Karangasem, balipuspanews.com –Keseriusan Pemerintah Kabupaten Karangasem dibawah pimpinan Bupati IGA Mas Sumatri bersama Wabup I Wayan Artha Dipa dalam membangun Karangasem sesuai tag line “Karangasem the Spirit of Bali” kini diwujudkan dengan langkah membangun pasar Yadnya Desa Singarata, Kecamatan Rendang, Karangasem hal tersebut disampaikan pada saat melaksanakan Audiensi di Ruang Transit Bupati Karangasem, Senin (29/5).
Pada saat memimpin audiensi Bupati Karangasem bersama Dinas Pertanian, Dinas Kebudayaan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Anggota inti KTNA (Kelompok Tani Nelayan Andalan), meminta agar pasar yang memiliki luas sekitar 24 Are tersebut, yang dulunya mangkrak kini harus di optimalkan kembali penataannya.
Nantinya pasar tersebut akan dirancang sedemikian rupa sehingga benar -benar memberikan kontribusi buat masyarakat setempat, selain itu Bupati juga ingin pasar tersebut nantinya selain menjadi penunjang taman Tuhan atau tanaman bunga gumitir dan bunga kasna sebagai icon Kecamatan Rendang, juga untuk menjual sarana upakara dan upacara lengkap untuk masyarakat Hindu utamanya para pemedek yang akan tangkil ke Pura Besakih. Ini merupakan Sebagai langkah awal memperkenalkan keberadaan Pasar Yadnya kepada masyarakat sekitar, pemerintah memang sudah menginstruksikan beberapa OPD terkait melakukan terobosan-terobosan.
“Perlu diketahui sarana upacara agama yang dijual di Pasar ini tarifnya lebih murah serta dibuat secara khusus oleh masyarakat Karangasem, Salah satunya dengan mendayagunakan hasil kerajinan tangan warga Desa Munti Gunung dengan kreasinya membuat tamas atau tempat bahan persembahan dasar pandan, ” ujar Bupati Karangasem.
Tidak hanya perlengkapan upacara, pasar ini direncanakan akan menjual souvenir hasil kerajinan dari bahan bunga kasna dan lainnya sebagai oleh-oleh untuk para pengunjung yang datang ke objek wisata di kawasan Pura Besakih.
Ketua KTNA I Wayan Sumarta dalam kesempatan itu menyampaikan, bahwa ada beberapa kendala yang harus segera diselesaikan agar Pasar Yadnya Rendang bisa berfungsi maksimal. Seperti, keberadaan Pasar Tradisional Menanga membuat para pedagang masih enggan pindah ke pasar Yadnya.
“Mungkin kita bisa menentukan pangsa pasar yang jelas dulu untuk target pasar yang ingin kita capai. Kita rancang pasar Yadnya agar memiliki nilai lebih dari pasar-pasar lain disekitarnya.” Kata Sumarta.
Dirinya juga memaparkan bahwa tempat parkir, pintu masuk dan keluar di Pasar Yadnya masih dirasa kurang representatif untuk beberapa jenis kendaraan roda empat dan juga Bus Pariwisata. Hal ini mengurangi rasa nyaman para pembeli yang ingin berbelanja di Pasar Yadnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua KTNA, Kadis Kebudayaan Putu Arnawa, ia menyarankan agar areal parkir Pasar Yadnya bisa ditata lebih nyaman dan difungsikan sebagai rest area untuk para wisatawan serta pemedek yang datang ke Pura Besakih.



