Pakan ternak batang pisang menjadi alternatif peternak di Nusa Penida
sewa motor matic murah dibali

Semarapura,balipuspanews.com-  Dua sapi milik anggota kelompok peternak Gelagah Mandiri, desa Bunga Mekar, Nusa Penida, Klungkung mendadak mati setelah memakan batang pisang. Hal itu cukup mengejutkan peternak, karena makanan tersebut sebelumnya sudah terbiasa diberikan. Curah hujan yang tidak menentu membuat peternak memberikan pakan batang pisang karena kesulitan mencari pakan yang lain. Selain batang pisang, peternak mencampu pakan dengan daun akasia.

“ Sesuai kondisi dilapangan ada dua  ekor sapi betina milik anggota kami mati dalam satu malam.Matinya karena makan batang  pohon pisang (gedebong) karena musim kering peternak kesulitan mencari pakan ternak . Jangankan batang pohon pisang daun akasia pun di kasih karena kita anggap hal ini sudah biasa kita berikan kepada sapi – sapi kita disini,” ujar ketua kelompok Gelagah Mandiri Nengah Darmawan.

Menurut Darmawan, sebenarnya Dinas Peternakan sudah memberi kelompok lumbung pakan untuk mengantisipasi kesulitan pakan ini. Hanya saja  kondisi sapi di Nusa Penida beda dengan sapi yang dipelihara di Klungkung daratan. Sebab sapi di Nusa Penida tidak mau memakan pakan yang diberikan.

“Sudah beberapa kali kami coba kasi pakan kering dan basah dari olahan kacang dan batang jagung yang diberikan pemerintah ,tetapi sapinya tidak mau makan. Akhirnya peternak kembali  seperti dahulu dengan memberikan batang pohon pisang yang dicampur dengan daun akasia,” ungkapnya.

Selain kesulitan mencari pakan ternak musim kering juga mempengaruhi harga dedak. Dimana  saat ini harga dedak di Nusa Penida berkisar  antara  Rp 220.000 sampai Rp 250.000 persak  yang isinya 50 kg. Sementara harga sapi justru anjlok yakni Rp 8 juta per ekor.

“ Kami juga kesulitan mendapatkan air kami punya cubang banyak. Namun semua cubang yang kami miliki hanya mengandalkan air hujan semata. Sedangkan hampir semua Cubang mulai sedikit airnya karena musim kering,” cetusnya.

Kelompok  Gelagah Mandiri  ini sejauh ini memiliki sapi penggemukan sebanyak 25 ekor dengan dua diantaranya mati . Selain itu ada juga sapi simantri 20 ekor. Sapi yang mati juga belum diasuransikan karena anggota kelompok banyak yang sibuk mengadakan upacara pengabenan.

Diakuinya  memang belum ada sapi sapi  yang diasuransikan tapi nantinya  kami akan asuransikan karena banyak dari anggota yang sedang sibuk upacara Pengabenan .M enurut Darmawan selama ini kalau situasi normal sapi pernah juga diberi daun gamal sebagai bahan pokok makan .Tapi karena kondisi kekeringan daun gamal tidak ada yang tumbuh . Makanya perternak mengandalkan pakan ternak dari dedak yang dicampur air dan pakan yang lainnya.

“ Masalahnya kita juga kesulitan air sedangkan peternak juga jarang pakai bedak Karena harganya cukup mahal ,terangnya.  Dirinya menambahkan kelompoknya sempat mendapat bantuan 20 sak Lebih dedak  dari pemerintah provinsi Bali. Namun tahun ini banyak bantuan tersebut belum didapat sehingga dia berharap bantuan serupa bisa diberikan dalam kondisi seperti ini.

Peternak berharap  pemerintah bisa memberikan bantuan air yang bisa  mengalir ke kelompok ternak.

Setiap seekor sapi butuh satu ember air untuk dikonsumsi belum termasuk untuk mandi sapinya .

“  Tapi kan harus mandi tapi dengan kondisi saat ini kami tidak pernah mandikan  sapi sapi kami,” tambahnya.

Diakuinya  kekeringan tahun ini juga yang terparah sempat hujan dan rumput gajah nya mulai tumbuh tapi  malah datang panas lagi dan membuat rumput gajah yang sempat tumbuh mulai  mati meranggas lagi. Kondisi inilah yang membuat para peternak di Nusa Penida kelimpungan saat ini. (Roni)

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here