Tim UNHI memperlihatkan teh herbal yang siap diproduksi untuk daya tahan tubuh
Tim UNHI memperlihatkan teh herbal yang siap diproduksi untuk daya tahan tubuh

DENPASAR, balipuspanews.com –
Universitas Hindu Indonesia (UNHI) meluncurkan minuman tradisional berbahan herbal yang bermanfaat untuk antibodi. Bahan minuman terbuat dari campuran daun pepaya, daun mendiran, daun penganga, daun pejungutan, cengkeh, jahe, dan kunyit putih.

Produksi minuman yang diberi label teh celup itu dimotori oleh Griya Sehat Ayurwedha UNHI. Rektor UNHI Prof.Dr.drh I Made Damriyasa menyebutkan, saat ini ramuan tersebut masih dalam proses pengujian kandungan bahan yang dipakai campuran. Misalnya daun pepaya mengandung enzim papain, dan bahan-bahan lainnya yang mengandung anti oksidan. Setelah itu, baru akan dilanjutkan pengurusan ijin produksinya sehingga siap edar.

Damriyasa menegaskan, ramuan ini bukan teh untuk menghilangkan virus corona. Namun ramuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh pada manusia.

“ Setelah di cek dari berbagai referensi, seperti lontar Usadha Bali, memang ramuan ini mampu meningkatkan daya tahan tubuh, tidak gampang terkena flu, virus, dan penyakit lainnya,” bebernya.

Diluncurkannya minuman herbal ini demikian Damriyasa, adalah bentuk nyata inkubator bisnis yang dikembangkan universitas Hindu pertama di Bali itu.

Sementara Inventor I Nyoman Sridana mengatakan, kandungan dari ramuan teh herbal ini termuat dalam lontar geguritan sugita. Disebutkan, daun penganga (daun piduh) memiliki anti oksidan yang tinggi dan daun mendiran juga sering digunakan oleh tim medis.

Disebut Sridana, teh herbal ini baik diminum sebanyak tiga kali dalam sehari. Teh ini terdiri dari dua kemasan, ada dalam bentuk teh celup dan teh seduh. Karena berasal dari herbal, teh ini baik diminum sebelum makan.

Kalangan yang cocok minum teh herbal ini demikian Sridana, adalah orang dewasa.Terkait tanaman yang dipakai bahan teh yang banyak tumbuh liar di Bali, hal ini sangat menguntungkan karena gampang dicari.

“ Efek ekonomi juga bisa dinikmati oleh para petani, yang menanam tanaman ini, secara perputaran ekonomi bisa berputar,” jelasnya.

Untuk produksi dalam kemasan banyak, pihak UNHI belum bisa melakukan karena masih dalam proses pengurusan perijinan. Saat ini minuman tradisional itu sedang dalam uji laboratorium. Setelah keluar hasil labnya baru bisa memproduksi lebih banyak lagi.(bud/bas)