Siklus kehidupan
Advertisement
download aplikasi Balipuspanews di google Playstore

MutiaraTatwa, balipuspanews. com – Bagi yang hidup kematian adalah pasti, dan kelahiran adalah tentu. Hal tersebut merujuk pada maksud bahwa kelahiran sangat bergantung pada karma atau perbuatan ketika manusia menjalani kehidupan.

Penulis : I Ketut Sandika

Dengan kata lain, bagi mereka yang hidup, kematian adalah pasti dan mereka yang berpengetahuan kematian adalah jalan memutus kelahiran kembali, sebab mereka sudah menemukan pembebasan dirinya hingga manunggal dengan badan bhatara.

Sejatinya dalam Siwa Tattwa, kemanunggalan inilah sebagai tujuan akhir dan sepantasnya dicari bagi mereka yang menghendakani nikmat Paramasunya (baca: kebahagiaan abadi).

Kemudian untuk sampai pada itu, hal pertama yang mesti dipahami adalah kenapa kelahiran itu harus ada dan kenapa manusia harus berada dalam siklus kelahiran, hidup dan mati yang menyebabkan samsara (penderitaan)? Pertanyaan inilah yang ditanyakan pula oleh Bhagawan Wrhaspati kepada Bhatara Iswara di puncak Gunung Kailasa dalam teks Wrhaspati Tattwa.

Pertanyaan yang mendasar sesungguhnya bagi kita yang berkeinginan untuk menyelami jalan Siwa sebagai jalan untuk menemukan makna sejati dari kehidupan.

Lantas, kenapa pertanyaan ini harus ditanyakan? Sebab hakikat kelahiran menjadi hal yang prinsif untuk diketahui untuk bekal jalan pulang nanti. Ajaran Siwa memberikan sebuah kunci rahasia, bahwa untuk dapat pulang dengan baik, maka hendaknya diketahui jalan kelahiran (kedatangan) kita di alam mayapada ini. Bagaimana kita pulang ke rumah tua, ketika kita tidak mengetahui jalan untuk kita kembali pulang. Oleh karenanya, hakikat kelahiran menjadi manusia inilah menjadi topik investigasi yang menarik didiskusikan oleh Bhatara Iswara dengan Bhagawan Wrhaspati.

Sejatinya kelahiran sekarang atau dalam setiap kelahiran adalah terhubung dengan kelahiran-kelahiran sebelumnya. Ada sesuatu yang menghubungkan kita dengan kehidupan sebelumnya, sehingga kehidupan kita sekarang erat kaitannya dengan kehidupan di masa lalu.

Sebagaimana hal tersebut dijelaskan dalam sebuah konsep yang mendasar dari ajaran Budhisme, yakni “tatanan sebab-akibat”. Sebab akan mendatangkan akibat, dan akibat didahului oleh sebab. Akibatnya ada asap pasti disebabkan ada api, sehingga ada ketergantungan antara kelahiran sekarang dengan kelahiran sebelumnya.

Dalam Siwa Tattwa, hal tersebut dijelaskan dengan konsep karma, yakni setiap tindakan akan mendatangkan reaksi. Kemudian karma memunculkan kesan atas reaksi tersebut, dan diri sendirilah yang melakukan penikmatan atas segala reaksi yang kita lakukan.

Semua terhubung melalui jala kehidupan. Melalui ajaran dari Siwa Tattwa inilah sejatinya kita akan terhubung dengan pusat jala, yakni sumber kalahiran. Sumber kalahiran yang dimaksud tentunya adalah asas mendasar dari penciptaan yang disebut dengan Paramakarana, yakni Bhatara Siwa sebagai sebab dari segala musebab keberadaan ini.

Oleh karenanya, sejatinya kelahiran disebabkan oleh karma yang memunculkan reaksi dan membekas dalam diri yang kemudian dinikmati dalam berbagai kelahiran secara siklik.

Hal inilah dalam Siwa Tattwa disebut sebagai Yoni sebagai dasar kelahiran manusia. Yoni merupakan asas kelahiran manusia yang dimaknai sebagai bekas-bekas perbuatan atau wasana karma yang menempel pada diri dalam setiap kelahiran.

Wasana karma inilah dibuatkan sebuah metafora yang menarik dalam teks Siwa Tattwa, seperti ingu cendana yang menempel pada periuk, dan bau wangi cendana tidak akan dapat hilang kendatipun sudah dicuci dengan air, sebab bau pada cendana meresap pada periuk. Pun demikian, bekas-bekas dari perbuatan akan menempel dalam diri meskipun tubuh fisik mengalami kehancuran, sebab bekas dari segala perbuatan tersebut menempel pada lapisan badan memori (manomayakosa).

Dengan demikian, wasana karma inilah yang melahirkan yoni yang beragam. Dan, semua itu disebabkan oleh reaksi dari karma yang beragam dilakukan manusia dalam bertindak, berkata dan berpikir. Mereka yang selama hidupnya cenderung memupuk perilaku keraksasaan, maka dalam kelahiran selanjutnya akan berbekal Raksasa Yoni.

Demikian pula sebaliknya, mereka yang selama hidupnya menabur kebaikan dan welas asih, meskipun masih ada keinginan untuk mendapatkan pahala kebaikan, maka dalam kelahiran selanjutnya mereka berbekal Dewa Yoni.

Pun demikian ada banyak yoni-yoni yang lainnya sebagai dasar dari setiap kelahiran manusia.

Inilah sesungguhnya jawaban dari pertanyaan, mengapa manusia dilahirkan berbeda, dan pertanyaan yang sering muncul adalah kenapa kita sudah berbuat baik tetapi masih saja menemukan penderitaan? Jawannya adalah kembali pada yoni sebagai dasar kelahiran manusia. Yoni inilah yang mesti dinikmati sebagai proses karma tersebut berjalan. Kebanyakan dari kita melihat kehidupan secara pesimistis.

Padahal kehidupan terus berlangsung selama Sang Atma belum menyatu dengan Sang Paramatma. Jadi selama kehidupan berlangsung inilah kita diberikan waktu untuk menyadari dasar kelahiran dan membentuk yoni yang lebih baik dari sebelumnya melalui perilaku.

Kendatipun penderitaan kita dapatkan, ketika kita sudah berbuat baik, dan itu hanyalah sebuah proses untuk kita menjalani karma. Perbuatan baik yang kita lakukan, kendatipun mendatangkan penderitaan mesti dijalani dengan baik, sebab perbuatan baik yang kita tabur sekarang akan melahirkan tunas pohon kebaikan yang buahnya kita bisa nikmati dalam kehidupan-kehidupan selanjutnya. Kehidupan ini bukan saja berlangsung di kehidupan sekarang tetapi akan terus berlanjut dalam kehidupan-kehidupan berikutnya. Itupun mesti diputus dengan pramana atau cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, sehingga rantai samsara dapat diputus dan leburlah diri dengan Bhatara Paramasiwa sebagai sunyaning sunya (melampaui kekosongan).

Berkenaan dengan itu, pesan tentang makna kelahiran dalam Siwa Tattwa adalah mengarahkan kita pada sebuah pemahaman tentang “diri” sebagai pusat dari karma. Dalam arti sederhananya, dirilah sebagai pelaku dan diri pulalah sebagai penikmatnya.

Pun demikian, diri inilah yang memnetukan kelahiran kita, entah mencapai puncaknya atau kembali merosot ke dalam siklus kelahiran, kehidupan dan kamatian.

Dengan demikian dirilah yang menentukan yoni itu, dan akan bagaimana pengalaman kita nanti sangat ditentukan dalam kehidupan sekarang. Mungkin ini kita tidak sadari sepenuhnya, tetapi demikianlah yoni itu melekati diri sebagai dasar dari setiap kelahiran manusia.

Ong rahayu

Advertisement

Tinggalkan Komentar...