Belasan ribu orang menandatangani petisi yang menuntut penghapusan kewajiban skripsi bagi mahasiswa terkait risiko penularan virus corona (Covid-19)
Belasan ribu orang menandatangani petisi yang menuntut penghapusan kewajiban skripsi bagi mahasiswa terkait risiko penularan virus corona (Covid-19)

DENPASAR, balipuspanews.com – Belasan ribu orang menandatangani petisi yang menuntut penghapusan kewajiban skripsi bagi mahasiswa terkait risiko penularan virus corona (Covid-19).

Per Sabtu (28/3) pukul 22.48 WIB, jumlah penandatangan petisi di situs Change.org itu telah mencapai 14.421 orang.

Dalam pengantarnya, kondisi terkait Covid-19 saat ini telah membuat para mahasiswa kesulitan mengerjakan tugas akhir agar bisa kuliah tersebut.

Selain itu, pembuat petisi tersebut, Fachrul Adam meminta pemerintah ataupun pihak kampus dapat meringankan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Menanggapi hal tersebut, akademisi yang juga Rektor Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar Dr. Drs. Nyoman Sura Adi Tanaya, M.Si., berpendapat, wacana penghapusan skripsi terlalu prematur (dini). Sebab, skripsi adalah pertanggungjawaban akademik mahasiswa tingkat akhir untuk menentukan kualitasnya.

“Sejauh ini, skripsi untuk mahasiswa strata satu (S1) masih sangat penting,” kata Sura dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Kamis (2/4).

Menurutnya, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, rangkaian skripsi mahasiswa meliputi pengajuan proposal, bimbingan hingga ujian bisa dilakukan dalam jaringan (daring), seperti perkuliahan selama masa tanggap darurat Coronavirus Disease (Covid-19).

Sura menambahkan, sudah mengantisipasi iklim akademik secara daring, sebelum masa tanggap darurat Covid-19 diberlakukan oleh pemerintah. Semua jajaran dosen dan staf pegawai telah diberikan pelatihan intensif.

“Kita semua tentu berharap virus corona ini segera berakhir. Namun misalnya jika berkepanjangan hingga Agustus, proses yudisium dan wisuda pun sudah kami pikirkan secara daring atau online,” imbuhnya.

Secara psikologis, rektor asal Buleleng ini tak menampik wisuda online terkesan aneh dan sedikit mengurangi rasa kebanggaan.

Namun yang terpenting di saat masa darurat, keselamatan nyawa adalah prioritas, dan mahasiswa segera mendapatkan ijazah untuk digunakan sebagaimana mestinya.