sewa motor matic murah dibali

TABANAN, Balipuspanews.com – Hari ini, Jumat (1/2) adalah hari pertama bulan kedua di tahun 2019. Cuaca di Tabanan cukup cerah. Dibeberapa rumah terlihat dihiasi beragam pernah-pernik yang dominan berwarna merah.

Awak media ini tertarik masuk kesalah satu rumah dibilangan Jalan Mawar, Banjar Gerokgak Gede, Desa Delod Peken, Tabanan. Rumah tersebut milik seorang warga keturunan Tionghoa yang dari beberapa generasi sebelumnya telah berbaur dengan masyarakat disekitarnya sebagai warga Tabanan.

Dengan ramahnya Liem Surya Adinata pemilik rumah tersebut menyambut kedatangan awak media ini. Memang, kami sebelumnya sudah saling mengenal dan seringkali bertemu dan ngobrol ringan dibeberapa pura diserang selatan Gunung Batukau.

Pengusaha telur ayam ini kemudian menceritakan persiapan menyambut tahun baru Imlex yang akan berlangsung dalam hitungan hari.

“Tidak ada persiapan khusus. Hanya memasang pernak-pernik Imlex seperti tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Adapun pernak pernik Imlex yang disebutkannya antara lain berupa lampu hias, lampion, angpao dan simbol shio. Khusus simbol shio, tiap tahun diganti sesuai dengan shio tahun tersebut. Tahun 2019 ini sendiri merupakan tahun yang bershio babi.

Selain memasang pernak-pernik, Liem Surya Adinata beserta seluruh keluarganya juga menyiapkan berbagai keperluan persembahyangan. Dua atau tiga hari sebelum Imlex, dirinya juga ngejot ke tetangga disekitarnya yang berbeda keyakinan.

“Tradisi ngejot ini menjadi tradisi kami sebagai bentuk eratnya persaudaraan warga keturunan Tionghoa dengan umat yang berbeda keyakinan,” sebut Ketua Bidang Pendidikan, Sosial dan Budaya Yayasan Kerta Yasa, Tabanan. Yayasan ini bertangggung jawab dalam pengelolaan Wihara Dharma Cattra atau Kong Co Bio yang berdiri ditengah jantung kota Tabanan.

Sementara Ferianto Chonnie Adinata selaku Ketua Yayasan Kerta Yasa Tabanan menyebutkan, khusus di Wihara Dharma Cattra atau Kong Co Bio, persiapan menyambut tahun baru Imlex telah dimulai pada tanggal 28 Januari lalu. Adapun kegiatannya berupa persembahyangan yang mirip dengan ritual matur piuning bagi umat Hindu Bali.

“Persembahyangan tersebut untuk mengantar Dewa Co Kun Kong (Dewa Dapur) ke langit untuk melaporkan keadaan didunia dalam setahun. Adapun sarananya berupa persembahan manisan, teh dan buah,” jelasnya.

Selanjutnya pengurus wihara menghiasi seluruh areal wihara dengan ratusan lampion yang didominasi warna merah dan ornamen keemasan. Disebutkannya, ratusan lampion tersebut merupakan sumbangan umat.

Berikutnya, sehari sebelum tahun baru Imlex atau pada tanggal 4 Februari nanti, warga keturunan Tionghoa di Tabanan akan kembali mengunjungi wihara. Sejak pagi hingga tengah malam dilakukan persembahyangan untuk menyambut tahun baru Imlex dan seluruh rangkaian Imlex pun usai.

“Tepat ditahun baru Imlex, kami saling mengunjungi keluarga dan berbagi angpao,” imbuhnya.

Seluruh rangkaian Imlex berakhir pada hari Cap Go Meh yang berlangsung pada purnama pertama pasca Imlex atau 15 hari setelah Imlex. Pada hari Cap Go Meh ini warga keturunan Tionghoa kembali melakukan persembahyangan di wihara.

“Ada satu tradisi yang selalu ada pada hari Cap Go Meh di Wihara Dharma Cattra, yakni adanya sajian makanan berupa lontong Cap Go Meh,” sebutnya.

Mau tahu nikmatnya cita rasa lontong Cap Go Meh dan indahnya menikmati lontong tersebut dalam kebersamaan? Baik Liem Surya Adinata maupun Ferianto Chonnie mengundang awak media ini untuk hadir pada hari Cap Go Meh. Adakah pembaca setia www.balipuspanews tertarik ikut menikmati? (rah/bpn/tim)

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here