Tumpek Landep dan upacara sepeda motor jadi trend

Penulis: Ki Tambet

OPINI ANDA, balipuspanews.com – Hari ini rahina Saniscara Keliwon, wuku Landep (Sabtu 21/12), masyarakat Hindu di Bali merayakannya sebagai Hari Tumpek Landep.

Sebagian besar krama Hindu di Bali merayakan Tumpek Landep ini dengan ngotonin motor, mobil hingga berbagai benda elektronik. Sehingga banyak krama Hindu di Bali menyebut Tumpek Landep sebagai otonan motor. Benarkah demikian?

Sebelumnya, penulis mengajak pembaca untuk mengupas tentang Tumpek Landep. Konon kata Tumpek berarti tumpel atau tepat. Tumpel atau tepat ini maksudnya tepat bertemunya akhir dari Sapta Wara yang terakhir yakni rahina Saniscara dengan hari terakhir dalam Panca Wara (Keliwon).

Tumpek Landep adalah wuku kedua dari tiga puluh wuku yang masing-masing wuku umurnya tujuh hari.

Terkait dengan nama-nama wuku tersebut, leluhur Hindu Bali telah sedemikian cerdasnya karena telah mewariskan tradisi penamaan wuku yang secara total terbagi dalam 210 hari. Banyak kemudian upacara atau yadnya di Bali yang digelar berdasarkan wuku atau pawukon.

Sumber lain menyebutkan, kosa kata “Tumpek” berasal dari kata “Tampa”. Kata tampa ini mendapat sisipan um hingga menjadi kata “Tumampa” yang kemudian mengalami perubahan konsonan, menjadi kata “Tumampak” yang artinya berpijak. Ini kemudian mengalami perubahan menjadi kata keterangan keadaan sehingga menjadi kata “Tumampek” yang mengandung arti dekat. Kata Tumampek mengalami persenyawaan huruf “M”, maka menjadilah kata “Tumpek”.

Didalam 30 wuku yang terbagi menjadi perputaran 210 hari tersebut terdapat lima Tumpek. Yakni Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye dan Tumpek Wayang. Tumpek Landep sendiri merupakan Tumpek pertama dari perputaran 210 hari dan jatuh pada hari terakhir di wuku yang kedua.

Kembali keawal, benarkah Tumpek Landep sebagai hari otonan motor, mobil ataupun otonan bagi benda-benda elektronik? Untuk mendapat jawaban yang benar mari kemudian dilihat makna dari Tumpek Landep tersebut.

Sebelum mengupas makna Tumpek Landep, ada baiknya penulis mengajak pembaca berlogika. Karena berlogika juga sangat penting dalam berkeyakinan.

Begini, perayaan Tumpek Landep telah berlangsung dari berabad-abad silam, meskipun sejarah pasti perayaan pertama Tumpek Landep belum penulis temukan. Pada kisaran waktu berabad-abad lampau tersebut kendaraan berupa motor, mobil dan berbagai benda elektronik lainnya tentu belum ada di Bali.

Penulis perkirakan, motor, atau mobil dan benda-benda elektronik mulai ada di Bali sekitar akhir abad 18 atau awal abad 19.

Kemudian “Landep” sendiri bermakna tajam atau runcing. Penganut Hindu, khususnya penganut Hindu di Bali dalam menjalankan keyakinannya banyak menggunakan simbol. Demikian pula tradisi mengupacarai keris, tombak ataupun sarwaning landep atau segala benda tajam adalah simbolisasi terhadap ketajaman alat kehidupan manusia yang sangat penting, yakni pikiran.

Ketajaman berpikir itulah manusia mampu menciptakan berbagai alat atau sarana untuk mempermudah kehidupannya.

ManifestasiNya yang dipuja pada Tumpek Landep konon Ida Sanghyang Siwa Pasupati. Dengan kata lain, Tumpek Landep merupakan hari untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Ida Sanghyang Siwa Pasupati.

Jadi jelaslah bahwa Tumpek Landep merupakan hari suci untuk memohon kerahayuan sekaligus juga untuk memohon kekuatan berpikir atau peningkatan kecerdasan diri.

Termasuk pula kecerdasan dalam berspiritual sehingga menemukan kebahagiaan sejati dalam hidup dan berkehidupan.

Lalu salahkah ngotonin motor, mobil atau benda-benda elektronik saat Tumpek Landep? Maaf penulis tidak berani dan tidak mau membenarkan atau memvonis salah.

Karena beragama adalah persoalan keyakinan dan penulis tidak mau mempengaruhi, menggugat atau bahkan menyalahkan keyakinan orang lain meskipun orang lain itu sama-sama nyama Bali dan juga sebagai umat se-Dharma.

Hanya saja, penulis mencoba menekankan bahwa beragama jangan mameteng dan dalam berkeyakinan sangat penting berlogika. Berikutnya, yang juga sangat penting digarisbawahi bahwa tidak ada yadnya yang sia-sia.

Maksudnya, wajar-wajar saja saat ketika Tumpek Landep dibarengi dengan mengupacarai motor, mobil atau benda-benda elektronik selain mengupacarai senjata-senjata warisan leluhur seperti keris dan tombak sepanjang itu sebagai ungkapan syukur atas aungerahNya memberi kemudahan hidup dan bukan mendewakan motor atau mobilnya. M

tidak sedikit umat Hindu dalam merayakan Tumpek Landep salah satu rangkaiannya diisi dengan melakukan persembahyangan.

Lucunya, saat umat melakukan persembahyanhan ini justru menghadap ke motor atau mobil sehingga terkesan motor menjadi benda suci atau terkesan sebagai simbol salah satu manifestasiNya. Benarkah demikian? Mari berkeyakinan yang berlogika, sehingga tidak ada kesan mubazir dalam beryadnya. Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru arah.

Penulis : memiliki nama sesuai KTP I Gusti Putu Arthadana, bekerja sebagai juru warta, Wakil Ketua PHDI Tabanan dan tinggal di Tabanan.