Upaya Mediasi Kasus Kekerasan Pelajar di Seririt.
sewa motor matic murah dibali

SERIRIT, balipuspanews.com — Kasus kekerasan antar anak salah satu Sekolah Kejuruan Negeri di Kecamatan Seririt, membuat salah seorang siswi berinisial PH mengalami retak tulang tangan kanan. Konon, PH mengalami retak tulang

akibat dikeroyok. Kasusnya pun kini masih ditangani pihak kepolisian, dengan cara melakukan mediasi, mengingat mereka masih dibawah umur.

Kasus kekerasan antar pelajar itu terjadi pada Rabu (8/5) lalu ketika jam pulang sekolah yang melibatkan lima siswi dari SMK Negeri 1 Seririt, diantaranya SD, MA, DD, PH dan ST.

Informasi dihimpun, kasus kekerasan yang melibatkan siswi SMK Negeri 1 Seririt itu disebabkan masalah sepele. Saat itu, PH dan ST sedang bercanda dengan tertawa keras.

Kebetulan saat itu, salah satu dari ketiga pelaku yakni antara SD, MA, DD melintas hingga membuat ketersingungan. Sehari setelah itu, ketika pulang sekolah SD, MA dan DD mengajak PH dan ST untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi hingga kemudian mengajak ke sebuah tempat di Desa Kalianget.

Diduga sempat terjadi cekcok saat itu, hingga akhirnya membuat SD, MA dan DD melakukan aksi kekerasan dengan menjambak rambut PH. Bahkan, ST yang mencoba melerai juga menjadi korban, aksi kekerasan itu menyebabkan PH mengalami retak pada tulang tangan setelah dijambak dan terjatuh dikeroyok dengan dipukul dan ditendang.

Kasus kekerasan inipun sempat menjadi viral di media sosial (medsos) Facabook yang sengaja dibagikan oleh salah satu akun facebook Septy Manggasari yang merupakan kakak dari salah satu korban. Hingga akhirnya, kasus ini ditangani oleh Polsek Seririt untuk segera melakukan mediasi. Hanya saja, upaya mediasi gagal dilakukan di Mapolsek Seririt.

Seijin Kapolres Buleleng, Kapolsek Seririt, Kompol Wayan Suka mengatakan, dari awal kasus ini sudah ditangani langsung oleh Unit Reskrim Polsek Seririt. Dan kedua pihak serta pihak sekolah, saat itu meminta mediasi secara kekeluargaan dengan korban meminta biaya pengobatan.

“Dari hasil mediasi, terduga pelaku dan keluarga masih belum ada kesepakatan, sehingga kami arahkan untuk proses hukum ke unit PPA Polres Buleleng,” singkat Kapolsek Suka, Senin (13/5).

Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng, akhirnya melakukan mediasi terhadap kasus tersebut, dengan menghadirkan korban PH dan ST serta pelaku SD, MA dan DD bersama masing-masing orang tua mereka dan guru sekolah.

Kasubbag Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya menjelaskan, upaya penanganan masih dilakukan secara mediasi untuk menyelesaikan kasus itu, karena melibatkan pelajar yang masih dibawah umur, sehingga polisi lebih mengedepankan upaya pembinaan.

“Sudah ada tindaklanjut untuk mediasi. Tapi penanganannya, menggunakan sistem peradilan pidana anak dengan pembinaan yang dilakukan pihak sekolah dan Polsek Seririt,” jelasnya.

Kasubbag Sumarjaya pun tak menampik, kasus ini akan dilakukan penanganan secara hukum, jika mediasi yang sudah dilakukan tidak membuahkan hasil.

“Jika dalam mediasi gagal, pasti yang merasa dirugikan melapor secara resmi kepada pihak berwajib. Selama ini belum, tapi sudah ditindaklanjuti dengan melakukan mediasi melibatkan kedua pihak, sekolah dan juga orangtua,” tandasnya.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here