Megibung-warga Kampung Singaraja saat merayakan Maulid Nabi dengan tradisi bancakan bersama sejumlah tokoh lintas agama, Selasa (20/11). 
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Singaraja, balipuspanews.com — Suasana penuh toleransi begitu terasa dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kelurahan Kampung Singaraja pada Selasa (20/11) kemarin. Bagaimana tidak, masyarakat setempat menggelar acara bancakan atau makan bersama. Bahkan, bancakan tak ubahnya seperti megibung yang kerap dilakoni masyarakat di Bali ketika menggelar upacara keagamaan.

Tradisi bancakan ini tak hanya bagi umat muslim yang merayakan Maulid Nabi saja. Bahkan sejumlah tokoh masyarakat lintas agama pun terlihat hadir dalam tradisi bancakan sebagai bentuk penghormatan dan toleransi.

Sebut saja Penglingsir Puri Kanginan, Anak Agung Ngurah Parwata Panji. Ia tak sendiri. Ngurah Parwata didampingi sang putra, Anak Agung Ngurah Fajar. Selain itu, Anggota Komisi IV DPRD Bali Kadek Setiawan juga terlihat hadir.

Konon, tradisi bancakan diyakini sudah dilakoni secara turun temurun di wilayah tersebut sejak abad ke-16. Bahkan, Kampung Singaraja yang merupakan salah satu desa rintisan umat muslim yang ada di Kabupaten Buleleng, juga mengadopsi sejumlah ritual maupun tradisi yang dilakukan oleh umat Hindu.

Sebut saja saat umat muslim membuat pohon telur. Pohon telur ini disimbolkan sebagai proses kelahiran. Menariknya, pembuatan pohon telur ini dilakukan di atas dulang, yang biasa digunakan umat Hindu membuat pajegan. Pada pohon telur itu juga terdapat buah-buahan sebagaimana yang ditemukan dalam pajegan.

Sedangkan untuk tradisi bancakan, Agus menyebut hal itu sudah berlangsung secara turun temurun selama ratusan tahun. Konon tradisi ini dibawa oleh Wali Songo atau sembilan tokoh agama yang menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Selanjutnya tradisi itu kemudian dipadukan sedemikian rupa dengan tradisi dan kebiasaan masyarakat di sekitar Kampung Singaraja, yang memang sebagian besar pemeluk Hindu. Terlebih di dekat wilayah itu juga terdapat puri, yakni Puri Kanginan.

“Tradisi bancakan setahu kami seperti acara megibung, selalu ada umat non muslim yang ikut. Kami sudah diajarkan toleransi dari dulu. Kalau maulid, lebaran, pasti kami juga ngejot ke rekan-rekan Hindu. Semeton Puri Kanginan juga pasti ikut bancakan dengan kami,” jelas Agus.

Di sisi lain, Penglingsir Puri Kanginan, A.A. Ngurah Parwata Panji tak menampik bila hubungan antara puri dengan nyama selam di Kampung Singaraja, sangat harmonis. Bahkan sudah terjalin sejak bertahun-tahun dan tidak akan pernah lepas.

“Kami itu selalu menyama braya baik suka maupun duka. Sesepuh kami juga selalu berpesan agar hubungan baik dengan nyama selam di Kampung Singaraja ini harus dijaga dengan baik,” kata Parwata.

Parwata pun mengajak agar para sesepuh di Kampung Singaraja, terus menanamkan rasa persaudaraan di kalangan remaja. Terlebih, semangat toleransi antar umat beragama sangat dibutuhkan untuk membina persatuan dalam menjaga NKRI. Sehingga hubungan silaturahmi yang telah terpupuk selama ratusan tahun, terus terjaga dengan baik.

Terjalinnya nilai toleransi dan persaudaraan juga diapresiasi Anggota Komisi IV DPRD Bali, Kadek Setiawan. Ia menilai bila warga Kampung Singaraja bisa dijadikan contoh dalam memupuk rasa persaudaraan antar sesama pemeluk agama.

“Contoh kerukunan umat beragama dan toleransi yang baik itu ada di sini. Kami berharap hal seperti ini terus bertahan. Pemuda di sini juga mengemban amanah berat untuk tetap menjaga toleransi dan kerukunan yang sudah baik ini,” singkatnya.

Advertisement
Loading...

Tinggalkan Komentar...