Wisata agrikultur jambu kristal
Wisata agrikultur jambu kristal
sewa motor matic murah dibali

TABANAN, balipuspanews.com – Wisatawan yang berkunjung di DTW Jatiluwih, Penebel selama ini bisa disebut disuguhi menu wisata yang monoton. Yakni menikmati hamparan pesawahan yang pesonanya memang memukau.

Namun seiring perjalanan waktu, menu-menu aktivitas baru mulai tersedia. Misalnya dengan menu aktivitas wisata petik buah jambu. Seperti pada wisata agrikultur jambu kristal.

Aktivitas tersebut berlokasi Banjar Uma Kayu, Gunung Sari, Jatiluwih. Lokasi ini ditempuh dari loket timur Jatiluwih (Desa Gunungsari) belok kanan melalui jalan menanjak dengan pemandangan hamparan pesawahan yang asri dan menjanjikan kesegaran mata dan batin.

Sekitar empat ratus meter dari jalan masuk tadi, ditemui pekampungan yang diselimuti kehijauan alam lereng selatan Gunung Batukaru. Itulah Banjar Uma Kayu, salah satu banjar pakraman di Gunung Sari, Desa Jatiluwih.

Baru-baru ini I Gede Sukayasa selaku pemilik tempat wisata agro jambu kristal di Uma Kayu mengatakan kepada awak media bahwa wisata petik buah jambu kristal ini mulai dikunjungi wisatawan sejak sekitar empat bulan lalu. Sebelumnya ia tidak berpikir usaha berkebunnya ini dilirik wisatawan.

Sukayasa menuturkan, saat ini dilahan seluas dua hektar yang dikontranya tersebut tumbuh subur 2.000 pohon jambu kristal.

“Selain jambu kristal, disini juga ada jenis jambu sukun merah dan jambu mutiara,” ungkap pemilik nama akrab Pak Gede Sotong ini.

Sukayasa menambahkan usaha bercocok tanam jambu kristal ini dirintisnya sejak dua tahun lalu. Jenis jambu kristal ini bisa dipanen hampir tiap hari. Sehingga setiap tamu yang berkunjung dipastikan bisa memetik sekaligus menikmati kesegaran jambu kristal di kebunnya.

Putra Tabanan asal Desa Sekartaji yang juga seorang PNS disalah satu instansi di Pemkab Badung ini menambahkan, setiap wisatawan yang berkunjung dikebunnya dikenakan biaya masuk 10 ribu ribu rupiah dan bebas memetik serta menikmati langsung dilokasi.

‘Apabila ingin dijadikan oleh-oleh, pengunjung dikenakan biaya 10 ribu rupiah per kilo gramnya,” jelasnya.

Diakuinya, saat ini jumlah pengunjung perhari cukup tinggi. Minimal 50 orang dan pada hari-hari tertentu bisa lebih dari seratus pengunjung. Selain wisatawan lokal, rata-rata pengunjungnya dari wisatawan asing, khususnya wisatawan Eropa.

Lebih jauh lagi Sukayasa mengatakan, melihat animo wisatawan kedepan ia akan menambah berbagai wisatawan. Seperti swing atau ayunan, warung kopi, tempat swafoto dan berbagai fasiltas lain. Tujuannya untuk mendukung semakin ramainya kunjungan wisata di DTW Jatiluwih dengan semakin beragamnya aktivitas wisata di kawasan wisata yang dikenal dengan panorama pesawahan dan keasrian alam lereng gunung Batukaru tersebut. (rah/bpn/tim)