Beranda Opini Anda Yadnya dan Ketergantungan Bahan Upakara dari Luar Bali

Yadnya dan Ketergantungan Bahan Upakara dari Luar Bali

Penulis : Ki Tambet/ Ngurah Arthadana

OPINI ANDA, balipuspanews.com – Meyadnya. Demikianlah rutinitas yang masih sangat gigih dilakukan umat Hindu di Bali dalam menjalankan keyakinannya sebagai pemeluk Hindu. Rutinitas yadnya seakan begitu menyatu dengan hembusan nafas masyarakat pulau yang dulunya bernama Wanoa Wangsul dan Nusa Wali.

Perhelatan suatu yadnya yang terklasifikasi menjadi lima jenis atau disebut dengan Panca Yadnya tidak bisa dipisahkan dari penggunaan upakara atau sarana bebantenannya. Baik upakara dengan tingkatan nista (paling sederhana), madya (menengah), maupun utama (tingkatan paling besar). Apapun pula tingkatan yadnya yang digelar, tentu penggunaan upakara menjadi sarana penting dan utama. Sangat jarang terjadi yadnya yang digelar minim upakara dan sebaliknya yadnya terkesan terlihat “hidup” dengan bersoroh-soroh upakara.

Dalam kekinian, masyarakat Hindu Bali yang ingin beryadnya telah banyak kemudahan untuk mendapatkan upakara maupun sarana upakara. Baik sarana satuannya misalnya untuk mendapatkan semat, janur, selepahan, pisang dan sebagainya. Atau untuk mendapatkan bahan baku jadi seperti sok daksina, tamas dan sebagainya. Hingga mudahnya juga mendapatkan sarana upakara yang sudah jadi. Seperti upakara atau banten ngotonin, melaspas, ngaben maupun bebantenan lainnya. Mudahnya mendapatkan sarana upakara hingga upakara “siap saji” ini tentu harus dengan kekuatan pasti. Yakni, kekuatan finansial.

Memang ditengah kemajuan jaman, waktu yang semakin berharga dan semakin tingginya tingkat konsumtif masyarakat juga berpengaruh pada pola hidup masyarakat Hindu di Bali dalam beryadnya. Salah satunya dengan semakin melemahnya budaya matulungan dan gotong royong. Termasuk dalam membuat upakara. Sangat umum terjadi dimasyarakat, untuk menyukseskan yadnya yang digelar, upakaranya didapat dengan cara membeli atau nunas disuatu griya.

Tentu nunas ini tidak dengan cuma-cuma, tetapi dengan cara numbas atau dengan cara membeli. Tidak jarang, karena pentingnya sarana upakara atau bebantenan dalam beryadnya, harga jual dari “nunas” banten menjadi tinggi.

Tidak sedikit umat kemudian mengeluh karena mahalnya biaya upakara sehingga umat maupun orang luar tidak sedikit yang memberikan penilaian bahwa beragama Hindu di Bali biayanya mahal. Tentu menjadi sesuatu yang terdengar miring dan miris, beragama yang sejatinya dilandasi ketulus ikhlasan justru diwarnai keluhan. Ya, keluhan dari mahalnya biaya upakara atau tingginya biaya untuk meyadnya.

Seperti yang telah disebutkan diatas, tingginya tingkat konsumtif masyarakat Hindu di Bali juga sangat terlihat dari caranya memenuhi kebutuhan sarana meyadnya seperti untuk mendapatkan busung, semat, selepahan, pisang, buah-buahan dan sarana-sarana lainnya. Yakni dengan cara membeli.

Lucunya sarana yang dibeli tersebut kebanyakan dijual orang luar yang beda keyakinan dengan semeton Hindu Bali. Demikian juga produk yang dibelinya itu juga bukan produk lokal melainkan produk-produk dari luar Bali.

Bahkan upakara yang dijual oleh sebagian griya juga menggunakan bahan baku import. Terutama bahan baku import dari Jawa.

Tidak saja ketergantungan produk import terutama produk import dari Jawa, teracuninya sebagian masyarakat Hindu Bali oleh gaya hidup konsumtif juga terlihat dari mulai terbiasanya membeli sarana persembahyanhan dari pedagang pendatang yang juga beda keyakinan.

Artinya pedagang pendatang melihat peluang bisnis besar dari sekedar jual canang sari ataupun dari ketergantungan umat Hindu di Bali dengan produk-produk import untuk sarana beryadnya.

Lalu, salahkah produk-produk import sarana upakara dijual bebas pada pasar-pasar di Bali? Atau salah jugakah umat yang beda keyakinan menjual sarana upakara di Pulau Dewata ini? Mari berpikir logis.

Tanpa bermaksud membela kaum pendatang yang menjual sarana upakara, penulis melihat hal ini sangat wajar dalam dunia pasar. Artinya, siapapun bebas menjual apa saja kepada konsumennya. Terlebih penjual tidak menjual dagangannya dengan cara memaksa kepada konsumennya.

Selanjutnya, marilah jujur dengan diri sendiri. Halooo semeton Hindu Bali, dijualnya dengan bebas sarana upakara hingga canang sari diberbagai pasar di Bali mau tidak mau harus diakui sebagai potret nyata bahwa tidak sedikit masyarakat Bali dalam kekinian adalah masyarakat pemalas dan hehe, belog ajum.

Sehingga tidak sempat lagi menanami lahan yang dimilikinya dengan sekedar menanam pisang, kelapa ataupun tanaman lainnya. Justru lahan yang dimilikinya dibangun cafe esek-esek, dibangun perumahan atau bahkan dijual misalnya untuk biaya memperbaiki merajan, biaya ngaben.

Nah yang membeli tanah Bali yang dijual karena untuk biaya perbaikan merajan dan ngaben misalnya tadi, tidak sedikit para pedagang luar yang beda keyakinan yang menjual sarana upakara di Pulau Sorga ini.

Selanjutnya, mari jujur lagi dengan konsepsi Tri Hita Karana. Konsep agung warisan tetua Bali tersebut betapa sangar dalam wacana, sakti mandraguna sebagai pemanis dalam proposal permohonan bantuan dana tetapi gersang, lemah dan kering kerontang dalam pemaknaan maupun realisasinya pada kehidupan nyata.

Mengapa? Bukankah beryadnya salah satunya sebagai bentuk ungkapan syukur umat Hindu di Bali kehadapan Sang Maha Kawi (Parahyangan) atas aungerah keberlimpahan alam dalam menyediakan berbagai kebutuhan hidup umat. Keberlimpahan atas ketersediaan sumber hidup umat ini kemudian menjadikan kehidupan dimasyarakat (Pawongan) menjadi gemuh landuh, shanti dan jagadhita.

Terciptanya kehidupan masyarakat yang shanti jagadhita tadi tentu juga dikarenakan harmonisnya hubungan masyarakat dengan alam (Pelemahan). Menjaga hubungan harmonis dengan alam caranya dengan melestarikan alam itu sendiri dengan gupuh dan urati menanaminya dengan sumber-sumber atau bahan-bahan baku untuk melangsungkan kehidupannya. Termasuk menanami tanah-tanah Bali dengan berbagai tanaman upakara. Sehingga tidak menjadi sesuatu yang sia-sia diselenggarakannya rutinitas yadnya, tetapi maaf keuntungan dari yadnya itu dinikmati para pendatang.

Sementara Bali justru hidupnya semakin terdesak atau bahkan harus transmigrasi mengingat lahan Bali semakin menyempit karena telah dijual untuk biaya ngaben, perbaikan merajan atau hanya untuk sekedar mengikuti gaya hidup. Dan, tanah-tanah itu tidak sedikit justru dibeli kaum pendatang yang beda keyakinan yang menjual sarana upakara di Bali.

Mari lawan kemalasan dan mandiri dalam beryadnya dengan mempersembahkan produk-produk lokal yang dibudidayakan secara mandiri. Mari lawan kemalasan, gaya hidup konsumtif dan sifat belog ajum dengan membiarkan diri beryadnya yang bahan bakunya atau hanya sekedar mendapatkan canang sari harus tergantung dengan orang luar. Mih, Dewa Ratu…., semoga pikiran yang baik datang dari segala arah. (rls/BPN/tim)

Penulis bekerja sebagai juru warta, Wakil Ketua PHDI Tabanan, tinggal di Tabanan

Facebook Comments

Most Popular

Harap Bisa Atasi Permasalahan Air, Gubernur Prioritaskan Pembangunan Bendungan Tamblang

BULELENG, balipuspanews.com - Pembangunan Bendungan Tamblang sudah diresmikan, pada Rabu (12/8/2020), oleh Gubernur Bali I Wayan Koster. Pembangunan Bendungan ini diharapkan bisa mengatasi permasalahan...

Resmi Ditahan, Jrx : Semoga Tidak Ada Lagi Ibu-Ibu Menjadi Korban Rapid Test

DENPASAR, balipuspanews.com - Jrx Superman Is Dead (SID) kembali diperiksa oleh Penyidik Direktorat Kriminal Khusus Polda Bali, pada Rabu, 12 Agustus 2020.Jrx SID diperiksa...

Jerinx SID Resmi Tersangka, Langsung Dijebloskan ke Rutan Polda Bali 

DENPASAR, balipuspanews.com - Setelah dipanggil dan diperiksa sebagai saksi terlapor terkait kasus dugaan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI)...

Budaya Bali, Kunci Pengembangan Pariwisata Medis

DENPASAR, balipuspanews.com - Wacana pariwisata medis bergulir sejak sepuluh tahun lalu di Bali dan berkembang secara alamiah. Kini dengan hadirnya Indonesia Medical Tourism Board...

Recent Comments

Facebook Comments