Gede Pasek Suardika
Gede Pasek Suardika

DENPASAR, balipuspanews.com -Sejak mencuatnya wabah Covid-19 di Indonesia, khususnya Bali, politisi Gede Pasek Suardika (GPS) gencar melontarkan masukan dan kritik kepada pemerintah tentang penanggulangan wabah Covid-19 di akun media sosialnya berupa Facebook miliknya @Gede Pasek Suardika.

Tak bisa dihindari, sederet postingannya menuai komentar dan reaksi netizen, pejabat daerah serta berbagai tokoh masyarakat di Bali. Pro-kontra selalu menghiasi kolom komentar akun facebooknya. Orang yang kontra dengan dirinya, menuding dirinya hanya mencari panggung di tengah wabah Covid-19.

Namun ia membantah dengan tegas. Pasalnya, kata GPS, Covid-19 yang melanda dunia adalah urusan kemanusiaan sehingga menjadi tanggungjawab semua pihak untuk melakukan upaya penyelamatan serius agar semua tidak menjadi korban.

“Ayoo move on. Ini bukan urusan cari panggung atau politik. Ini urusan penyelamatan kemanusiaan. Kita semua bisa jadi korban. Jangan hanya melayani yang cari muka saja dan menuduh yang mengkritik cari panggung. Maaf, saya belum pernah mendengar pimpinan turun langsung ke pasar tradisional, pelabuhan dan tempat umum lain sejak pasien positif korona menjadi 19 orang,” sindir Sekjen Partai Hanura ini, dalam keterangannya, Selasa (31/3).

Menurutnya, pandangan dan kritik yang dilontarkannya, terkadang cukup keras itu, jauh lebih penting daripada pembiaran apalagi hanya pujian.

Kritikan dan saran sangat terukur, kritikan itu harus dilakukan karena ini urusan kemanusiaan. Salah kelola bisa menjadi tragedi kemanusiaan. Kita tidak ingin seperti Italia akibat tidak jelas di awal, akhirnya tragedi di ujungnya. Korbannya kita semua,” katanya mengingatkan.

Jadi, jangan malah alergi kritik, seharusnya jengah dan bisa berindak lebih cekatan. Bali itu pulau lebih mudah dibandingkan daerah lain mengingat jumlah penduduknya lebih sedikit.

Pasek berharap para pimpinan daerah turun melihat rumah sakit, pasar tradisional, pelabuhan dan lainnya, guna mengecek bagaimana kondisi sebenarnya serta sejauh mana upaya pencegahan yang dilakukan aparat dan pihak terkait di tingkat bawah.

Masyarakat perlu energi psikologis untuk bangkit dengan kehadiran pemimpinnya di lapangan. Apa yang disampaikan itu, kata Pasek tidak ada urusan hubungan pribadi melainkan ini urusan kemanusiaan.

Dia mengaku sempat ditanya, bagaimana seorang Sekjen Parpol sampai mengambil urusan kecil kritik sampai urusan teknis lainnya.

“Saya katakan, urusan jabatan, urusan politik itu urusan nanti. Ini urusan kalau salah kelola, lambat ambil keputusan maka keluarga besar kita bisa jadi korban,” tukas mantan Ketua Komisi III DPR RI ini.

Dia mengaku harus meninggalkan posisi dan jabatan meski urusan rekomendasi Pilkada ada 187 yang harus dia urus.

“Ini panggung politik saya. Karena pengaruhnya nasional dan seluruh Indonesia. Itu semua Saya tinggalkan ke Bali dulu. Berjuang saja di Bali apa yang bisa bermanfaat untuk melawan ancaman Covid 19 ini,” seru mantan jurnalis ini.

Ia mengaku bersama jaringan yang dimiliki, sejak awal sudah melakukan penyemprotan desinfektan lanjut dengan bagi-bagi masker sebagai langka konkrit di masyarakat. (Bud/BPN/tim)