sewa motor matic murah dibali

Singaraja, balipuspanews.com — Tuak merupakan minuman tradisional yang mengandung alkohol, dan jika dikonsumsi berlebih akan menimbulkan efek memabukkan.

Namun ditangan Putu Ariyawan, tuak tidak lagi memabukkan, melainkan memiliki cita rasa manis, bahkan baik untuk kesehatan.

Salah satunya baik untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes, sebab kandungan glukosanya diyakini lebih rendah dari pada tebu.

Pria yang tinggal di Sesa Munduk Bestala, Kecamatan Seririt, Bulelenh ini mengaku sedang menekuni bisnisnya menjual tuak manis. Ariyawan menerangkan jika bahan baku pembuatan tuak manis dan tuak wayah (lau) dari nira pohon aren.

Nira aren yang baru dipanen tanpa dilakukan pengolahan inilah yang menjadi tuak manis sedangkan nira yang sudah wayah akan menjadi lau.

“Tuak manis yang saya buat dijamin keasliannya karena setelah dipanen hanya dilakukan penyaringan setelah itu baru dikemas,” ungkapnya.

Ia mengatakan kualitas tuak manis sangat tergantung dari kualitas pohon aren, sehingga tidak semua nira aren itu bisa dijual menjadi tuak manis.  Selain hobi berjualan sejak kecil, pria yang juga menjadi guru SMA Negeri 1 Singaraja ini mengaku inisiatifnya menjual tuak manis ini datang untuk menyiasati merosotnya harga gula aren.

Untuk membuat dua kilogram gula aren dibutuhkan sekitar 30 liter nira aren, sedang harga jual gula arena berkisar antara 30-35 ribu Rupiah. Akan tetapi jika dirinya menjual tuak manis, ia mampu menjual satu botol kemasan dengan harga Rp 6 ribu.  Dengan untung yang lebih besar dan biaya produksi yang lebih sedikit tentu memotivasinya untuk terus memproduksi tuak manis.

Selain itu, dirinya juga ingin menginspirasi petani aren di desanya bahwa dengan inovasi dan sedikit kreatif maka dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah.

“Merosotnya harga gula aren membuat para petani beralih ke tanaman lain seperti cengkeh, manggis, dan durian padahal di desa kami sangat potensial dikembangkan pohon aren. Sehingga perlu mengedukasi mereka bahwa dengan sedikit inovasi akan menambah nilai jual,” jelasnya.

Pria kelahiran 1 Januari 1991 berkeyakinan bahwa prosfek tuak manis ke depan sangat bagus. Ini dibuktikan dari tingginya minat konsumen. Dirinya juga konsisten untuk terus mengembangkan tuak manis Munduk Bestala sehingga ke depan tuak manis bisa menjadi ikon di desanya.

“Dalam jangka panjang tuak manis akan menjadi ikon desa dan tentu akan mensejahterakan petani gula arena di desa kami,” ungkapnya.

Imbuh Ariyawan, untuk memenuhi kebutuhan pasar, dirinya hanya dapat memanen nira aren tiga hari sekali. Selain itu, daya tahan tuak manis juga sangat singkat sehingga jika melebihi batas akan menjadi tuak wayah.

Tuak manis hanya mampu bertahan tiga hingga empat hari di dalam lemari pendingin.

Kondisi ini lah yang masih menjadi kendala bagi Ariyawan, sebab dirinya hanya mampu memproduksi tuak manis bila ada pemesanan dari konsumen.

“Saya lebih banyak promosi secara online karena kalau merambah ke pasar modern masih terkendala daya tahan tuak manis itu sendiri. Selain itu, kesulitan saya dalam berjualan juga yaitu mengubah kesan masyarakat terhadap tuak. Banyak masyarakat yang kalau dengar kata tuak itu pasti kesannya negatif,” tutupnya.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here