Tekan Kasus Rabies, Jembrana Gandeng AIHSP

Pemkab Jembrana menjalin kerjasama dengan Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) untuk menanggulangi terjadinya kasus rabies
Pemkab Jembrana menjalin kerjasama dengan Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) untuk menanggulangi terjadinya kasus rabies

JEMBRANA, balipuspanews.com- Sebagai daerah zona merah Jembrana sedang berusaha keras untuk menekan kasus rabies. Seperti dengan melakukan vaksinasi dan sterilisasi hewan penular rabies.

Bahkan Pemkab Jembrana sampai  menjalin kerjasama dengan Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) untuk menanggulangi terjadinya kasus rabies.

Deputi Team Leader AIHSP, Isradi Alireja menyampaikan bahwa AIHSP merupakan kemitraan Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia untuk menguatkan sistem ketahanan kesehatan.

“Jadi kami menggunakan pendekatan integrasi antara kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan khususnya satwa liar. Ini menyangkut banyaknya penyakit zoonosis, penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia yang bisa menyebabkan pandemi contohnya seperti Covid-19 yang kita saat ini alami,” ujarnya.

Baca Juga :  Kroasia 'Tidak Akan Tertipu' Oleh Rumor Keretakan Di Timnas Belgia

Dipilihnya Jembrana menjadi mitra program AIHSP, Isradi mengungkapkan ada beberapa peninjauan yang dilakukan.

“Jadi ada beberapa pertimbangan, kami kemitraan yang didampingi oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian, jadi beberapa indikatornya menggunakan indikator pembangunan manusia dan analisis epidemiologis atas penyakit-penyakit yang mungkin muncul, seperti sekarang di Jembrana sedang menghadapi rabies,” jelasnya.

Menyambut kerjasama dengan AIHSP, Bupati Tamba menyampaikan tim AIHSP yang nantinya bisa membantu  Kabupaten Jembrana.

“Yang efektif ingin saya lakukan adalah gerakan sosialisasi, ada kecenderungan masyarakat ketika digigit anjing mereka menganggap aman-aman saja, anjing tersebut tidak mengidap rabies atau penyakit lainnya,”jelasnya.

Sosialisasi terhadap bahaya rabies harus dilaksanakan dari tingkat terbawah dan perlu adanya sosialisasi melalui media sosial.

Baca Juga :  Ular Masuk Dapur, Warga Subagan Lapor Damkar

“Gerakan sosialisasi ini saya akan mengundang juru arah dari tingkat yang paling terbawah, kelian adat dan kelian dinas serta kepala desa dan bendesa adat termasuk para camat. Ada konten video ciri-ciri dan bahaya dari hewan yang terjangkit rabies yang akan kita launching di media sosial agar bisa dikenali oleh masyarakat,”ungkapnya.

Penyakit rabies merupakan jenis penyakit yang tidak secara langsung menampakan gejalanya.

“Ini klasifikasi penyakit yang sifatnya saat langsung digigit tidak seketika itu meninggal, walaupun ada masa inkubasi bisa satu sampai tiga bulan. Ini hal-hal yang perlu kita cermati. Khusus untuk penyakit-penyakit yang seperti ini (rabies,red) harus terus dimonitor, menjadi cacatan khsusnya untuk terus dikunjungi dan dipantau, ini terobosan-terobosan yang kita lakukan untuk Kabupaten Jembrana,” tandasnya.

Baca Juga :  Tahun 2023, UMK di Klungkung Naik Jadi Rp 2,7 Juta

Penulis: Anom
Editor: Oka Suryawan