Virtual Tourism: Strategi Recovery Pariwisata Bali Pasca COVID-19?

Dr. I Gusti Bagus Rai Utama
Dr. I Gusti Bagus Rai Utama

EDUKASI, balipuspanews.com – Menurut penelitian yang dilakukan di Jerman oleh Statista, hampir 50% orang akan menggunakan Virtual Tourism (selanjutnya disebut VR) sebagai alat untuk memilih tujuan wisata mereka (asalkan gratis). 13% dari mereka yang disurvei bersedia membayar untuk layanan VR yang mereka gunakan. Penelitian sejenis yang dilakukan oleh Tourism Australia menemukan bahwa hampir 20% konsumen telah menggunakan VR untuk memilih tujuan wisata dan sekitar 25% wisatawan mengatakan bahwa mereka berencana untuk menggunakan VR di masa depan untuk membantu mereka memutuskan tujuan liburan. Secara keseluruhan, penelitian oleh Tourism Australia menemukan bahwa VR memiliki kemampuan untuk pencitraan destinasi dan membuat calon wisatawan mempertimbangkan bewisata ke tempat-tempat yang mereka pertimbangkan sebelumnya. Rupanya Virtual Tourism ini akan dapat menjadi strategi jitu untuk pencitraan destinasi pariwisata Bali pada era pasca normal (pasca COVID-19).

Akankah realitas virtual menggantikan perjalanan wisata?…
Sebuah pertanyaan logis dan rasional, sama halnya ketiga biro perjalanan tradsional resah dan gelisah dengan kehadiran online travel agent. Pada sebuah studi yang dilakukan oleh perusahaan Perjalanan Eropa Italy4Real, menemukan bahwa 81% orang dewasa mengatakan bahwa VR tidak dapat menggantikan perjalanan. Sebagian besar yakni 92% mengatakan bahwa mengunjungi tujuan melalui aplikasi VR tidak sama dengan mengunjunginya di kehidupan nyata. Lebih lanjut, 77% mengutip pengambilan sampel makanan lokal sebagai hal yang penting bagi mereka. VR Tourism tentu saja tidak akan mampu menggantikan kenyataan termasuk bau dan suasana keseluruhan yang diciptakan oleh manusia dan hewan.

VR Tourism sebagai media LDR (Long Distance Relationship) dengan Destinasi Pariwisata…
Virtual reality (VR) mengacu pada gambar interaktif atau video yang memungkinkan pengunjung untuk menjelajahi seluruhnya yakni 360 derajat dari sebuah adegan. Dalam industri perjalanan, realitas virtual dapat digunakan untuk melihat daerah tujuan wisata dengan cara yang unik dan mendalam. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kamera spesial dan perangkat lunaknya. Konten yang sudah selesai kemudian dapat dilihat pada komputer biasa atau perangkat seluler. Pada awalnya, VR digunakan dalam industri pariwisata adalah untuk menjalan fungsi pemasaran destinasi ataupun hotel untuk membentuk citra tujuan wisata dengan cara yang mengesankan dan lebih mendalam. Salah satu kekuatan terbesar VR adalah memungkinkan pengguna untuk mengalami perasaan seolh-olah “berada di sana”. Sementara gambar dan video biasa dapat berfungsi dengan baik untuk menunjukkan apa yang ditawarkan suatu destinasi. VR dalam pariwisata memiliki kemampuan untuk menempatkan pengguna detak jantung tempat kejadian dan membuatnya lebih mudah untuk membayangkan diri mereka berada di lokasi.

VR Tourism sebagai Kolaboratif Industri Kreatif…
Teknologi VR dalam pariwisata adalah sebuah kolaboratif antara teknologi dan pariwisata. VR dapat digunakan dalam berbagai cara di industri pariwisata. Teknologi ini berkembang dengan sangat cepat dan penggunaan VR dalam pariwisata berkembang seiring dengan teknologinya. Apakah VR dalam pariwisata sama dengan Game?. VR berfungsi seperti video biasa yang dapat dilihat di media sosial atau situs web, tetapi tidak seperti video biasa karena pengguna dapat menjelajahi seluruh adegan saat video diputar. Kolaboratif ini memerlukan fotografi pariwisata virtual yang berfungsi seperti video pariwisata kemudian tampilan bebas untuk menggulir atau menggesek gambar untuk melihat seluruh adegan diperlukan teknologi dan aplikasi perangkat lunak. Aplikasi VR dalam pariwisata meliputi: (1) Pengalaman perjalanan realitas virtual, (2) Konten pariwisata VR untuk media sosial atau situs web, (3) Tur hotel atau tour destinasi. Pengalaman perjalanan virtual ini bertujuan untuk menciptakan perasaan yang sama seperti berada di tujuan yang sebenarnya. Pengalaman perjalanan realitas virtual memberikan sesuatu yang benar-benar unik dan berkesan bagi pengguna. Jumlah agen perjalanan dan perusahaan perjalanan yang menggunakan teknologi ini terus berkembang dan mereka menjanjikan masa depan yang cerah dalam industri ini.

Recovery Destinasi Pariwisata Bali dengan VR Tourism…
Kesimpulannya: Virtual tourism akan menguntungnya para pengusaha nano (mikro) tourism seperti penyedia aplikasi VR Tourism melalui penjualan jasa akses, namun secara keseluruhan (makro) VR tourism akan berdampak secara nyata pada destinasi pariwisata secara realitas pengalaman karena hal tersebut tidak dapat disediakan oleh penyedia layanan VR Tourism, seperti manusia memfungsikan panca inderanya. VR Tourism hanya dapat menyediakan lihat dan kesan saja, tetapi tidak mampu memberi rasa, bau, emosi, kepuasan, kesetiaan dan loyalitas. Pagi pengelola destinasi pariwisata Bali dan bersama-sama dengan para pengusaha hotel, restoran, dan tempat-tempat hiburan dapat bekerjasama sama dengan para penyedia layanan VR Tourism, dan juga berkolaborasi dengan semua stakeholder pariwisata dengan mempertimbangkan kolaborasi, sinergisitas, dan sinkronisasi serta harmonisasi pada 4A (Atraksi, Akses, Amenitas, Ansileri) dan melibatkan masyarakat lokal. Strategi ini dipercaya dapat mempercepat pemulihan destinasi pariwisata Bali dalam waktu dekat maupun panjang.

Penulis/Editor :
Dr. I Gusti Bagus Rai Utama

Penulis adalah Rektor dan juga Dosen Tetap Pariwisata pada Universitas Dhyana Pura, Alumni Program Doktor Pariwisata Universitas Udayana.