YPLP PGRI Badung Dorong Kerja Sama Pertukaran Guru dan Siswa dengan Thailand

Kepala YPLP Kabupaten PRGI Badung Made Gde Putra Wijaya (tengah) saat kunjungan di Thailand.
Kepala YPLP Kabupaten PRGI Badung Made Gde Putra Wijaya (tengah) saat kunjungan di Thailand.

ABIANSEMAL, balipuspanews.com-
Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) Kabupaten PGRI Badung mendorong realisasi kerja sama SMK dilingkungan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) dengan sejumlah College di Thailand. Kerja sama itu meliputi pertukaran pelajar dan guru, budaya dan teknologi.

Ketua YPLP Kabupaten PGRI Badung Made Gde Putra Wijaya menjelaskan,
agenda kerjasama ini dilakukan ketika YPLP kabupaten PGRI Badung berkunjung ke Thailand dari tanggal 17 hingga 22 Juni lalu.

Adapun kegiatan pertemuan bilateral ini untuk melakukan perjanjian nota kesepahaman (MoU) kerjasama pertukaran guru dan siswa, yang akan dijalani beberapa siswa dan guru untuk belajar disana dan lebih pentingnya mendapat pengetahuan vokasional yang ada di lembaga pendidikan di Thailand.

“Kita telah menandatangani perjanjian itu di Thailand. Thailand akan membalas kunjungan kita, mereka nanti akan datang ke Bali. Pertukaran nanti sudah disepakati masing- masing sekolah membawa 2 orang guru dan 2 orang siswa. Bahkan dari pertemuan itu sudah langsung dipasangkan dengan College atau SMK di empat provinsi yaitu Songklar, Pattani, Narathiwat, dan Sungai kolak yang terdiri dari 18 SMK.

Dikatakan Wijaya, dalam kunjungannya ke Thailand bersama- sama dengan rombongan berjumlah sembilan orang terdiri dari tiga kepala sekolah, empat guru dan dua orang staf pegawai, yang nanti mendukung kegiatan pertukaran guru dan siswa dengan Pattani College.

Perbedaan, lanjut Wiijaya, dengan penerapan sistem pendidikan antara Indonesia dengan di Thailand, tentu dari kunjungan ini dirinya ingin mengadopsi soal kualifikasi jenjang pendidikan. Negara Thailand menerapkan pola 3, 2, tiga tahun belajar di SMk dan 2 pendidikan Vokasi ini dilakukan dalam satu lokasi.

Lebih jauh Wijaya mengungkapkan sistem pendidikan diluar mengedepankan sistem vokasi atau keterampilan, bukan akademik.

“Disana pemerintah mendorong anak-anaknya melanjutkan ke pendidikan College, agar menjadi tenaga terampil atau tenaga tinggi yang duduk dunia industri misalnya,” imbuh Pria asal Desa Gerih, Kecamatan Abiansemal, Badung.

Diera 4.0 dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), sudah saatnya sistem pendidikan vokasional diterapkan di Indonesia, khususnya di Bali, mengingat pendidikan SMK yang merupakan sekolah menengah kejuruan lebih kepada praktek guna mencetak tenaga handal yang ahli dibidangnya.

“Kita disini berbeda dengan jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, kementeriannya berbeda. Dengan diberlakukannya MEA suka tidak suka, mau tidak mau harus masuk atau mengarah kesana. Tentu peningkatan kualifikasi dan peningkatan kualitas akan meningkatkan kompetensinya,” Wijaya Memungkasi.

Sementara Gusti Ketut Sudarsana mengatakan penghormatan terhadap dunia pendidikan di Thailand sangat luar biasa. Pendidikan College atau keterampilan juga sangat didorong.

“Kita disana disambut langsung oleh Gubernur Thailand. Mudah-mudahan kita nanti bisa melakukan hal yang sama. Kita Ingin tiru sistem disana, walaupun sementara ini baru sebatas support. Pemerintah juga diharapkan hadir memfasilitasi dan jangan dipersulit,” jelas Kepala Sekolah SMK PGRI 2 Badung.

Dikatakan Sudarsana, pertukaran guru penting, dengan pertukaran ini bisa saling mengetahui budaya satu sama lain. (bud/bpn/tim).