Wakil Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, SE.,MM.
Wakil Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, SE.,MM.

TABANAN, balipuspanews.com – Tanggal 1 Juni besok merupakan momentum yang sangat penting dan bersejarah bagi bangsa ini.

Mengingat pada tanggal 1 Juni 1945 silam, tercetuslah konsep dasar negara yakni Pancasila. Sehingga setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila.

Lalu, seperti apa sejatinya setiap komponen bangsa ini memaknai spirit dari Hari Lahirnya Pancasila? Sebuah pandangan menarik kemudian terlontar dari Ketua DPC PDIP sekaligus juga Wakil Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, SE.,MM. Seperti apa? Berikut ulasannya.

Sebelum berbicara terhadap pemaknaan, Dr. Sanjaya mengungkapkan sejarah singkat lahirnya Pancasila. Menurutnya, lahirnya Pancasila ini adalah berawal dari judul pidato yang disampaikan oleh Ir. Soekarno pafa sidang Dokuritsu Junbi Cosakai.

“Dokuritsu Junbi Cosakai ini adalah istilah dalam bahasa Jepang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan. Sidang tersebut berlangsung pada tanggal 1 Juni 1945,” ungkapnya.

Wabup Dr. Sanjaya mengatakan, dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan oleh Ir. Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

Pidato ini pada awalnya disampaikannya secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPKI.

“Hingga kemudian sejak tahun 2017, setiap tanggal 1 Juni resmi menjadi hari libur nasional untuk memperingati hari lahirnya Pancasila,” ungkapnya.

Dr. Sanjaya mengatakan, mengingat hari lahirnya Pancasila merupakan sebuah momentum penting bagi bangsa ini, maka sangat layak kemudian setiap warga negara memaknainya dengan mendalam. Termasuk pula bagi segenap semeton Tabanan yang dikenal memiliki semangat dan jiwa nasionalis yang tinggi.

Disebutkannya, adapun thema hari lahirnya Pancasila ditahun 2020 ini adalah “Pancasila dalam Tindakan Melalui Gotong Royong Menuju Indonesia Maju”. Baginya, thema ini memiliki makna mendalam. Sederhananya adalah menjadikan Pancasila sebagai “darah” berkehidupan bagi seluruh elemen bangsa menuju Indonesia maju.

“Menjadikan Pancasila sebagai darah berkehidupan bagi seluruh elemen bangsa menuju Indonesia maju itu tentu dalam tindakan melalui cara gotong royong. Mengingat gotong royong sendiri merupakan salah satu budaya bangsa sekaligus pula cerminan dari sila ketika Pancasila yang berbunyi Persatuan Indonesia,” jelasnya.

Terkait dengan hal tersebut Wabup Dr. Sanjaya kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat semakin memperkokoh semangat bersatu dalam kebhinnekaaan dalam membangun Tabanan sesuai dengan visi Tabanan Serasi.

Baginya, memperkokoh semangat bersatu tersebut dapat diwujudkan dengan seluruh komponen masyarakat Tabanan “pakedek pakenyem” bekerja, bekerja, dan bekerja sesuai dengan minat bakat dan swadharmanya masing-masing.

Lebih jauh Dr. Sanjaya mengajak seluruh komponen masyarakat Tabanan untuk meresapi amanat Ibu Megawati Soekarno Putri dalam memperingati hari lahirnya Pancasila.

Yakni bahwa pada 1 Juni 1945 Bung Karno mengumandangkan sebuah pidato maha penting di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pidato yang kemudian dirumuskan dalam alinea 4 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan nilai-nilai Pancasila yang digali Bung Karno dari persada Indonesia.

Pidato ini maha penting bagi kita sebagai bangsa karena dua alasan mendasar.
Pertama, Pancasila telah menjadi norma fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, serta hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.

Dasar yang diperlukan sebagai syarat agar kita bisa mengklaim diri sebagai sebuah negara merdeka.

Dalam kedudukan yang demikian, Pancasila telah menjadi roh yang membimbing arah perjuangan mencapai Indonesia yang merdeka dan berdaulat penuh.

Tapi lebih dari itu, Pancasila telah menjadi bintang penuntun bagi bangsa ini dalam mengarungi masa depan yang masih jauh membentang di hadapan berlapis-lapis generasi yang akan datang.

Kedua, Pancasila sekaligus telah berfungsi sebagai alat efektif yang mempertautkan bangsa yang bhinneka ini ke dalam keikaan yang kokoh.

Pancasila telah menjadi magnet yang memberikan alasan bagi kita untuk menerima kemajemukan sebagai anugrah.

Sebuah fungsi instrumentalistik yang efektif dalam menghindarkan bangsa ini dari kemungkinan terjadi sengketa ideologis berkepanjangan yang bagi cukup banyak bangsa baru telah memakan korban anak-anaknya sendiri.

Namun dalam beberapa dekade usaha mengisi kemerdekaan kita menyaksikan, di satu sisi Pancasila telah dipisahkan keterkaitannya dengan penggalinya, dikaburkan pengertian-pengertiannya, diselewengkan, dan akhirnya secara perlahan-lahan ditinggalkan dalam prakteknya.

Di sisi lain, keteguhan kita sebagai kekuatan Pancasilais dalam memperjuangkan Pancasila agar menjadi ideologi yang hidup, mengalami perapuhan.

Untuk itu saudara-saudara, dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila saya amanatkan kepada semua pejuang-pejuang Pancasilais:

Pertama, satukan hati, pikiran, ucapan dan tindakanmu ke dalam satu tarikan nafas perjuangan mewujudkan Pancasila. Jangan pernah biarkan tindakanmu mengkhianati ucapanmu. Jangan pernah biarkan ucapanmu mengkhianati pikiranmu. Dan jangan pernah biarkan pikiranmu mengkhianati hati nuranimu. Di dalam kesatuan dan keteguhan hati, pikiran, ucapan dan tindakanmu Pancasila akan menampakan kewibawaaannya.

Kedua, jadikanlah gotong royong sebagai intisari Pancasila menjadi cara pikirmu, menjadi cara tuturmu, dan menjadi cara kerjamu dimanapun dan kapanpun. Jangan pernah lelah untuk berpikir dan bertindak secara gotong royong. Hanya dengan cara itu, Pancasila akan menjadi ideologi dinamis yang hidup dan berdialektika di tengah-tengah bangsa yang bhineka ini.

Ketiga, sebagai bangsa yang sedang menjadi – a nation in the making – ingatlah akan pesan Bung Karno, “Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman – janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan”.

Karenanya, berjuang, berjuang dan sekali lagi berjuang di jalan ideologi Pancasila 1 Juni 1945 harus menjadi elan hidup setiap pejuang pancasilais.

Hanya dengan cara itu, kita dapat mencapai tujuan masyarakat yang adil dan makmur sesuai cita-cita didirikannya Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.

“Selamat memperingati hari lahirnya Pancasila,” tutup Wabup Dr. Sanjaya.

Penulis/Editor : Ngurah Artadana/Artayasa