Oka Suryawan
Oka Suryawan

Tumpek Landep datang setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Landep. Berikut catatan Redaktur Pelaksana Bali Puspanews.com

Oka Suryawan

Umat Hindu, Sabtu ( 21/12/2019) menyambut hari Tumpek Landep yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep. Tumpek ini adalah tumpek pertama setelah pergantian kalender Bali dari Wuku Watugunung ke Wuku Sinta.

Kata Landep sendiri artinya tajam.Tumpek Landep datang setiap 210 hari atau enam bulan dalam hitungan kalender Bali. Satu bulan kalender Bali berjumlah 35 hari. Umat Hindu saat Tumpek Landep akan memuja Sanghyang Pasupati, manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam memberikan ketajaman pikiran untuk menyerap pengetahuan sejati sebagai bekal mengarungi ” lautan ” kehidupan.
Perayaan Tumpek Landep juga bisa dimaknai sebagai ungkapan rasa bhakti kehadapan Sanghyang Pasupati yang telah memberikan tuntunan hidup.

Dijaman dulu sebelum era moderenisasi, umat Hindu akan memakai Keris sebagai lambang memuja Sanghyang Pasupati. Ujung Keris melambangkan ketajaman. Kris di Bali juga melambangkan Purusa. Belakangan pemahaman warga dalam memuja Sanghyang Pasupati mulai mengalami pergeseran. Bahkan, sangat semarak bagi warga yang awam pemahaman kalau Tumpek Landep dianggap oton mobil,oton motor, oton pabrik dan lainnya. Intinya, segala alat bantu manusia yang berasal dari besi diupacarai saat Tumpek Landep.

Menyikapi hal itu, beberapa sulinggih dan pemangku bicara blak-blakan kalau Tumpek Landep bukan memuja motor atau mobil serta alat berharga lainnya. Umat harus memahami kalau yadnya dalam Tumpek Landep harus dimaknai sebagai ungkapan terimakasih kehadapan Sanghyang Widhi Wasa dalam sinarnya sebagai Sanghyang Pasupati yang telah menciptakan ketajaman pikiran sehingga manusia mampu menciptakan berbagai alat bantu untuk membantu dan memudahkan berbagai aktivitas hidup.

Pemandangan yang kita lihat setiap enam bulan saat Tumpek Landep, hampir semua dipingir jalan di Bali dipenuhi ritual pemujaan dengan benda material seperti mobil, motor di depan yadnya. Mobil maupun motor ditutup kain suci untuk mendapatkan berkat Sanghyang Pasupati agar bisa memberikan keselamatan dan manfaat positif ketika digunakan.

Kepada umat Sedharma, memuja Sanghyang Pasupati juga bisa diartikan sebagai titik mulat sarira setelah berbagai aktivitas yang dilakukan ” menyedot” tenaga jasmani dan emosional pikiran. Dalam aktivitas keseharian, dua unsur akan selalu mengikuti karena hukum Rta dan hukum Rwa Bhineda. Dalam bekerja akan ada rasa puas, tidak puas, sedih, bahagia, suka duka dan lainnya.

Saat piodalan Sanghyang Pasupati, pikiran yang menjadi dasar fundamental dalam bertindak dan bekerja harus diasah ke dalam hal positif. dengan demikian kebahagiaan akan lebih mendominasi kehidupan, walau penderitaan itu tak mungkin dihindari. Dengan demikian, perayaan Tumpek Landep harus dipahami sebagai anugrah pengetahuan dari Sanghyang Widhi Wasa yang dititipkan lewat ketajaman pikiran manusia.

Rahayu