Tradisi mejaga jaga di Besang Kawan Tohjiwa sebagai ritual mengarak sapi penolak bala yang berlangsung turun temurun
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Semarapura,balipuspanews.com– Warga desa pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Semarapura Kaja, Klungkung punya tradisi unik yang berlangsung setiap tahun. Tradisi tersebut adalah mecaru mejaga – jaga yang mengunakan sarana sapi yang diarak keliling desa pakraman. Tradisi yang berlangsung turun – temurun itu digelar Sabtu ( 11/8) 2018 bertepatan dengan Tilem Karo.

Tradisi tersebut diyakini mampu menghindarkan malapetaka bagi warga desa. Prosesi yang dipusatkan di Catus Pata itu diikuti hampir semua warga. Diawali sekitar pukul 07.00 Wita sapi yang dipilih dimandikan oleh warga.  Selanjutnya diarak mengunakan tujuh tali menuju arah utara diperbatasan desa pakraman.

Persisnya di depan Pura Puseh desa setempat. Di sana digelar prosesi menebas pantat sebelah kanan sapi oleh Pemangku Pura Catus Pata. Alat yang dipakai menebas adalah blakas sudamala. Darah yang keluar dari pantat tersebut menetes sepanjang jalan yang dilalui. Sapi langsung diarak menuju batas selatan desa.

Persis di depan Pura Dalem, dilakukan proses upacara yang tak jauh beda dengan upacara di perbatasan desa sebelah utara. Sapi ditebas pada pantat bagian kiri. Selanjutnya diarak kembali ke catus pata, sebelum akhirnya diarak lagi ke arah timur sampai di perbatasan desa sebelah timur. Di sana, sapi yang tampak kelelahan itu kembali ditebas pada pantat sebalah kanan.

“ Diarak ke barat sampai di depan Pura Prajapti. Kaki belakang mana yang lebih agak ke belakang, itu ditebas. Kemudian kembali ke catus pata untuk upacara selanjutnya,” jelas pegawai di Kelurahan Semarapura Kaja itu.

Ditambahkan, ceceran darah sapi itu diyakini sebagai darah kurban untuk menjaga desa setempat. Baik sekala maupun niskala.

“ Intinya menetralkan atau membersihkan alam. Baik parhyangan, pawongan dan pelemahan,” bebernya.

Melihat banyaknya darah yang sudah keluar dari tubuh sapi tersebut, warga setempat pun berebut mengambil darah untuk dioleskan dibagiab tubuh mereka masing masing. Sebagian malah mengusapkan darah sapi ke wajah mereka.  Darah sapi itu dipercaya dapat mengobati penyakit.

Upacara mecaru mejaga-jaga ini menggunakan seekor sapi pilihan. Tidak boleh cacat, sudah dikebiri dan  hanya bisa dipilih oleh keturunan pemangku prajapati, pemangku catus pata, serta pamong dalem.

Warga desa sepakat tidak berani mengubah rentetan tradisi yang sudah diwariskan secara turun-menurun itu. Konon, tradisi itu pernah ditiadakan dengan alasan kesibukan krama melaksanakan upacara ngaben. Ternyata, beberapa orang meninggal di sana. Petani juga gagal panen.

“Sampai sekarang kami tidak berani tak menggelarnya. Ketika tidak dilaksanakan prosesi upacara ini, maka akan terjadi malapetaka,” ujar  Bendesa Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Wayan Sulendra didampingi Petajuh, Komang Karyawan.

Hadir pada upakara penting ini Wakil Bupati Klungkung Made Kasta didampingi Nyonya Sri Kasta. (roni/ bas)

 

Tinggalkan Komentar...