Simbolik wiku (google ilustrasi)
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

Teknologi, balipuspanews.com – Kemajuan teknologi komunikasi sedemikian pesat belakangan ini, dia mampu mendekatkan yang nun jauh di seberang sana, namun pada sisi lain, tak sedikit yang dekat malah menjadi semakin jauh. Bahkan akibat saking larutnya dengan “dunia maya”, tak jarang seseorang malah abai dengan yang disekelilingnya. Phubbing, demikian istilah kerennya disebut.

Dalam fanspage facebooks bali bhumi banten dijelaskan tidak saja melanda manusia kebanyakan, pesatnya teknologi komunikasi juga dinikmati oleh beliau manusia suci hindu, para Wiku, Sulinggih.

Di media sosial misalnya, tak sedikit bisa ditemukan akun-akun digawangi oleh oknum Wiku, segala kegiatan beliau yang kita sucikan dengan mudah disaksikan, mulai dari foto selfie sedang “muput” upacara lengkap dengan bajeranya, jalan-jalan ke pantai, tenggelam dalam ritus agni hotra, berkumpul merayakan ulang tahun di restoran, atau jalan-jalan disebuah mall seperti yang pernah dilihat oleh seorang sahabat, bahkan sampai dukung-mendukung dalam perhelatan Pemilu Kada, semua tampak alami dilakukan seperti manusia kebanyakan, tak ada batas beliau Wiku, tak ada bahasa beliau adalah Dewa Sekala, Tuhan yang mewujud nyata, beliau sama seperti saya, anda dan kita semua, manusia.

Dari fenomena ini, lantas muncul pertanyaan-pertanyaan, apakah layak beliau yang notabena disebut “maraga putus” masih larut dalam pola hidup seperti manusia kebanyakan? Masih patutkah beliau semua disebut sebagai Wiku, Dewa nyekala yang semestinya mengambil tugas sebagai penyirna gelapnya batin kebanyakan kita? Bila polah beliau memang tak patut, apa yang lantas kita perbuat?

Aywa wimarga sake kabhujangganya, demikian Siwa Sasana pernah menegaskan, dimana seorang Sadhaka diharuskan selalu mampu melaksanakan segala dharma kawikuan, kewajibannya sebagai surya, penerang jagad, serta tak menyimpang dari tata tertib. Lantas, bila kita dihadapkan pada situasi itu, menemukan perilaku menyimpang dari oknum Wiku, tindakan apa yang mesti diambil?

Perlu kita sama-sama catat, kalaupun seorang Sadhaka sampai keliru dalam laku hidupnya, lempas sasana, tak setia lagi kepada dharmanya, selain Guru Nabe, tak seorangpun berhak menasehati beliau, logikanya, tak ada manusia yang menasehati dewa, hanya dewa yang bisa menasehati dewa.

Maka darinya, hanya Sang Guru Nabe yang merupakan pembimbing sekaligus posisinya lebih tinggi dari murid berhak dan harus menuntun kembali sang murid agar kembali pada dharmanya sebagai Wiku.

Di sisi lain, dari situasi ini kita bisa memperoleh berbagai pelajaran, bahwa menjadi Wiku bukanlah dharma yang gampang, dia bukan sekedar berbicara diksa, lebih-lebih diksa massal, bukan juga sekedar penghargaan dari masyarakat sebagai manusia suci, bukan juga sekedar gagah-gagahan apalagi berebut nama klan, keturunan brahmana, namun menjadi Wiku adalah bagaimana menyirnakan kegelapan batin sendiri, untuk kemudian dengan rendah hati berbagi kepada segenap alam, menerangi segala kegelapan, maka tak keliru jika salah satu gelar wiku adalah Bujangga, Boja adalah sinar terang yang memancar dari badannya, angga. Bujangga adalah Dia yang dengan kecemerlangan batin mampu menerangi kegelapan batin bagi semua mahkluk, menerangi dengan pengetahuaanya, menerangi dengan tutur kata serta perilakunya.

Semogalah semua Wiku dalam keadaan sehat, semogalah para Wiku tetap dalam dharmanya sehingga segela bentuk kegelapan ini sedikit demi sedikit disirnakan. (bhumi bali banten/bpn/tim)

Advertisement

Tinggalkan Komentar...