Rektor Universitas Udayana Prof. Dr. dr. AA Raka Sudewi, Sp. S K (tiga dari kanan) didampingi jajaran pada konferensi pers terkait penerimaan mahasiswa baru tahun 2020, di kampus setempat, Senin (2/12).
Rektor Universitas Udayana Prof. Dr. dr. AA Raka Sudewi, Sp. S K (tiga dari kanan) didampingi jajaran pada konferensi pers terkait penerimaan mahasiswa baru tahun 2020, di kampus setempat, Senin (2/12).
sewa motor matic murah dibali

BADUNG, balipuspanews.com- Rektor Universitas Udayana (Unud) Prof. Dr. dr. AA Raka Sudewi, Sp. S (K) menjelaskan, Unud menargetkan sebanyak 7.200 mahasiswa baru (maba) di tahun 2020.
Jumlah yang direkrut sesuai dengan kebutuhan dari 54 program studi jenjang sarjana (strata satu). Daya tampung ditetapkan berdasarkan kebutuhan di setiap program studi (prodi).

“Tahun ini kuota mahasiswa baru yang diserap jumlahnya lebih banyak. Karena ada penambahan Prodi Teknik dan Industri serta Prodi Lingkungan. Sebelumnya, 2 prodi itu belum masuk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), ” jelas Raka Sudewi, Senin (2/12) di depan awak media, di Kampus Unud, Bukit, Jimbaran.

Selain itu, pihaknya juga mempertimbangkan prodi-prodi langka yang sepi peminat seperti, Sejarah Antropologi, Fisika maupun Sastra Jawa Kuno. “Karena ini sudah target, kami optimis akan terpenuhi kuotanya,” tambahnya demikian.

Dalam penerimaan mahasiswa baru tahun 2020, ada sejumlah perubahan teknis dalam mendaftar melalui jalur Seleksi Nasional Masuk perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Mandiri dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.

Unud mengundang kepala sekolah dan siswa se-Bali dalam rangka sosialisasi jalur penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN, SBMPTN, Mandiri dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah yang sebelumnya merupakan jalur beasiswa Bidik Misi, Senin, 2 Desember 2019.

Raka Sudewi menjelaskan, dibandingkan tahun sebelumnya, perbedaan pendaftaran tahun terdapat pada teknis pendaftaran. Sebelum melakukan registrasi, siswa harus membuat akun terlebih dulu melalui laman  Lembaga Tes Masuk Perguruan Tunggi (LTMPT).

Pelaksanaan registrasi akun LTMPT dibagi menjadi dua cara. Pertama, untuk PDSS dan SNMPTN, akan dilaksanakan tanggal 2 Desember 2019 sampai 7 Januari 2020.

Cara kedua, registrasi akun LTMPT untuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dan SBMPTN akan dilaksanakan pada tanggal 7 Februari-5 April 2020.

“Perbedaannya hanya pada pola update, dan siswa harus buat akun terlebih dulu. Sedangkan materi tes, tetap mengacu pada Tes Potensi Akademik (TPA),” jelas Raka Sudewi.

Sementara, Wakil Rektor I Prof. Dr. Ir. I Nyoman Gde Antara, M.Eng., menekankan, siswa yang telah lolos dari jalur SNMPTN, tidak diperbolehkan lagi mengikuti jalur lain. Hal itu dilakukan dengan pertimbangan asas keadilan.

“Yang lolos SNMPTN tertutup untuk jalur Mandiri atau jalur kedua dan ketiga. Karena NEM-nya sudah diblok. Ini semata-mata untuk asas keadilan, jangan sampai didominasi oleh satu orang,” jelas Gde Antara.

Penerimaan mahasiswa baru melalui tiga jalur itu mengacu pada status akreditasi sekolah. Sekolah dengan akreditasi A, dapat mendaftarkan 40 persen peserta didik terbaiknya. Sekolah dengan akreditasi B mendapatkan kuota 25 persen dan sekolah dengan akreditasi mendapatkan kuota 5 persen peserta didik.

Bagi siswa pendaftar dari keluarga kurang mampu dapat mengajukan bantuan biaya pendidikan melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) atau Afirmasi Pendidikan Daerah 3T (Adik).

Siswa pendaftar terlebih dahulu mempelajari prosedur pendaftaran program KIP-K dan Adik yang dapat dilihat melalui laman KIP Kuliah dan Kemdikbud.

Informasi resmi terkait tahapan seleksi, persyaratan, maupun ketentuan pelaksanaan SNMPTN, UTBK, dan SBMPTN 2020 dapat diakses pada laman resmi LTMPT atau melalui Call-Center 0804 1 450 450 (mulai Senin, 18 November 2019) dan Helpdesk Halo LTMPT serta menghubungi Humas PTN.

Pihak Unud juga berencana merancang beasiswa atau memberi  keringanan khusus bagi peminatan prodi langka peminat seperti sejarah, antropologi, sastra Jawa Kuno dan matematika. Tujuannya agar prodi tersebut tidak mati suri, padahal prodi itu punya posisi yang strategis.

Unud juga telah berupaya meningkatkan fasilitas untuk mahasiswa berkebutuhan khusus (difable). “Prodi Unud lebih dari 50 persen sudah terakreditasi A. Sekarang kami dorong naik ke akreditasi internasional, salah satunya menuntut sarana untuk mahasiswa berkebutuhan khusus,” pungkas Raka Sudewi. (bud/bpn/tim)