Tattwa Bertutur Tentang Hakikat Diri

88

Tatwa Mutiara,  balipuspanews. com -Tattwa jika dimaknai sebagai hakikat dari yang “Itu” sebagai Tuhan, maka Tattwa juga dapat merujuk pada hakikat diri sebagai manusia. Siapa sebenarnya kita, darimana kita berasal, apa tujuan hidup kita, dan kemana tujuan kita setelah mati? Pertanyaan elementer bagi kita ketika hendak memasuki Tattwa diri, dan pertanyaan inilah yang hendaknya kita tanyakan kepada diri sendiri, bukan orang lain. Oleh karenanya, sejatinya kita hidup adalah menemukan jawaban dari semua pertanyaan itu, sehingga kita memahami hakikat realitas dari keberadaan ini. Sebab untuk memahami hakikat realitas ini, maka diawali dengan mengetahui hakikat diri.
Sebagaimana guru Tantra sering berujar, bahwa segala sesuatu berawal dari dalam diri. Segala macam kondisi eksternal yang kita alami adalah akibat dari proyeksi yang ditimbulkan oleh apa yang ada dalam diri. Tatkala diri dipenuhi dengan keindahan, maka semua yang kita lihat adalah keindahan, dan semua keindahan itu akan turut membawa sebuah pengalaman tentang keindahan.

Sebaliknya, jika diri dipenuhi kemarahan, maka semuanya adalah dipenuhi kemarahan.

Lantas, bagaimana Tattwa melihat atau bertutur tentang hakikat diri? Tattwa pun bertutur, bahwa hakikat diri tiada lain adalah Sang Atma. Sang Atma adalah Manik (baca: benih) yang berada dalam tubuh. Sedangkan tubuh diibaratkan Cecupu Manik, yakni wadah dari Sang Atma atau boleh dikatakan sarira yang menopang Sang Atma, sehingga ia dapat berada pada wadahnya. Lalu kenapa, Sang Atma dikatakan “manik” atau benih? Sebab Sang Atma lah yang memberikan daya kehidupan bagi badan ragawi ini, sehingga telinga dari yang tidak mendengar bisa mendengar, hidup dari yang tidak dapat membau bisa membau, bibir dari yang tidak dapat berkata bisa terkatakan dan mata yang semula tidak bisa melihat dapat melihat.

Pun semua organ inderawi dari yang semula hanyalah organ, hingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya; karena disentuh kekuatan Sang Atma, sehingga kita dapat merasa dan menjadi penikmat atas semuanya.

Karena Ia adalah benih kehidupan, dan sungguh utama Katattwan manusia sebagai Atma dalam Cecupu Manik, maka inilah hendaknya dituju bagi mereka yang berada pada jalan Yoga Sastra atau jalan spiritual lainnya.

Kemudian, jika Sang Atma dinyatakan demikian sebagai benih, maka tentu ada sumber yang mengadakan benih dan memberikan ia tumbuh dan berkembang. Dalam Tattwa menyatakan bahwa yang mengadakan Sang Atma adalah Bhatara Siwa sebagai sumber darimana semua ini berasal. Beliaulah Bhatara yang mengadakan semuanya dari awal, tengah dan akhir dalam siklus abadi. Olehnya, Sang Atma tidak berbeda dengan Bhatara Siwa, dan hanya dengan pengetahuan Kasiwan (baca: suci) hal itu dapat diketahui. Oleh karena itu, Bhatara Siwa dan Sang Atma adalah inti dari Adnyana Wisesa atau Samyak Jnana (inti dari semua pengetahuan) bagi mereka yang mendalami laku Tantra Aksara. Dengan demikian, Samyak Jnana adalah intisari dari pengetahuan untuk menyatukan Sang Atma dengan Bhatara Siwa sehingga lebur ke dalam nir wisesa (baca: tanpa bentuk).
Jadi hakikat diri adalah Sang Atma sebagai kesadaran murni personal yang tidak berbeda dengan Bhatara Siwa sebagai kesadaran murni universal. Lantas, bagaimana kita untuk menyadari dan memahami hakikat diri yang tiada lain adalah Sang Atma itu? Tattwa kembali bertutur, bahwa untuk menyadari dan mengalami diri adalah Sang Atma itu, maka diawali dengan sesering mungkin melihat ke dalam, dan membuka pintu diri serta berdialog dengan Sang Diri sejati dalam diri, baik melalui perenungan, meditasi, semedi dan sadhana (disiplin spiritual) lainnya.

Bagi penekun Tantra Aksara, semua itu didasarkan atas laku Yoga Aksara, yakni menjadikan aksara dalam diri sebagai media mengenal diri. Sebab inti dari pengetahuan akan diketahui dengan Anglukun Dasaksara, yakni menyatukan sepuluh aksara. Kemudian dari sepuluh dijadikan Pancabrahma dan Panca Tirtha. Pancabrahma dijadikan Panca Aksara, dan menjadi Triaksarana dan Triaksara dijadikan Rwabhineda aksara. Kemudian satukan semua itu menjadi Sanghyang Ekaksara-wisesa. Sanghyang Ekaksara ini tiada lain adalah aksara Ong.

Sepuluh aksara atau Dasaksara tersebut dalam Tattwa dapat mewakili kesepuluh indria dalam diri yang disebut Dasendriya. Jadi siapa yang dapat menyatukan Dasendria, maka Ia menjadi Manusia Ong. Olehnya dalam Tantra Aksara, manusia Ong tidak lagi disebut Cecupu Manik, tetapi Cecupu Mas. Mas disini diartikan Atma yang agung dan murni. Sebagaimana batangan emas disepih masih tetap emas. Sepihan emas meskipun ada di lumpur masih tetap emas.

Sang Atma berada pada hati, dan siapa yang dapat menaruh Aksara Kabeh (semua aksara) pada hati, maka ia akan menjadi Wisesa. Dan, siapa yang dapat memasukan Aksara Kabeh di dalam hati (Tuntungin Hati), maka ia tidak ubahnya sebagai Giri Sumeru. Giri adalah gunung, dan disebut sebagai Linggachala (Lingga Siwa yang tidak bergerak). Sumeru adalah Meru yang merujuk pada hal yang sama, yakni Siwalingga.

Jadi, kesejatian diri adalah Atmalingga dan Siwalingga, yakni kembali kepada Sang Atma sebagai Lingga dan Bhatara Siwa sebagai Lingga pula, dan keduanya tidak berbeda.

Berbahagialah diri, ketika memiliki pengetahuan itu. Sebab, semua akan Teka Kasih (kedatangan welas asih). Tidak saja manusia asih, tetapi Bhuta, Dewa dan Satru (musuh) akan menaruh welas asihnya pada diri, dan diri tidak berbeda dengan Gedong Manik Emas Suweta atau ruang dari Atma yang agung, dan hanya dengan kesucian hal itu semakin jelas terlihat. Pada akhir Tattwa menyatakan, bahwa “siapa yang dapat mejalankan semua itu, maka panjang umur adalah pahalanya, dan kebahagiaan tiada duka adalah miliknya”.
Ong Rahayu

Data Pribadi
Nama Lengkap: I Ketut Sandika
Biografi Singkat: I Ketut Sandika, kelahiran Nyalian 11 Pebruari 1988. Pendidikan Terakhir di Program Pascasarjana IHDN Denpasar. Aktif menulis dan meneliti budaya serta mistisisme Nusantara, dan Buku Siwa Tattwa adalah terbitan bukunya yang ke 15 yang khusus membabar tentang ajaran Siwa lebih kepada praktik dalam laku spiritual. Ia mengisi workshop Tantra diberbagai daerah, dan mengisi ceramah budaya dan mistis Nusantara.

Akun Sosmed: fb. i ketut sandika
IG. ketut.sandika
Email: [email protected]
Phone. 081239940038

Loading...