Salah seorang lansia pengerajin kain Songket khas Buleleng di Desa Jinengdalem, Buleleng
Salah seorang lansia pengerajin kain Songket khas Buleleng di Desa Jinengdalem, Buleleng

BULELENG, balipuspanews.com – Hobi memang sudah menjadi penyemangat tersendiri bagi Nengah Suadi, 86 asal Banjar Dinas Gambang dalam melakoni pekerjaan sebagai seorang pengerajin kain Songket khas Buleleng yang sudah dilakoninya sejak usia belasan tahun hingga saat ini.

Meski terbilang usianya sudah lanjut dengan kondisi fisik yang sudah renta tapi kedua tangan hingga pengelihatannya masih tetap kuat dan tajam untuk menyelesaikan pekerjaannya menenun benang sutra menjadi sebuah kain Songket setiap harinya.

Nengah Suadi bercerita sudah sejak umur belasan tahun melakoni pekerjaannya sebagai seorang pengrajin tenun. Semua berawal dari kondisi ekonomi yang dikatakannya jauh dari kata mampu bahkan tidak sempat mengenyam pendidikan apapun sejak kecil.

Akhirnya dirinya memutuskan untuk lanjut bekerja sebagai seorang pengerajin kain songket yang sudah dilakukan secara turun temurun dari sang nenek. Dirinya juga dulunya sempat berkeliling untuk menjual kain songket hasil tenunnya ke beberapa tempat di Bali.

Namun sejak tenaganya mulai berkurang dan fisiknya mulai lelah, akhirnya dirinya memilih untuk bekerja dengan salah seorang pengrajin besar di Desa Jinengdalem.

“Dari umur 14 tahun pas baru menginjak remaja mulai menenun sambil menjual hasilnya keliling. Bahkan jualannya keliling ke Klungkung, Denpasar, sampai Gilimanuk saya jualan, tapi 10 tahun lalu sudah tidak berani lagi keliling karena sudah usia,” tuturnya saat ditemui dirumahnya Minggu (28/6/2020).

Lanjut Suadi yang juga pernah mengikuti lomba desa ditingkat kabupaten tersebut bercerita bahwa setelah fisiknya mulai renta dirinya masih mengambil pekerjaan namun hanya sebatas menenun selendang yang bisa dirinya selesaikan dalam seminggu sebanyak 2 buah dengan harga 300 ribu.

Meski begitu dirinya tak patah semangat atau merasa bosan untuk menenun kain Songket tersebut, bahkan biasanya sampai larut malam dia mengaku masih menenun dengan teliti.

“Tujuh hari Bisa selesaikan 2 selendang dengan panjang 150 cm dengan ongkos 300 ribu. Capek ya capek tapi karena saya senang dengan hasilnya, bahkan sampai larut malam kalau belum ngantuk saya masih menenun,” terangnya.

Meski dengan umur yang sudah lanjut perempuan yang memiliki 5 orang anak tersebut mengaku senang bisa tetap menghasilkan uang dengan tangannya sendiri, bahkan hampir tidak pernah ada rasa bosan untuk menenun kain songket yang sudah dia gemari selama puluhan tahun itu.

Selain itu dirinya menceritakan bagaimana masa mudanya yang bisa berkeliling setelah menyelesaikan 3 buah kain dengan cepatnya dalam waktu seminggu.

“Anak saya hampir semua bisa menenun, kalau ditanya bosan saya tidak pernah bosan bahkan sampai sekarang senang sekali menenun. Dulu pas masih tenaganya besar saya bisa selesaikan 3 kain dalam seminggu,” ungkapnya.

Kendati suami tercinta sudah dipanggil yang pencipta semangat Suadi tak pernah pudar untuk memenuhi kebutuhan dirinya lewat pekerjaannya menenun kain Songket khas Buleleng tersebut.

“Sudah lama suami saya meninggal, tapi saya tetap menenun karena ini hobi yang paling saya suka,” tutupnya.

Penulis : Nyoman Darma

Editor : Putu Artayasa