Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

SEMARAPURA,balipuspanews.com- Belakangan ini persoalan sampah menjadi masalah krusial bagi warga Desa Pekraman Gelgel antara lain Desa Gelgel,Desa Tojan dan termasuk desa wisata Kamasan.

Nyaris satu minggu lamanya, sampah-sampah rumah tangga masih menumpuk  di kawasan desa wisata Kamasan ini .

Alasan penumpukan itu, pihak desa Kamasan mengaku kebingungan membuang sampah lantaran kerganjal lahan  walau Klungkung dikenal sukses menggulirkan program Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS), namun nyatanya di sejumlah desa, sampah justru masih menjadi masalah utama kini.

Kondisi di lokasi , sejak sebelum Hari Raya Nyepi sampah di depan rumah warga sudah tidak diangkut hingga Rabu (13/3) tumpukan sampah semakin tinggi.

Kondisi ini tampak diseputar BTN Kamasan dimana aroma busuk pun mulai tercium dari sampah yang meluber sampai badan jalan.

Ironisnya, tak adanya kejelasan mengenai kondisi tersebut, sejumlah warga terpaksa membuang sampah ke sungai terdekat. Bagi warga yang tidak ada sungainya terpaksa membuang sampah didepan jalan didepan rumahnya, sehingga kondisi ini tampak seperti tempat pembuangan sampah sementara. Malah warga asal kamasan Ety Maria Suprapti sampai menulis keluhannya dimedia sosial agar masalah sampah ini yang dibuang seenaknya oleh warga didepan rumahnya bisa diatasi segera.

Menyikapi situasi ini, Perbekel Kamasan, IB Danendra Rabu (13/3) mengaku sangat sedih.

Dirinya menjelaskan, sebelumnya pihak desa diizinkan membuang sampah ke Kabupaten Gianyar. Namun, kini kondisinya sudah berbeda, tempat tersebut sudah ditutup.

Sejak saat itulah, pihak Desa Kamasan kesulitan untuk mencari tempat penampungan. Sedangkan Desa Kamasan tidak memiliki lahan sebagai tempat pembungan sampah.

“Sampah masih dikelola desa, tapi sekarang macet karena tidak ada tempat penampungan. Kita tidak punya lahan untuk tempat mengelola. Jadi pengangkutan sampah kita pending dari sebelum Nyepi. Dulu masih bisa buang ke Gianyar, sekarang sudah ditutup. Sedih sekali saya untuk mengatasi situasi ini,” ujar IB Danendra.

Sejauh ini, IB Danendra mengaku sudah melakukan koordinasi dengan pihak Pemkab dan juga prajuru desa. Namun, belum ditemukan titik temu. Berkoordinasi dengan desa-desa tetangga yang menggulirkan program TOSS juga sudah, tetapi semuanya menolak karena keterbatasan tempat.

“Sejak sebelum Nyepi kami sudah buat paruman ke seluruh kelian banjar, tapi belum ada solusi,” imbuhnya sekaligus meminta maaf dan mengatakan pasrag bila ada warga yang protes terkait kondisi ini.

Kondisi serupa juga dialami oleh warga sedelod Yeh Cau Desa Pekraman Gelgel seperti Desa Gelgel dan Tojan selain Kamasan. Dimana mana juga sampah masih ada yang tercecer belum terangkut maksimal. Salah seorang warga Tojan Wayan Sudarma juga memprotes kondisi penanganan sampah ini. Dirinya meminta instansi terkait segera mengambil sikap jika desa sendiri kesulitan menangani perihal sampah ini,bebernya .

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Klungkung, AA Kirana menjelaskan pihak desa sudah sempat koordinasi mengenai permasalahan tersebut. Namun, dijelaskan saat ini Pemkab Klungkung pun mengalami persoalan serupa. Sejak operasional TPA Sente distop, Pemkab juga kesulitan mencari tempat penampungan.

Oleh karena itu, AA Kirana menyarankan agar pihak desa mengatasi permasalahan sampah mulai dari tingkat rumah tangga. Yakni setiap rumah tangga diharapkan bisa memilah sampah. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah anorganik bisa dibawa ke bank-bank sampah terdekat.

“Asal sudah terpilah beberapa tempat siap dibuangi. Kalau pupuk organik selama sudah pilahan murni banyak yang bisa terima. Bahkan ada yang mintak, seperti sampah tebangan pohon,” jelasnya. Pihaknya pun meminta agar desa segera mengambil sikap atas permasalahan situasi darurat sampah ini,tegasnya.(Roni/bpn/tim)

Advertisement
Loading...