Keris pusaka yang diupacarai saat Tumpek Landep. Foto Google
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Salah satu rerahinan Bali yang memiliki nilai lebih bagi Hindu Bali adalah Tumpek Landep. Hari yang datang setiap 210 hari atau enam bulan hitungan kalender Bali adalah hari yang “diistimewakan” untuk memuja Sanghyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Siwa Pasupati.

Tumpek Landep datang setiap hari Sabtu Kliwon Wuku Landep. Selain Tumpek Landep umat Hindu juga mengenal Tumpek Uduh, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye dan Tumpek Wayang yang semuanya jatuh pada hitungan Sabtu Kliwon. Hanya saja, siklus wuku yang membedakan makna dan filosofi masing- masing Tumpek. Secara periodik setiap Tumpek datang enam bulan sekali.

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan Tumpek adalah salah satu rerahinan Bali akibat adanya pertemuan Sapta Wara ( Saniscara) dan Pancawara ( Kliwon). Kata Landep bermakna “ tajam ” yang diwujudkan dalam sebuah keris sebagai lambang Purusha atau pemimpin yang memberikan arahan serta tuntunan hidup dalam menjalani aktivitas keseharian sesua swa dharma masing- masing. “Keris  yang tajam” adalah analogi dari pikiran yang menentukan langkah hidup seseorang. Kita meyakini suatu cita- cita, tindakan hingga ucapan berawal dari pikiran. Sebelum era modern, keris adalah benda yang paling identik diupacarai setiap datangnya Tumpek Landep.

Dengan sradha bhakti yang mendalam turunnya anugrah Sanghyang Siwa Pasupati saat Tumpek Landep bisa dijadikan momentum penajaman pikiran lewat instrofeksi diri sehingga lahir pemikiran intelektual untuk menjadikan hidup lebih baik.

Hanya saja, sebagian besar Umat Hindu Bali dalam perayaan Tumpek Landep lebih focus kepada benda material berbahan besi sebagai obyek utama dalam memperingati Hari Tumpek Landep.

oleh : Oka Suryawan – Redaktur Pelaksana Balipuspanews.com

Ini menyebabkan makna Tumpek Landep semakin luas sesuai cara pandang umat dalam mengimplementasikannya dalam sebuah keyakinan. Di Bali, saat Tumpek Landep berbagai perusahan swasta maupun instansi pemerintah mengupacarai mesin, kendaraan, pesawat terbang dan berbagai benda berbahan besi yang membantu manusia dalam menjalani rutinitas keseharian. Dikalangan masyarakat, akan terlihat berjejer dipinggir jalan kendaraan yang dibungkus kain suci saat sebagai bentuk rasa syukur kehadapan Sanghyang Pasupati atas anugrah yang telah diberikan.

Tumpek Landep bagi Hindu Bali juga diartikan sebuah pengharapan atas benda yang diupacarai agar bertuah dalam membantu aktivitas keseharian. Tumpek Landep secara personil juga bisa diartikan sebagai olah pikiran lewat penajaman pemikiran sehingga bisa memunculkan banyak inovasi. Jangan sampai bhakti Tumpek Landep hanya focus kepada mengupacarai kendaraan maupun bentuk benda material yang sebenarnya hanyalah alat bantu dalam menjalani kehidupan.

Lebih dari itu dalam Tumpek Landep bagaimana kita bisa menajamkam pikiran yang baik, menajamkan hati yang baik, menajamkan perbuatan yang baik sehingga ritual tidak hanya berlangsung serimonial dan euporia tanpa makna.Rahayu*****

 

Advertisement

Tinggalkan Komentar...