyah pun total mendesain tas dan menentukan bahan bakunya. Untuk batik dari berbagai daerah, Dyah sengaja menggunakan batik jenis cap, ketimbang batik tulis. Alasannya, jika menggunakan batik tulis, nanti jika produk tas telah jadi, harganya akan melejit tinggi, dikarenakan mahalnya harga batik tulis.

“Saya akhirnya memilih batik cap saja. Setelah menjadi tas, hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Tas etnik paduan kulit dan batik menjadi produk yang unik sekaligus bercita budaya. Saya sangat senang, ketika saya perkenalkan ke pasar, ternyata respon konsumen cukup antusias,” ujar wanita kelahiran tahun 1968 ini.

Konsumen peminat tas bukan hanya masyarakat lokal, melainkan pula warga negara asing pun menunjukkan ketertarikan yang besar. Ketika Dyah menyertakan produknya di even kegiatan Pesta Kesenian Bali tahun ini, ada beberapa peminat dari luar negeri yang ingin bekerja sama, seperti dari Amerika Serikat, Jepang, dan Korea, untuk memasarkan produk Catha Cantika di mancanegara.

Banyak konsumen yang memuji seni tradisional yang muncul pada tas Catha Cantika karena dinilai sarat dengan tema kebudayaan Indonesia dan perpaduan warna-warnanya yang mencolok, justru menjadi daya tarik tersendiri.

Limited Edition

Tas yang diproduksi perajin Dyah tidak dibikin secara massal, melainkan ‘limited edition’ untuk menjaga eksklusivitas. Harga yang dipatok untuk masing-masing tas berkisar antara Rp 550 ribu hingga Rp 3,5 juta. Mahalnya bahan baku dan tingkat kerumitan produk, menjadi acuan untuk menentukan harga tas. Tas yang diproduksi itu dibikin secara ‘hand made’ sehingga tidak bisa serta merta dibuat dengan kuantitas yang besar. Dalam seminggu, perajin Dyah bisa membuat tas 5-6 produk dan langsung disiapkan untuk stok. Belakangan ini, Dyah lebih intensif memasarkan produk melalui jalur online dan pameran-pameran.

“Kalau dipasarkan via online, maka tas itu bisa menjangkau konsumen dari seluruh kota-kota besar di Indonesia. Bahkan, belakangan permintaan tas etnik dari negeri jiran atau pembeli mancanegara pun mulai kontinyu. Bagi saya hal ini adalah sebuah langkah yang menggembirakan. Artinya produk tas itu bisa diterima pasar berbagai negara. Baik model dan bahan bakunya memang saya tidak main-main, selalu yang memiliki standar kualitas yang bagus,” ujarnya.

Menyinggung soal model tas, Dyah yang selalu update produk luar negeri pun mengaku memiliki selera desain sendiri dan enggan menjiplak hasil karya orang lain. Desain itu ditentukan Dyah berdasarkan arah selera konsumen, namun tetap mengedepankan untuk mengusung warna budaya budaya Indonesia. Kuatnya minat Dyah untuk mengangkat pamor budaya Indonesia, membuat lebih memperkenalkan kain Indonesia di mata dunia.

Bahkan, Dyah ke depan tidak hanya berminat memadu-padankan kain pada sebentuk tas, melainkan ingin pula membuat baju, taplak dan produk etnik lainnya, dengan tetap menggunakan kain tradisional dari berbagai daerah.

“Meski pemain atau pebisnis tas sudah cukup banyak dan persaingan amat ketat, tapi saya tetap yakin bisnis ini menjanjikan dan memiliki prospek cerah. Saya menyiasati persaingan dengan cara terus meng-update model-model tas supaya tidak terkesan kuno dan mengikuti tren dunia. Intinya saya ‘combine’ apa desain yang lagi tren dengan ciri khas saya. Dan tentu saja penonjolan pada kain Nusantara yang menjadi pertimbangan utama. Bisnis saya memang bertujuan mengangkat kain tradisional dan meningkatkan kualitas hidup perajinnya,” ujarnya.

Tinggalkan Komentar...