sewa motor matic murah dibali

Jakarta, balipuspanews.com -Berbagai bencana yang terjadi di tanah air membuat Indonesia berduka, tak terkecuali Universitas Nasional (UNAS). Belum selesai kita berkabung akan bencana gempa di Palu dan Donggala, Sulawesi yang menewaskan ribuan korban jiwa, Indonesia kembali diguncang bencana tsunami di Perairan Selat Sunda yang meluluh lantakkan daerah pesisir Banten dan Lampung serta menewaskan ratusan orang dan ribuan masyarakat dipaksa untuk mengungsi.

Melihat hal ini, Universitas Nasional (UNAS) tidak tinggal diam. Dengan rasa kepedulian yang tinggi, UNAS melalui Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Nasional, menyalurkan berbagai bantuan kepada para korban bencana. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini merupakan wujud dari salah satu Tridarma Perguruan Tinggi, yang dijunjung tinggi oleh UNAS.

Untuk korban tsunami Selat Sunda, FIKES UNAS mengirimkan bantuan dan juga relawan untuk membantu warga korban bencana tsunami di wilayah Pandeglang, Banten. ‘’Bantuan yang diberikan diantaranya tenda peleton, selimut, pakaian, logistik kebutuhan dapur umum, susu balita, susu ibu hamil, obat, pampers, hingga perlengkapan personal hygienis,’’  ungkap Dekan FIKES Dr. Retno Widowati, M.Si, seusai menyerahkan langsung bantuan kepada koordinator posko bencana di Kantor Dinas Kesehatan Banten, Sabtu (29/12).

Bantuan disebar ke enam titik posko bantuan dan pengungsian oleh tim FIKES yaitu Posko Pendopo Bupati – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kecamatan Pandeglang, Posko Kecamatan Saketi, Posko Penampungan Tarogong, Posko Puskesmas Labuan, Posko Desa Banyumekar, dan Posko pengungsian di Kantor Kecamatan Jiput.

Selain itu, tim FIKES juga mengirimkan 15 mahasiswa sebagai relawan yang tersebar di posko penampungan korban tsunami dan bergabung dengan tenaga medis dari intansi kesehatan maupun relawan lainnya. Posko penampungan tersebut berada di Desa Banyu Mekar dengan tujuh mahasiswa, Kantor Kecamatan Jiput sebanyak enam mahasiswa, dan Dinas Kesehatan dengan dua mahasiswa.

“Para relawan mahasiswa melaksanakan trauma healing untuk para pengungsi. Mahasiswa mempraktekkan teori matakuliah Komunikasi Terapeutik di lapangan kepada pengungsi. Saya berharap kegiatan ini dapat memberikan pengalaman yang berharga kepada mahasiswa antara teori dengan praktek di lapangan dan mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang manajemen penanggulangan bencana,” tutur Retno.

Nuraini, salah satu korban bencana tsunami, mengaku sangat senang dengan adanya bantuan dan relawan UNAS di posko bantuan. Menurutnya, adanya relawan mahasiswa dari FIKES UNAS sangat membantu dalam melayani dan mengobati para korban bencana. “Syukur Alhamdulillah saya mengucapkan terima kasih karena telah membantu para korban disini,” kata Nuraini, pengungsi yang warungnya terkena dampak tsunami.

Kepedulian UNAS juga ditunjukkan dengan melakukan program trauma healing kepada seluruh korban bencana di daerah Palu, Lombok dan sekitarnya pada awal Desember 2018 lalu. Program ini bertujuan membangkitkan kembali semangat belajar anak-anak Siswa Sekolah Dasar di beberapa kabupaten di Lombok Utara dan Lombok Barat, Palu dan Donggala.

‘’Hati nurani kami merasa terpanggil melihat penderitaan masyarakat yang satu bangsa dan satu tanah air. Kami berharap melalui program trauma healing motivasi dan semangat belajar anak-anak di daerah bencana dapat kembali bangkit,’’ ujar Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNAS, Dr. Robi Nurhadi , Jumat (28/11).

Dalam program itu juga, lanjutnya, tim relawan UNAS memberikan pencerahan bagaimana memindahkan ketakutan menjadi kebahagiaan. Selain itu, juga mengajarkan bagaimana merawat lingkungan dengan baik agar tidak terjadi kerusakan alam kemudian hari dan bagaimana menjalani hidup sebagai umat beragama.

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNAS, Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt. mengatakan, tim relawan UNAS juga membangun spiritual dan mental para korban dengan memberikan motivasi dan hiburan serta kegiatan bermain lainnya.

“Dalam kegiatan ini kami melibatkan beberapa profesi, seperti pendongeng, pesulap, tim psikologi, dan disini kami UNAS yang mengarahkan. Jadi kami juga memberikan hiburan-hiburan positif yang setidaknya membuat anak-anak disana senang, sehingga mereka mau dan tidak takut untuk sekolah lagi.  Selain itu, mereka bisa paham masih banyak kegiatan-kegiatan positif yang bisa dilakukan sehabis tragedi bencana,” katanya yang juga turut dalam kegiatan ini bersama Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. (Ivan/bpn/tim)

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here