Selasa, Juli 16, 2024
BerandaLifestyleKesehatanWujudkan Indonesia Emas 2045, dr. Sumarjati Arjoso: Optimalkan pelaksanaan permasalahan kependudukan

Wujudkan Indonesia Emas 2045, dr. Sumarjati Arjoso: Optimalkan pelaksanaan permasalahan kependudukan

JAKARTA, balipuspanews.com – Penanganan masalah kependudukan sangat penting dilakukan, karena pembangunan harus berwawasan kependudukan. Hal ini sesuai amanat  pembukaan Undang Undang Dasar 1945, yang antara lain menandaskan tercapainya kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu dikemukakan dr. Sumarjati Arjoso, SKM, beberapa waktu lalu, di kediamannya di Jakarta. Pernyataan Kepala BKKBN Pusat (2003-2006) itu disampaikan saat dimintai komentarnya terkait momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 Tahun 2024 yang peringatannya jatuh pada 29 Juni.

Sumarjati menilai pelaksanaan permasalahan kependudukan masih harus lebih dioptimalkan agar cita-cita Indonesia Emas di 2045 dapat terwujud, ditandai dengan banyaknya keluarga berkualitas.

Namun demikian, untuk program KB, Sumarjati memberikan nilai tersendiri. “Kalau yang dicapai BKKBN sekarang sudah bagus. Total Fertility Rate (TFR) 2,14, Age Specific Fertility Rate/ ASFR 15-19 tahun turun. Kemudian  program-program berjalan. Termasuk percepatan penurunan stunting,” ujar Sumarjati.

Ia kembali menandaskan bahwa dalam pembinaan keluarga, program yang dikembangkan BKKBN sangat bagus. Ada  kelompok kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKL), dan Bina Keluarga Lansia (BKL).

Melalui program Tribina tersebut, BKKBN melakukan intervensi terhadap pemberdayaan keluarga sejak awal  hingga menjelang akhir kehidupan manusia.

Walau memberikan catatan baik terhadap ketiga program yang dikembangkan oleh BKKBN itu, Sumarjati mengingatkan bahwa dalam implementasinya harus lebih dioptimalkan dan dipertajam. Pasalnya, ia masih melihat pergerakan program masih bergulir di tingkat pusat. Lebih khususnya adalah pelaksanaan  program BKL di tingkat lapangan.

BACA :  Pria Paruh Baya di Jembrana Ditemukan Gantung Diri di Rumahnya

“Di era saya dulu hingga sekarang ada berapa banyak keluarga yang ikut kegiatan Bina Keluarga Lansia,” ungkap Sumarjati setengah mengeluhkan perlunya perjuangan ekstra untuk itu. Apalagi trend dewasa ini yang menunjukkan semakin banyaknya lansia akibat naiknya usia harapan hidup penduduk Indonesia.

Upaya menggulirkan program yang dipanggul BKKBN memang tidak mudah. Apalagi dewasa ini di mana koordinasi antar instansi tidak semudah era sebelumnya. Hal ini menyebabkan capaian program berbeda antar wilayah. Untuk itu, sesuai kebutuhan zaman, dikembangkan intervensi spesifik antar wilayah sesuai kearifan lokal.

Memberikan catatan atas capaian program, Sumarjati menjelaskan beberapa indikator yang harus ditingkat-optimalkan. Yakni, sektor pendidikan yang diklaim Sumarjati  tertinggal dari Vietnam,  produktivitas yang masih jauh banget. Income perkapita kita seperlimanya Singapura,” urai Sumarjati.

“Memang Gross Domestic Product (GDP)/Produk Domestik Bruto (PDB) itu jika  besar penduduknya besar (pula GDP). Tetapi kalau dilihat, kemiskinan masih 9,6% sampai 10% dari 275 juta penduduk Indonesia saat ini,” tutur Sumarjati.

Untuk itu, Sumarjati berharap para pejabat seharusnya lebih banyak turun ke lapangan, melihat langsung apa yang terjadi di masyarakat. Sehingga bisa mengetahui dengan pasti bahwa jurang perbedaan antara masyarakat miskin dan kaya semakin melebar.

BACA :  Kalahkan Inggris 2:1, Spanyol Juara Euro 2024 

Sumarjati menegaskan, penanganan masalah kependudukan tidak bisa berjalan sendiri atau ditangani satu sektor. “Semua harus lintas sektor dan harus dengan prinsip ‘good governance’, pemerintahan yang baik, yang bebas atau sedikit sekali korupsi,” cetus Sumarjati, seraya mencontohkan Selandia Baru sebagai negara kecil berkategori paling bahagia di dunia.

Wanti-wanti Sumarjati itu dikemukakannya mengingat dewasa ini Indonesia tengah berbenah untuk menuju Indonesia Emas di 2045. Artinya, Indonesia bakal sejajar dengan negara maju di dunia. “Yang unggul, sehat, produktif, mampu bersaing, penduduknya sejahtera, kemiskinan bisa diatasi, dan pemerintahan yang baik,” tuturnya.

Lebih lanjut dr. Sumarjati mengulik keberadaan generasi bangsa saat ini. “Generasi Z  sekarang jumlahnya 24,33 juta. Dari data BPS, 9,9 persen Generasi Z tidak sekolah dan tidak bekerja. Bila mereka  kemudian menikah, bisakah menjadi keluarga berkualitas. Padahal  mereka akan menjadi pelaku utama di era Generasi Emas tahun 2045,” ungkap Sumarjati menyampaikan kegelisahannya.

Walau gelisah, ia tetap optimis, khususnya bila bersandar pada program makan siang gratis atau makan pagi gratis yang akan menjadi salah satu program unggulan pemerintahan mendatang.

BACA :  Bupati Sanjaya Hadiri Rangkaian Pengelukatan Banyu Pinaruh di Pantai Yeh Gangga dan Pantai Abian Kapas

“Bagus sekali itu, bisa meningkatkan kualitas anak-anak. Mereka bisa belajar lebih baik, kemudian makin rajin sekolah. Tidak ada yang putus sekolah. Kualitas pendidikan makin baik. Sehingga kita betul-betul  siap  menuju Generasi Emas di 2045,” ujarnya.

Terkait stunting yang trennya  semakin turun di sejumlah daerah, Sumarjati mengingatkan pentingnya menyusui bayi dengan benar. “Kenapa zaman dulu kok bisa pinter-pinter, ya karena orang tua memperhatikan anaknya dengan menyusui terus menerus,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Sumarjati, menjadi penting intervensi di 1000 Hari Pertama Kehidupan. Mulai dari ibu hamil harus cukup gizi, pentingnya remaja putri minum tablet tambah darah. Lalu, bayi lahir harus menyusui, dalam agama Islam diterangkan sampai usia bayi dua tahun, dan diberi makanan tambahan pendamping ASI.

Menurut pandangan Sumarjati, sebaiknya pemerintah memgembangkan program pencegahan stunting. “Kalau sekarang ini terus mencari anak-anak yang stunting yang kemudian  diintervensi, memang masih bisa menolong. Tapi harusnya dicegah, bukan setelah stunting baru diatasi. Bahkan sebelum hamil sudah diatasi,” papar Sumarjati.

Ia berharap kader yang menangani stunting di lapangan, seperti Tim Pendamping Keluarga dan Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PKB/PLKB), memperoleh pemahaman-pemahaman itu.

Penulis/editor: Ivan Iskandaria.

RELATED ARTICLES

ADS

- Advertisment -

Most Popular