Tegang, Satu Peleton Dalmas Kawal Eksekusi Lahan dan Bangunan di Desa Pemaron

Kerumunan massa yang menghadang juru sita dari Pengadilan Negeri Singaraja yang akan mengeksekusi lahan dan bangunan di Desa Pemaron
Kerumunan massa yang menghadang juru sita dari Pengadilan Negeri Singaraja yang akan mengeksekusi lahan dan bangunan di Desa Pemaron

BULELENG, balipuspanews.com – Eksekusi lahan dan bangunan milik Dewa Gede Suadnyana yang berlokasi di Banjar Dinas Dauh Margi, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng, pada Rabu (28/9/2022) sekitar pukul 11.00 WITA berlangsung tegang.

Kedatangan petugas dari PN Singaraja langsung dihadang warga yang meminta eksekusi tidak dilakukan. Pun demikian, proses eksekusi akhirnya bisa berjalan lancar.

Untuk mengantisipasi hal- hal yang tidak diinginkan, satu pleton pasukan dari Polres Buleleng diturunkan ke lokasi.

Dalam proses eksekusi lahan itu, Panitera PN Singaraja Anak Agung Nyoman Diksa membacakan berita acara eksekusi dengan permohonan eksekusi Nomor 9/Pdt.Eks/2021/PN SGR. Dalam berita acara tersebut, panitera menyatakan dua bidang lahan masing-masing SHM Nomor 488/Desa Pemaron dengan luas 4 are dan SHM Nomor 625/Desa Pemaron dengan luas 2 are.

Baca Juga :  Tidak Masuk Formasi 2022, KKG Bahasa Inggris Datangi Gedung Dewan

“Proses eksekusi sudah kami lakukan termasuk penyerahan kunci kepada kuasa hukum pemohon, namun diberikan waktu kepada termohon agar mengosongkan bangunan. Apalagi dalam waktu 30 hari kedepan itu tidak dilakukan maka kami akan lakukan upaya paksa,” tegas Agung Diksa saat ditemui disela-sela eksekusi.

Disisi lain, Yulius Logo kuasa hukum dari Sudarmiati Hadisoeselo menyebutkan jika pembelian lahan dilakukan oleh kliennya dalam sebuah lelang terbuka di Kantor Perbendaharaan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Singaraja. Principalnya kemudian mengajukan permohonan eksekusi pada 2019 lalu, namun baru bisa terlaksana beberapa hari lalu.

Kini dengan rentang waktu sebulan atau 30 hari dirinya menganggap itu sudah cukup untuk termohon (Dewa Gede Suadnyana) melakukan pengosongan. Namun apabila itu tidak diindahkan maka upaya paksa akan dilakukannya.

Baca Juga :  Jembrana Kembali Raih Anugerah Meritokrasi dari KASN

“Hasilnya termohon meminta waktu sebulan, tapi ketika waktu satu bulan itu tidak dimanfaatkan maka kami akan lakukan upaya paksa untuk pengosongan,” ujarnya.

Sementara itu, Ida Bagus Nyoman Alit kuasa hukum dari Dewa Gede Suadnyana mengaku jika kliennya tidak mengetahui proses lelang sejak awal. Bahkan kata Alit, lelang langsung dilakukan tanpa mempertemukan kedua belah pihak di Pengadilan Negeri Singaraja.

“Klien kami tidak puas secara hukum, apalagi hak dari klien kami tidak diperhatikan. Lalu untuk rentang waktu yang diberikan saya akan lakukan koordinasi lagi dengan klien untuk langkah berikutnya,” terangnya.

Sekedar diketahui proses eksekusi terhadap lahan dan bangunan itu berawal dari proses utang piutang antara Dewa Gede Suadnyana dengan salah satu bank milik BUMN di Buleleng.

Baca Juga :  Kembangkan Kemampuan Bahasa Inggris Anak-anak Panti Asuhan, Denpasar Jalin Kerjasama dengan Cambridge University

Namun ditengah perjalanan ada dugaan proses wanprestasi di dalamnya. Hal itu kemudian membuat bank melakukan proses eksekusi melalui KPKNL Singaraja.

Selanjutnya dalam proses lelang terbuka itu, lahan seluas 6 are berisi rumah didalamnya dimenangkan Sudarmiati Hadisoeselo.

Mendengar itu tentunya Dewa Gede Suadnyana merasa keberatan tanahnya dilelang. Sehingga Dewa melayangkan gugatan objek sengketa tanah ke Pengadilam Negeri Singaraja pada Juni 2021 lalu namun hasilnya lahan dan bangunan tersebut dilakukan proses eksekusi.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka Suryawan