Tiga Desa di Kecamatan Gianyar Ngiring Pralingga Menuju Pura Taman Sari Tojan, Klungkung
sewa motor matic murah dibali

GIANYAR, balipuspanews.com- Ada yang istimewa saat berlangsung piodalan di Pura Taman Sari, Desa Tojan, Klungkung. Saat odalan, tiga desa di kecamatan Gianyar, masing- masing desa Seronggo, desa Tedung dan desa Lebih ngiring pralingga dan pratima sesuhunan menuju Pura Taman Sari. Seperti terlihat Selasa ( 29/1/2019). Sekitar pukul 05.00 Wita, ribuan warga dengan berjalan kaki ngiring Ida Sasuhunan menuju Klungkung.

Lantas bagaimana sejarahnya? Mantan Bendesa Desa Pekraman Serongga Ida Bagus Putra menjelaskan, keterjalinan berawal sekitar abad XVIII penglingsir di Puri Agung Serongga Anak Agung Gde Kepandean membuat dua buah petapakan dalam wujud Barong Ketet.

Karena suatu pertimbangan, Barong Ketet pertama tidak dipakai dan diserahkan kepada A.A. Gede Kesiman asal Puri Siangan Gianyar. Barong Ketet kedua yang akhirnya diputuskan dijadikan sungsungan (dipasupati) masyarakat Desa Serongga.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Desa Serongga merasa sangat terbebani dengan keberadaan sungsungan tersebut, pasalnya Beliau mengkehendaki beberapa permintaan yang sulit dilaksanakan para panjak-panjaknya kala itu. Dengan kondisi tersebut masyarakat Desa Serongga resah, dan akhirnya Ida Anak Agung Gede Kepandean bersama masyarakat sepakat untuk mempralina dengan jalur membakar sesuunan tersebut.

Setelah dibakar hanya preraga (bagian badan) saja yang terbakar sedangkan prerai (tapel/topeng) masih utuh. Dari kejadian tersebut Desa Serongga sepakat membuang prerai ke Pantai Lebih.

Prerai yang dibuang ke pantai terpecah menjadi dua bagian yang terdampar di Pantai Sedayu yang ditemukan oleh Petani Desa Sedayu dan satunya lagi di Pantai Batu Klotok yang ditemukan oleh Petani Desa Tojan. Akhirnya terdengar berita saat itu dan petani dan menyocokkan kedua bagian prerai tersebut dan dijadikan lelakut (orang-orangan sawah). Keanehan pun terjadi, para petani melihat ada yang bersinar disawah tepat di orang-orangan sawah terebut, karena berulang terus menerus dan akhirnya ditanyakan kepada orang pintar didapatlah informasi bahwa prerai tersebut berasal dari Desa Serongga dengan demikian meminta prerai tersebut kepada Desa Sedayu dan menyungsung menjadi Ida Betara Ratu Gede Tojan.

Untuk melengkapi keberadaan Ida Betara Ratu Gede Tojan Desa Tojan meminta petapakan rangda yang berasal dari kayu sandat dan setelah dipasupati masyarakat Desa Serongga dan Tojan menyebut Ida Betara Ratu Sandat.

Penglingsir Desa Lebih Wayan Koram menambahkan  keterjalinan antara masyarakat supaya bisa terus berjalan sampai kapan pun, dan saya juga meyakini sesuunan yang kita sungsung saat ini juga memiliki emosional yang sama seperti yang masyarakat rasakan saat ini. ( rls/bas)

 

Tinggalkan Komentar...