Terkendala Di Pemasaran Pupuk Kompos, DLHK Buleleng Lakukan Kolaborasi Bersama PMK Bali

DLHK Kabupaten Buleleng melakukan kunjungan ke TPST yang ada di Desa Penarukan
DLHK Kabupaten Buleleng melakukan kunjungan ke TPST yang ada di Desa Penarukan

BULELENG, balipuspanews.com – Penanganan masalah sampah terus digencarkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng. Pembahasan beberapa permasalahan terkait penanganan sampah terus dilakukan salah satunya berkolaborasi dengan beberapa komunitas untuk diajak berdiskusi mencari jalan keluar, Rabu (22/7/2020)

Dengan terlaksananya diskusi tersebut yang menjadi sorotan yakni Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST). Ditempat tersebut sampah dipilah baik organik dan anorganik. Nantinya bisa dikelola seperti sampah anorganik bisa diolah menjadi kerajinan dan sampah organik dimanfaatkan sebagai pupuk kompos

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng Putu Ariadi Pribadi mengatakan bahwa dengan adanya kurang lebih 28 TPST yang tercatat di 9 kecamatan di Buleleng.

Sebagian besar tidak aktif ini lantaran terkendala sejumlah persoalan yakni salah satunya dalam hal pemasaran. Akan tetapi sejumlah 13 TPST yang mengelola sampah menjadi pupuk kompos sudah diproduksi saat ini belum terserap secara maksimal.

“Salah satu permasalahan ada di pemasaran, ketika terus diminta membuat kompos tetapi kompos menumpuk tidak terserap maka akan mempengaruhi keberlanjutan,” bebernya.

Lanjut Putu Ariadi menambahkan disetiap TPST mampu memproduksi kompos hingga 2 ton lebih setiap bulannya dari pengolahan sampah organik di masing masing desa. Maka saat ini pihaknya berkolaborasi dengan Komunitas Petani Muda Keren Bali untuk mencari solusi terkait beberapa permasalahan yang dihadapi untuk kedepannya agar bisa terpecahkan satu persatu.

Sehingga nantinya akan menambah motivasi para pengelola TPST untuk bisa meningkatkan produksi komposnya.

“Diskusi hari ini mencarikan solusi beberapa permasalahan. Hasilnya, pengolahan sampah organik berupa kompos akan diserap oleh Forum Petani Muda Bali atau Komunitas Petani Muda Keren Bali sudah disepakati tinggal pertemuan dengan TPST terkait harga,” tambahnya.

Disisi lain Penggagas Forum Petani Muda Bali Atau Komunitas Petani Muda Keren Bali Anak Agung Gede Agung Wedhatama menyatakan kesanggupannya menyerap kompos hasil pengolahan TPST yang ada di Buleleng.

Bahkan pihaknya sudah berkomitmen mengawal pembuatan pupuk organik yang baik oleh TPST. Sehingga bisa pihaknya serap. Pasalnya kompos yang ada saat ini di nilai belum terfermentasi dengan baik.

“Nanti kami sudah berkomitmen untuk mengawal pembuatan agar hasil pupuknya bagus, Kerena itu perlu adanya penambahan nutrisi,” terangnya.

Lanjut Agung Wedha menjelaskan bahwa pupuk kompos yang dibutuhkan di komunitas petani muda ini sekarang bisa mencapai 100 ton setiap bulannya. Bahkan sebagian sudah disuplai oleh TPST Desa Kalibukbuk. Namun kedepannya pihaknya akan terus mensupport untuk TPST lainnya agar bisa membuat pupuk organik yang baik dengan memilih sampah yang baik.

“Makanya untuk TPST lain kami semangati untuk membuat bahan pupuk organik yang baik dengan memilah sampahnya yang baik. Sehingga bisa kami ambil dan fermentasi lagi dengan mikroorganisme dan campuran nutrisi lain dalam waktu 21 hari,” tutupnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Oka Suryawan