sewa motor matic murah dibali

Kedua tangan Ketut Wirjana (44) terlihat terampil dan cekatan menyusun lintingan koran dihadapannya. Dengan kepiawaian yang dimilikinya, satu per satu lintingan koran itupun kemudian ditempelkan, lalu dibentuk melingkar. Kurang dari satu jam, belasan kertas koran bekas itupun sudah terbentuk jadi sebuah karya unik nan klasik.

Singaraja, balipuspanews.com – Koran bekas di tangan Ketut Wirjana disulap menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi. Praktis pundi-pundi rupiah pun mengalir ke kantong pria warga Banjar Dinas Kelod Kangin, Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng.

Aneka kerajinan koran bekas karya Yan Dauh

Ide Wirjana terjun menekuni kerajinan koran bekas lahir pada enam bulan lalu, tepatnya pada 20 Desember tahun 2016.

Awalnya, ia sempat ragu dan khawatir hasil produksi kerajinan koran bekas itu nantinya tidak mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat.

Tanpa diduga, beragam hasil kerajinan tangan unik khas Bali berbahan baku koran bekas seperti kempu, kopok (tempat tissue, permen, pensil) bokor juga tas dilirik, dan menarik perhatian konsumen.

“Sempat ragu, namun setelah salah satu produk kerajinan itu laku, jadi semangat. Produk kempu sebuah alat yang digunakan untuk menaruh bingkisan di saat kundangan upacara pernikahan, kematian dalam Agama Hindu terjual pertama kali seharga Rp 100 ribu,” ujarnya saat ditemui di kediamannya belum lama ini.

Sejak itu, dibantu istri dan keempat anak-anaknya, ia pun setiap hari mulai mengumpulkan koran bekas di sekitar tempat tinggalnya.

“Biasanya keliling dulu ke tetangga meminta koran yang sudah tidak dipakai. Kadang juga beli, harga koran bekas per kilo Rp 6 ribu,” terangnya.

Proses penggarapan satu kerajinan dari koran misalnya kempu, kata Yan Dauh bisa membutuhkan sekitar 20 lembar koran bekas, lem fox, serta lem G.

Pertama, satu lembar kertas koran dipotong terlebih dulu menjadi beberapa bagian, lalu dilinting, selanjutnya di lingkarkan sebelum di lem.

Setelah di lem, lanjut pada proses pengeringan yang membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam. Setelah itu barulah koran tersebut dibentuk seperti tali dan dililitkan pada media mal tudung kipas angin.

“Proses pengeringan kerajinan ini, kalau musim panas cukup satu hari saja, tapi kalau musim hujan bisa lebih dari satu hari tergantung dari cuaca. Kerajinan koran ini juga tahan air jadi enggak perlu takut rusak atau luntur,” imbuhnya.

Hasil karya seni Yan Dauh, sapaan akrabnya, dibanderol dengan harga bervariasi tergantung tingkat kesulitannya, mulai dari yang termurah Rp 50.000 hingga Rp 500 ribu.

Bermodal koran bekas, Yan Dauh pun mulai memamerkan hasil karyanya dalam dalam ajang lomba desa tingkat Kabupaten, dimana Desa Bondalem ditunjuk menjadi duta Kecamatan Tejakula dalam ajang lomba yang diselenggarakan beberapa minggu lalu.

Kempu dan Kopok berbahan dasar koran bekas

“Senang sekali, pertama kali saya ikut pameran di ajang lomba desa tingkat Kabupaten. Syukur dan bangga, Pak Camat Tejakula memesan satu kopok buatan saya,” beber Yan Dauh.

Boleh dibilang, Yan Dauh adalah orang pertama kali di Desa Bondalem, Buleleng yang memanfaatkan kertas koran menjadi karya yang bernilai ekonomi sehingga dia mampu menafkahi kebutuhan keluarganya.

Namun, pemasaran yang dilakukan masih terbilang klasik, belum memanfaatkan teknologi dan jejaring sosial.

“Tidak paham gimana caranya promosi hasil karya di jejaring sosial. Selama ini, hasil karya tangan ini laku hanya dari mulut ke mulut saja,” pungkasnya.

TINGGALKAN PESAN

Please enter your comment!
Please enter your name here